Kerinduan akan Rumah Allah
Ayat Firman
Mazmur 84:1-4
“Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam! Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup. Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau.”
Konteks
"Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam! Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup." Mazmur ini lahir dari hati seorang yang sangat.
Renungan
"Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam! Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup." Mazmur ini lahir dari hati seorang yang sangat merindukan kehadiran Allah di Bait Suci. Kata yang diterjemahkan "hancur" menggambarkan kerinduan yang begitu dalam sampai membuat seseorang lemas. Ini bukan kerinduan akan bangunan fisik, melainkan akan persekutuan dengan Allah yang hidup yang hadir di tempat itu. Pemazmur bahkan iri pada burung pipit dan burung layang-layang yang dapat membuat sarang dekat mezbah Allah. Ia mendambakan tinggal terus-menerus dalam kehadiran Allah. Inilah kerinduan yang seharusnya menandai setiap orang percaya: rindu akan Allah sendiri, rindu akan persekutuan dengan-Nya. Dalam pandangan Reformed, ibadah dan persekutuan dengan Allah bukan kewajiban yang membebani, melainkan kerinduan yang dilahirkan oleh anugerah dalam hati yang telah diperbarui.
Ayat 4 berbunyi: "Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau." Kebahagiaan sejati ditemukan dalam kehadiran Allah dan dalam memuji Dia. Ini bertentangan dengan anggapan dunia bahwa kebahagiaan ada dalam kebebasan dari Allah, dalam mengejar kesenangan sendiri. Pemazmur menyatakan bahwa berbahagialah mereka yang tinggal dalam rumah Allah. Di sini kita melihat bahwa tujuan hidup manusia, yaitu memuliakan dan menikmati Allah, menjadi nyata. Memuji Allah bukan beban, melainkan sumber kebahagiaan tertinggi. Bagi orang yang hatinya telah dibarui, tidak ada tempat yang lebih disenangi daripada hadirat Allah. Dalam Perjanjian Baru, kita memahami bahwa kehadiran Allah tidak lagi terbatas pada satu bangunan, melainkan Allah berdiam dalam umat-Nya melalui Roh Kudus, dan kita berkumpul sebagai jemaat untuk menyembah-Nya bersama.
Kekristenan dangkal memperlakukan ibadah sebagai kewajiban yang membosankan, sesuatu yang dilakukan karena rutinitas atau rasa bersalah. Banyak orang menghadiri ibadah dengan tubuh hadir tetapi hati jauh, menghitung menit sampai selesai. Ini menunjukkan bahwa hati mereka tidak benar-benar merindukan Allah. Sebaliknya, pemazmur jiwanya hancur karena merindukan pelataran Allah. Perbedaan ini menyingkapkan keadaan hati kita yang sebenarnya. Bagi keluarga kita, renungan ini menantang sikap kita terhadap ibadah. Apakah kita pergi beribadah karena rindu akan Allah, atau sekadar memenuhi kewajiban? Ajarlah anak-anak untuk mencintai rumah Tuhan dan persekutuan dengan umat Allah, bukan menganggapnya beban. Tumbuhkanlah kerinduan akan kehadiran Allah dalam ibadah keluarga di rumah maupun dalam ibadah jemaat. Sebab berbahagialah keluarga yang diam dalam kehadiran Allah dan terus-menerus memuji Dia.
Pokok Doa
- 1Bersyukur bahwa kehadiran Allah adalah sumber kebahagiaan sejati bagi umat-Nya.
- 2Memohon agar kerinduan yang sungguh akan Allah tumbuh dalam hati setiap anggota keluarga.
- 3Mendoakan agar ibadah menjadi sukacita, bukan kewajiban yang membosankan.
Bahan Renungan
Apakah kita beribadah karena rindu akan Allah, atau sekadar memenuhi kewajiban, dan apa yang hal itu nyatakan tentang hati kita?