Mengakui dan Meninggalkan Dosa
Ayat Firman
Amsal 28:13-14
“Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi. Berbahagialah orang yang senantiasa takut akan TUHAN, tetapi siapa mengeraskan hatinya akan jatuh ke dalam malapetaka.”
Konteks
Salomo menyatakan salah satu prinsip terdalam dalam hidup rohani: kontras antara menyembunyikan dosa dan mengakui serta meninggalkannya.
Renungan
Salomo menyatakan salah satu prinsip terdalam dalam hidup rohani: siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakui dan meninggalkannya akan disayangi. Ada dua respons terhadap dosa — menutupi atau membuka. Naluri manusia sejak Adam dan Hawa di taman adalah bersembunyi dan menyalahkan, menyembunyikan ketelanjangan dengan daun ara. Hikmat ilahi mengajarkan bahwa penyembunyian dosa justru menghalangi berkat, sedangkan pengakuan yang sejati — yang disertai pertobatan yang meninggalkan dosa — membawa belas kasihan. Penyataan Alkitab dengan konsisten memanggil umat Allah keluar dari kegelapan persembunyian menuju terang pengakuan di hadapan Allah yang penuh anugerah.
Doktrin Reformed memahami pertobatan sebagai karya Roh Kudus yang melahirkan dukacita menurut kehendak Allah, bukan sekadar penyesalan karena ketahuan. Pertobatan sejati selalu memiliki dua sisi: mengakui (mengaku dosa secara jujur di hadapan Allah) dan meninggalkan (berbalik dari dosa itu). Pengakuan tanpa peninggalan adalah kemunafikan, dan peninggalan tanpa pengakuan adalah moralisme. Calvin mengajarkan bahwa pertobatan adalah buah iman yang berlangsung seumur hidup. Orang yang mengakui dan meninggalkan dosanya disayangi bukan karena ia telah memperbaiki diri, melainkan karena ia berlari kepada belas kasihan Allah yang dinyatakan sempurna di dalam Kristus yang menanggung dosa kita.
Di sinilah moralisme harus dibongkar. Moralisme berkata, 'tutupi kelemahanmu, tampillah baik, perbaiki dirimu sendiri.' Tetapi Injil berkata, 'akui dosamu, sebab darah Kristus telah cukup untuk menghapusnya.' Banyak orang menyembunyikan dosa karena takut ditolak, padahal justru penyembunyian itu yang menghalangi pengalaman akan anugerah. Kabar baik Injil adalah bahwa kita dapat mengakui dosa tanpa takut, sebab penghukuman atas dosa kita telah ditanggung Kristus di kayu salib. Pengakuan bukanlah jalan untuk memperoleh penerimaan, melainkan respons terhadap penerimaan yang telah dijamin oleh karya penebusan Sang Juruselamat.
Dalam keluarga, ciptakanlah budaya pengakuan dan pengampunan, bukan budaya penyembunyian. Orang tua, jadilah teladan dengan mengakui kesalahan kalian kepada anak-anak dan kepada Tuhan, sehingga mereka melihat bahwa mengaku dosa adalah hal yang aman dan menyembuhkan. Jangan menciptakan rumah di mana anak-anak takut mengaku karena hukuman yang keras, sebab itu mengajar mereka bersembunyi. Sebaliknya, tunjukkan belas kasihan yang mengundang kejujuran. Latihlah keluarga untuk takut akan Tuhan, yakni hidup dengan hati yang lembut dan peka, bukan hati yang dikeraskan. Dengan demikian rumah tangga kalian menjadi tempat anugerah mengalir melalui pengakuan yang jujur dan pertobatan yang sejati.
Pokok Doa
- 1Memohon pertolongan untuk tidak menyembunyikan dosa melainkan mengakui dan meninggalkannya
- 2Berdoa agar hati keluarga tetap lembut dan tidak dikeraskan
- 3Bersyukur karena dalam Kristus pengakuan kita disambut dengan pengampunan
Bahan Renungan
Mengapa kita sering ingin menyembunyikan kesalahan kita? Bagaimana keluarga bisa menjadi tempat yang aman untuk mengakui dosa?