Syukur dan Seruan dalam Kesesakan
Ayat Firman
Mazmur 50:14-15
“Persembahkanlah syukur sebagai korban kepada Allah dan bayarlah nazarmu kepada Yang Mahatinggi! Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku.”
Konteks
Dalam Mazmur 50 Allah sendiri berbicara sebagai Hakim dan menolak ibadah yang sekadar formalitas. Ia tidak menginginkan lembu jantan dari kandang umat-Nya seolah-olah Ia lapar.
Renungan
Dalam Mazmur 50 Allah sendiri berbicara sebagai Hakim dan menolak ibadah yang sekadar formalitas. Ia tidak menginginkan lembu jantan dari kandang umat-Nya seolah-olah Ia lapar. Sebaliknya Ia berfirman: "Persembahkanlah syukur sebagai korban kepada Allah dan bayarlah nazarmu kepada Yang Mahatinggi." Di sini kita melihat kritik tajam terhadap agama lahiriah. Bangsa Israel rajin membawa korban, tetapi hati mereka jauh. Mereka mengira Allah dapat dibeli dengan upacara. Allah membongkar kebodohan ini: Ia memiliki segala binatang hutan dan ternak di atas seribu gunung. Apa yang dapat manusia berikan kepada Allah yang memiliki segala sesuatu? Jawabannya adalah hati yang bersyukur. Syukur sejati adalah pengakuan bahwa kita bergantung sepenuhnya kepada Allah, bahwa segala yang kita miliki berasal dari tangan-Nya. Inilah ibadah yang menyenangkan hati-Nya, bukan ritual yang kosong.
Ayat 15 memberikan janji yang luar biasa: "Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku." Perhatikan urutannya. Allah memanggil kita berseru, Ia melepaskan, dan kita memuliakan Dia. Seluruh rangkaian ini berpusat pada kemuliaan Allah, bukan pada kenyamanan kita. Dalam teologi Reformed, segala sesuatu ada demi kemuliaan Allah, soli Deo gloria. Bahkan pertolongan-Nya dalam kesesakan bertujuan agar nama-Nya dimuliakan. Allah tidak melepaskan kita supaya kita kembali melupakan-Nya, melainkan supaya kita mengakui kebesaran-Nya. Kesesakan menjadi panggung di mana kuasa dan kesetiaan Allah dinyatakan. Maka pencobaan bukanlah tanda Allah meninggalkan kita, melainkan undangan untuk berseru dan menyaksikan keselamatan-Nya.
Banyak orang Kristen modern hanya berseru kepada Allah ketika susah, lalu melupakan-Nya ketika senang. Inilah agama transaksional yang dikecam mazmur ini. Mereka menjadikan doa sebagai tombol darurat, bukan sebagai napas kehidupan. Allah menghendaki hubungan, bukan transaksi. Ia ingin kita bersyukur di waktu lapang dan berseru di waktu sempit, dengan hati yang sama-sama tertuju kepada-Nya. Bagi keluarga kita, ajarlah anak-anak untuk bersyukur sebelum mereka meminta. Mulailah doa keluarga bukan dengan daftar permohonan, melainkan dengan pengucapan syukur atas kasih Allah. Ketika kesesakan datang, dan pasti akan datang, ajaklah seluruh keluarga berseru bersama, percaya bahwa Allah mendengar. Dan ketika Ia melepaskan, jangan lupa memuliakan Dia. Jadikanlah rumah kita rumah syukur, bukan sekadar rumah permintaan.
Pokok Doa
- 1Bersyukur bahwa Allah mengundang kami berseru kepada-Nya dalam kesesakan dan berjanji melepaskan kami.
- 2Memohon agar keluarga kami dijauhkan dari iman transaksional yang hanya mencari Allah saat susah.
- 3Mendoakan agar syukur menjadi awal dari setiap doa keluarga, bukan sekadar daftar permintaan.
Bahan Renungan
Apakah doa-doa kita lebih sering berisi permintaan atau ucapan syukur, dan apa yang hal itu nyatakan tentang hati kita?