Baik untuk Bersyukur
Ayat Firman
Mazmur 92:1-8
“Adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada TUHAN, dan untuk menyanyikan mazmur bagi nama-Mu, ya Yang Mahatinggi.”
Konteks
Mazmur 92 memiliki judul unik: "Nyanyian untuk hari Sabat." Ini menghubungkan pujian dan syukur dengan istirahat dan perayaan—bukan kegiatan yang kita lakukan di sela-sela hidup, tetapi inti dari ritme kehidupan yang Allah rancang. Mazmur ini memuji kebaikan Allah yang ternyata dalam karya-Nya di alam dan dalam sejarah, bahkan ketika orang fasik tampaknya makmur sementara.
Renungan
Pernyataan pembuka Mazmur 92 terkesan sederhana namun mengandung kedalaman yang luar biasa: "Adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada TUHAN." Kata "baik" (tov) di sini bukan hanya berarti "dianjurkan" atau "berguna"—ia menggemakan penggunaan kata yang sama dalam Kejadian 1, ketika Allah melihat ciptaan-Nya dan berkata "itu baik." Bersyukur kepada Allah adalah sesuatu yang secara intrinsik selaras dengan tatanan ciptaan yang baik. Ketika kita bersyukur, kita sedang melakukan sesuatu yang sesuai dengan hakikat terdalam dari realitas—kita sedang mengakui hubungan yang sebenarnya antara ciptaan dan Pencipta.
Dari perspektif teologi Reformed, syukur bukan sekadar emosi positif atau kebiasaan kesehatan mental. Syukur adalah tindakan teologis: pengakuan bahwa semua yang baik dalam hidup kita adalah pemberian, bukan pencapaian. Calvin menyebut syukur sebagai "pengakuan atas anugerah dalam tindakan." Orang yang bersyukur adalah orang yang telah berhasil melampaui ilusi bahwa ia adalah sumber dari kebaikannya sendiri. Itulah mengapa kebanggaan (pride) dan syukur tidak bisa hidup berdampingan—kebanggaan mengklaim kepemilikan atas apa yang seharusnya diakui sebagai pemberian.
Ayat 5-6 dalam Mazmur ini membuat kontras yang menarik: orang bodoh tidak mengerti "pekerjaan-pekerjaan Tuhan" dan "perbuatan tangan-Nya." Ini menunjukkan bahwa syukur sejati bukan hanya emosi, melainkan penglihatan—kemampuan untuk melihat tangan Allah dalam hal-hal biasa yang orang lain anggap kebetulan atau hasil kerja keras sendiri. Matahari terbit setiap pagi bukan "sudah semestinya"—itu adalah kasih setia Allah pagi itu. Kamu bisa bernapas, berpikir, mencintai—bukan karena badanmu yang hebat, tetapi karena Allah memelihara nyawamu. Syukur adalah mata yang terbuka; ketidaksyukuran adalah kebutaan rohani.
Bagi orang percaya, ada dimensi komunal dari syukur yang tidak boleh diabaikan. Mazmur dinyanyikan bersama—"Nyanyian untuk hari Sabat" adalah ekspresi kolektif. Pujian dan syukur yang kita lakukan bersama dalam ibadah bukan sekadar ritual; itu adalah sarana pembentukan karakter komunal. Ketika kita secara teratur berkumpul untuk menyanyikan syukur kepada Allah, kita sedang bersama-sama melatih cara pandang yang benar tentang realitas: bahwa kita adalah umat yang menerima segala sesuatu dari tangan Allah yang murah hati. Komunitas yang rajin bersyukur bersama adalah komunitas yang lebih tahan terhadap keputusasaan, iri hati, dan keluhan.
Pokok Doa
- 1Bersyukur kepada Tuhan atas tiga hal yang kamu anggap "sudah semestinya" namun sebenarnya adalah pemberian anugerah-Nya.
- 2Mohon agar Tuhan membuka matamu untuk melihat "pekerjaan tangan-Nya" dalam kehidupan sehari-hari yang sering kamu lewatkan.
- 3Berdoa bagi komunitas ibadahmu—agar pujian dan syukur yang dinaikkan bukan sekadar ritual, tetapi ekspresi jujur dari hati yang telah bertemu dengan anugerah Allah.
- 4Akui kepada Tuhan area-area di mana kamu lebih sering mengeluh daripada bersyukur, dan mohon pembaruan cara pandang.
Bahan Renungan
Apa yang membuat seseorang tetap bisa bersyukur ketika keadaan tidak menyenangkan? Apakah syukur itu bergantung pada keadaan, atau pada sesuatu yang lebih dalam? Bagaimana Mazmur 92 menjawab pertanyaan ini?