Mendudukkan Orang Lemah di Tempat Mulia
Ayat Firman
Mazmur 113:4-9
“TUHAN tinggi mengatasi segala bangsa, kemuliaan-Nya mengatasi langit. Siapakah seperti TUHAN, Allah kita, yang diam di tempat yang tinggi, yang merendahkan diri untuk melihat ke langit dan ke bumi? Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur, untuk mendudukkan dia bersama-sama dengan para bangsawan, bersama-sama dengan para bangsawan bangsanya. Ia mendudukkan perempuan yang mandul di rumah sebagai ibu anak-anak, penuh sukacita. Haleluya!”
Konteks
Mazmur 113 memuji TUHAN yang tinggi dan mulia, namun yang merendahkan diri untuk memperhatikan orang hina dan miskin. Ia mengangkat yang terbuang ke tempat kehormatan.
Renungan
Mazmur 113 menampilkan paradoks agung tentang Allah. Di satu sisi, "TUHAN tinggi mengatasi segala bangsa, kemuliaan-Nya mengatasi langit" — Ia transenden, jauh melampaui segala ciptaan. Tetapi pemazmur segera mengajukan pertanyaan yang menakjubkan: "Siapakah seperti TUHAN, Allah kita, yang diam di tempat yang tinggi, yang merendahkan diri untuk melihat ke langit dan ke bumi?" Justru ketinggian Allah membuat tindakan-Nya luar biasa: Dia yang begitu mulia merendahkan diri untuk memperhatikan yang hina. Ia mengangkat orang dari debu dan lumpur, mendudukkannya bersama para bangsawan, dan menjadikan perempuan mandul sebagai ibu yang penuh sukacita. Allah membalikkan tatanan dunia yang memuja kekuasaan dan kekayaan.
Di sinilah keagungan dan kerendahan hati Allah berpadu. Banyak yang membayangkan dewa-dewa yang tinggi pasti tak peduli pada manusia kecil; semakin tinggi, semakin jauh. Tetapi Allah Alkitab justru sebaliknya — ketinggian-Nya tidak membuat-Nya angkuh dan acuh, melainkan dinyatakan dalam kerelaan menunduk kepada yang hina. Inilah pola anugerah: Allah tidak memilih yang kuat dan terhormat, melainkan yang lemah dan terbuang, supaya kemuliaan-Nya yang dinyatakan, bukan jasa manusia. Hana yang mandul, Maria yang sederhana, para gembala dan nelayan — semua menjadi saksi pola ini. Allah meninggikan yang rendah supaya tidak ada manusia yang bermegah.
Kesalahan kita adalah mengukur nilai diri dan orang lain dengan ukuran dunia: status, kekayaan, kemampuan. Mazmur ini meruntuhkannya. Di mata Allah, orang dari debu dapat didudukkan bersama bangsawan. Kesalahan lain adalah berpikir Allah terlalu agung untuk peduli pada masalah kecil kita; padahal Dia yang mengatasi langit justru merendahkan diri melihat ke bumi. Pola perendahan diri ini mencapai puncaknya dalam inkarnasi — Allah yang tinggi menjadi manusia, lahir di palungan, dan merendahkan diri sampai mati di kayu salib. Dia yang tertinggi turun terendah untuk mengangkat kita.
Dalam keluarga, ajar anak-anak menghargai orang berdasarkan martabat di mata Allah, bukan status sosial. Tunjukkan belas kasihan kepada yang miskin dan terpinggirkan sebagai cerminan hati Allah. Bagi anggota keluarga yang merasa kecil, gagal, atau terbuang, ingatkan bahwa Allah mengangkat orang dari debu. Bagi yang merasa hebat, ingatkan teladan Allah yang tinggi namun merendahkan diri. Jadikan kerendahan hati dan kepedulian pada yang lemah sebagai nilai inti rumah tangga kalian.
Pokok Doa
- 1Bersyukur bahwa Allah yang tinggi merendahkan diri memperhatikan kami
- 2Memohon agar kami meneladani kerendahan hati Allah dalam Kristus
- 3Berdoa agar keluarga menghargai sesama berdasarkan martabat di mata Allah
- 4Mendoakan agar kami peduli pada yang miskin dan terbuang
Bahan Renungan
Mengapa justru ketinggian Allah membuat kerelaan-Nya memperhatikan orang hina menjadi begitu menakjubkan?