Tegar Tengkuk dan Pemerintahan yang Benar
Ayat Firman
Amsal 29:1-2
“Siapa bersitegang leher, walaupun telah mendapat teguran, akan sekonyong-konyong diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi. Jika orang benar bertambah, bersukacitalah rakyat, tetapi jika orang fasik memerintah, berkeluhkesahlah rakyat.”
Konteks
Pasal 29 membuka dengan peringatan tentang bahaya tegar tengkuk dan hubungan karakter pemimpin dengan kesejahteraan rakyat.
Renungan
Salomo memperingatkan tentang bahaya tegar tengkuk: orang yang sering ditegur namun terus mengeraskan tengkuknya akan tiba-tiba diremukkan tanpa dapat dipulihkan. Teguran adalah anugerah Allah, kesempatan untuk berbalik sebelum terlambat. Namun hati yang mengeras secara terus-menerus akhirnya mencapai titik di mana penghakiman datang tiba-tiba dan tak terhindarkan. Ayat kedua memperluas pandangan ke ranah pemerintahan: ketika orang benar berkuasa rakyat bersukacita, tetapi ketika orang fasik memerintah rakyat mengeluh. Hikmat ilahi menghubungkan karakter pemimpin dengan kesejahteraan masyarakat, menyatakan bahwa kebenaran dalam kepemimpinan adalah berkat bagi banyak orang.
Doktrin Reformed memahami bahwa pengerasan hati adalah penghakiman yang menakutkan dari Allah atas mereka yang terus-menerus menolak teguran-Nya. Sebagaimana Firaun mengeraskan hatinya dan akhirnya dikeraskan oleh Allah, demikian pula orang yang mengabaikan teguran berulang kali berjalan menuju kebinasaan. Calvin mengingatkan bahwa kelembutan hati untuk menerima teguran adalah karya anugerah, sedangkan tegar tengkuk adalah tanda hati yang belum tunduk pada Allah. Dalam ranah pemerintahan, doktrin Reformed mengajarkan bahwa otoritas berasal dari Allah dan para pemimpin bertanggung jawab kepada-Nya. Pemimpin yang benar menjadi sarana berkat, sementara pemimpin yang fasik mendatangkan penderitaan atas rakyat yang dipercayakan kepadanya.
Moralisme cenderung memandang teguran hanya sebagai masalah disiplin yang dapat diatasi dengan tekad lebih kuat, dan kepemimpinan hanya sebagai soal kompetensi. Tetapi Alkitab menggali lebih dalam. Akar tegar tengkuk bukanlah kurangnya kemauan melainkan hati yang memberontak terhadap Allah, dan hanya Injil yang dapat melembutkan hati yang keras. Kristus, melalui Roh-Nya, mengganti hati batu dengan hati daging. Demikian pula kepemimpinan yang benar tidak lahir dari moralitas semata melainkan dari hati yang takut akan Tuhan dan tunduk pada otoritas-Nya. Tanpa anugerah yang mengubahkan, baik rakyat maupun pemimpin tetap berada dalam pemberontakan terhadap Raja segala raja.
Dalam keluarga, perhatikanlah cara kalian merespons teguran. Orang tua, latihlah anak-anak untuk menerima koreksi dengan hati yang lembut sejak dini, sebab tegar tengkuk yang dibiarkan akan mengeras menjadi kebinasaan. Jadilah teladan dengan menunjukkan kerendahan hati saat ditegur, baik oleh Firman maupun oleh sesama. Ajarkan pula bahwa kepemimpinan dalam rumah tangga dan masyarakat adalah tanggung jawab di hadapan Allah, bukan kesempatan untuk berkuasa demi diri sendiri. Doakanlah para pemimpin bangsa agar kebenaran memerintah dan rakyat bersukacita. Dengan demikian keluarga kalian menjadi tempat di mana hati yang lembut dipelihara dan kepemimpinan yang benar dihargai.
Pokok Doa
- 1Memohon agar Tuhan melembutkan hati kita supaya tidak tegar tengkuk terhadap teguran
- 2Berdoa untuk para pemimpin bangsa agar kebenaran memerintah dan rakyat bersukacita
- 3Berdoa agar keluarga memiliki hati yang tunduk pada otoritas Allah
Bahan Renungan
Apa yang terjadi jika seseorang terus menolak teguran? Mengapa karakter seorang pemimpin penting bagi banyak orang?