Kembali

Langit Berkhotbah

MazmurFirman Tuhan

Ayat Firman

Mazmur 19:1-2

Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam.

Konteks

Mazmur 19 menggabungkan dua sumber wahyu Allah: wahyu umum (alam semesta—ay. 1-6) dan wahyu khusus (firman tertulis—ay. 7-11). Daud memulai dengan pengamatan yang sederhana namun mendalam: seluruh ciptaan berbicara tentang Sang Pencipta. Langit, matahari, bumi—semuanya adalah "khotbah" yang terus-menerus tentang kemuliaan dan kekuasaan Allah, meskipun dalam "bahasa" yang tidak menggunakan kata-kata.

Renungan

"Langit menceritakan kemuliaan Allah"—kata "menceritakan" dalam bahasa Ibrani (saphar) adalah kata yang aktif dan terus-menerus: langit tidak hanya pernah menceritakan, tetapi terus menceritakan, saat ini juga. Ini adalah pernyataan tentang apa yang para teolog sebut "wahyu umum"—kemampuan ciptaan untuk memperlihatkan realitas dan karakter Allah kepada semua orang. Tidak ada manusia yang bisa mengklaim tidak pernah mendapat kesempatan untuk melihat tanda-tanda keberadaan dan kuasa Allah.

Namun sangat penting untuk memperhatikan bahwa Mazmur 19 tidak berhenti pada wahyu alam. Daud segera beralih kepada wahyu yang lebih lengkap: firman Tuhan yang tertulis. Mengapa? Karena wahyu alam bisa memperlihatkan bahwa Allah ada dan berkuasa, tetapi tidak bisa mengajarkan bagaimana manusia yang berdosa bisa diselamatkan dan hidup benar di hadapan Allah yang kudus. Untuk itu, firman tertulis diperlukan—dan Daud menggambarkannya dengan kata-kata yang sangat kaya: sempurna, teguh, tepat, murni, murni, dan benar.

Dalam kehidupan keluarga, ada dua implikasi praktis dari Mazmur 19. Pertama: jadikan alam sebagai alat pendidikan teologis bagi anak-anak. Ketika memandang matahari terbenam yang indah, ketika merasakan hujan yang segar, ketika melihat bintang-bintang—tunjukkan kepada anak-anak bahwa ini adalah "khotbah" tentang Sang Pencipta. Bangun kepekaan untuk melihat tangan Tuhan dalam ciptaan. Kedua: jangan pernah meninggalkan firman tertulis. Alam bisa mengagumkan, tetapi hanya firman yang bisa mengajarkan Injil—kabar baik tentang Kristus yang menyelamatkan.

Paulus dalam Roma 1:20 mengatakan bahwa melalui ciptaan, manusia tidak memiliki alasan untuk tidak mengenal Allah. Namun ia juga mengajarkan bahwa iman sejati datang dari "pendengaran akan firman Kristus" (Rm 10:17). Keduanya diperlukan: kepekaan terhadap wahyu alam yang membuka mata kepada keagungan Allah, dan ketundukan kepada firman yang mengajarkan jalan keselamatan.

Pokok Doa

  1. 1Bersyukur atas dua cara Allah menyatakan diri-Nya: melalui keindahan ciptaan dan melalui kemurnian firman-Nya.
  2. 2Memohon kepekaan untuk melihat dan mendengar "khotbah" Allah dalam ciptaan di sekitar kita setiap hari.
  3. 3Berdoa agar anak-anak dalam keluarga dibantu untuk melihat Allah di balik keindahan dan keajaiban alam.
  4. 4Memohon agar firman tertulis Allah semakin menjadi sumber pengetahuan dan hikmat yang hidup dalam keluarga.

Bahan Renungan

Kapan terakhir kali kamu memperhatikan keindahan alam dan memikirkan Sang Pencipta di baliknya? Bagaimana kita bisa lebih sering menjadikan alam sebagai momen untuk bersyukur dan mengenal Allah bersama keluarga?

Navigasi

BerandaArsipPenandaTentangMutiara
Beranda