Kembali

Singkapkanlah Wajah-Mu

MazmurFirman yang Menerangi

Ayat Firman

Mazmur 119:129-135

Peringatan-peringatan-Mu ajaib, itulah sebabnya jiwaku memegangnya. Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh. Mulutku kungangakan dan megap-megap, sebab aku mendambakan perintah-perintah-Mu. Berpalinglah kepadaku dan kasihanilah aku, sebagaimana sepatutnya terhadap orang yang mencintai nama-Mu. Teguhkanlah langkahku oleh janji-Mu, dan janganlah segala kejahatan berkuasa atasku. Bebaskanlah aku dari pada pemerasan manusia, supaya aku berpegang pada titah-titah-Mu. Sinarilah hamba-Mu dengan wajah-Mu, dan ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.

Konteks

Bagian Pe dari Mazmur 119 menyatakan keajaiban dan kuasa firman Allah untuk menerangi. Pemazmur merindukan firman dengan sangat dan memohon agar wajah Allah menyinarinya.

Renungan

Bagian ini dibuka dengan kekaguman: "Peringatan-peringatan-Mu ajaib." Firman Allah bersifat ajaib karena bukan sekadar kata-kata manusia, melainkan penyingkapan Allah sendiri. Lalu pemazmur menyatakan efeknya: "Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh." Firman membawa terang ke dalam kegelapan pikiran, dan yang menakjubkan, ia memberi pengertian justru kepada "orang-orang bodoh" — yaitu mereka yang rendah hati dan mengakui ketidaktahuannya. Pemazmur menggambarkan kerinduannya dengan gambar yang kuat: "Mulutku kungangakan dan megap-megap, sebab aku mendambakan perintah-perintah-Mu" — seperti orang yang haus akan udara. Ia kemudian memohon: "Sinarilah hamba-Mu dengan wajah-Mu."

Di sini terlihat doktrin tentang iluminasi — bahwa firman tidak hanya perlu dibaca, tetapi perlu "tersingkap" oleh Allah agar memberi terang. Kita tidak dapat memahami kebenaran rohani dengan kekuatan akal sendiri; diperlukan karya Roh Kudus yang membuka mata hati. Inilah sebabnya pemazmur berdoa, bukan sekadar belajar. Permohonan "sinarilah hamba-Mu dengan wajah-Mu" menggemakan berkat imam (Bilangan 6:25) — pemazmur merindukan kehadiran Allah yang berkenan, bukan sekadar pengetahuan tentang Allah. Firman dan hadirat Allah tak terpisahkan: mengenal firman adalah mengenal pribadi Allah yang menyatakan diri.

Kesalahan adalah mendekati Alkitab semata-mata sebagai latihan intelektual, mengandalkan kepandaian sendiri untuk memahaminya. Pemazmur justru megap-megap merindukan firman dan memohon agar Allah menyinarinya — pengakuan ketergantungan. Kesalahan lain adalah berpikir kita terlalu pintar untuk perlu diterangi; padahal firman memberi pengertian kepada yang mengakui dirinya "bodoh". Kerendahan hati adalah pintu masuk hikmat. Terang sempurna dari penyingkapan Allah adalah Kristus, Terang dunia, yang menerangi setiap orang. Membaca firman tanpa Roh seperti memandang cermin dalam gelap.

Dalam keluarga, awali setiap pembacaan Alkitab dengan doa memohon agar Allah membuka pengertian, bukan hanya mengandalkan penjelasan. Ajar anak-anak bahwa memahami firman adalah karunia yang diberikan kepada yang rendah hati, bukan hak orang pintar. Saat keluarga bingung menghadapi keputusan, berdoalah agar firman menerangi langkah, seperti pemazmur: "Teguhkanlah langkahku oleh janji-Mu." Tanamkan kerinduan akan firman dengan menunjukkan bahwa membaca Alkitab adalah berjumpa dengan Allah yang menyinari kita dengan wajah-Nya, bukan sekadar menambah pengetahuan.

Pokok Doa

  1. 1Bersyukur bahwa firman Allah ajaib dan memberi terang bagi yang rendah hati
  2. 2Memohon agar Allah menyingkapkan dan menerangi firman-Nya kepada kami
  3. 3Berdoa agar keluarga mendambakan firman seperti orang haus akan udara
  4. 4Mendoakan agar wajah Allah menyinari setiap langkah hidup kami

Bahan Renungan

Mengapa kita perlu berdoa memohon terang sebelum membaca Alkitab, bukan hanya mengandalkan kepandaian kita?

Navigasi

BerandaArsipPenandaTentangMutiara
Beranda