Keangkuhan dan Kerendahan Hati
Ayat Firman
Amsal 29:23
“Keangkuhan merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati, menerima pujian.”
Konteks
Salomo menyatakan prinsip yang membalikkan logika dunia: keangkuhan menjatuhkan, sedangkan kerendahan hati membawa kehormatan.
Renungan
Salomo menyatakan suatu prinsip yang membalikkan logika dunia: keangkuhan merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati akan menerima kehormatan. Dunia berpikir bahwa cara untuk naik adalah dengan meninggikan diri, memamerkan keunggulan, dan menuntut pengakuan. Namun hikmat ilahi mengajarkan sebaliknya — jalan menuju kemuliaan adalah jalan kerendahan hati. Keangkuhan, yang tampaknya meninggikan, justru membawa kejatuhan, sedangkan kerendahan hati, yang tampaknya merendahkan, justru membawa kehormatan. Penyataan Alkitab konsisten menyatakan bahwa Allah menentang orang yang congkak tetapi mengasihani orang yang rendah hati, sebuah pola yang berulang dari kejatuhan Lucifer hingga peninggian Kristus.
Doktrin Reformed memandang kerendahan hati sebagai buah dari pengenalan yang benar akan Allah dan diri sendiri. Calvin mengawali Institutio-nya dengan menyatakan bahwa seluruh hikmat sejati terdiri dari pengenalan akan Allah dan pengenalan akan diri. Ketika kita melihat kekudusan Allah yang tak terhingga dan kerusakan diri kita yang dalam, keangkuhan menjadi mustahil. Kerendahan hati bukanlah merendahkan diri secara palsu, melainkan penilaian yang jujur bahwa segala yang baik dalam diri kita adalah anugerah. Keangkuhan, sebaliknya, adalah akar dari segala dosa — keinginan untuk menjadi seperti Allah, mengandalkan diri sendiri, dan menolak kebergantungan pada Sang Pencipta yang berdaulat atas hidup kita.
Moralisme dapat menjadikan kerendahan hati sebagai sebuah strategi: berlakulah rendah hati supaya engkau dihormati, sebab itulah jalan untuk naik. Tetapi kerendahan hati yang dipakai sebagai alat untuk mendapat kehormatan justru adalah keangkuhan yang terselubung. Injil menghasilkan kerendahan hati yang sejati, sebab di kaki salib kita melihat bahwa kita tidak memiliki apa pun untuk dibanggakan. Kristus, yang setara dengan Allah, merendahkan diri-Nya hingga mati di kayu salib, dan karena itu Allah sangat meninggikan Dia. Kerendahan hati sejati lahir bukan dari keinginan untuk ditinggikan, melainkan dari hati yang telah ditebus dan dipenuhi syukur atas anugerah yang cuma-cuma.
Dalam keluarga, perhatikanlah bahaya keangkuhan dan keindahan kerendahan hati. Orang tua, jangan menanamkan kesombongan dalam diri anak melalui pujian yang berlebihan atas prestasi mereka, seolah nilai mereka terletak pada keunggulan. Ajarkan sebaliknya bahwa segala kemampuan adalah pemberian Allah yang patut disyukuri dengan rendah hati. Jadilah teladan kerendahan hati dengan mengakui kesalahan dan tidak menuntut selalu benar di hadapan anak-anak. Latihlah keluarga untuk melayani orang lain tanpa mencari pujian. Dengan demikian rumah tangga kalian akan mencerminkan teladan Kristus yang rendah hati, dan anak-anak kalian akan belajar bahwa kehormatan sejati datang melalui jalan kerendahan hati di hadapan Allah.
Pokok Doa
- 1Memohon agar Tuhan menghancurkan keangkuhan dan menanamkan kerendahan hati sejati
- 2Berdoa agar keluarga meneladani Kristus yang merendahkan diri-Nya
- 3Menyadari bahwa segala yang baik dalam diri kita adalah anugerah Allah semata
Bahan Renungan
Mengapa keangkuhan justru menjatuhkan kita? Bagaimana Yesus memberi teladan kerendahan hati bagi keluarga kita?