Kembali

Seluruh Ciptaan Memuji Sang Pencipta

MazmurPujian Kosmis kepada Allah

Ayat Firman

Mazmur 148:1-6

Haleluya! Pujilah TUHAN di sorga, pujilah Dia di tempat tinggi! Pujilah Dia, hai segala malaikat-Nya, pujilah Dia, hai segala tentara-Nya! Pujilah Dia, hai matahari dan bulan, pujilah Dia, hai segala bintang yang terang! Pujilah Dia, hai langit yang mengatasi segala langit, hai air yang di atas langit! Baiklah semuanya memuji nama TUHAN, sebab Dia memberi perintah, maka semuanya tercipta. Dia mendirikan semuanya untuk seterusnya dan selama-lamanya, dan memberi ketetapan yang tidak dapat dilanggar.

Konteks

Mazmur 148 adalah seruan agar seluruh ciptaan, dari yang tertinggi di langit sampai yang terendah di bumi, memuji TUHAN. Pemazmur memanggil malaikat, benda-benda langit, dan seluruh alam untuk menaikkan pujian. Inilah paduan suara kosmis yang berpusat pada Sang Pencipta.

Renungan

Mazmur 148 dibuka dengan seruan "Haleluya" dan memanggil seluruh penghuni langit untuk memuji TUHAN. Pemazmur menyusun pujian ini secara teratur, dari atas ke bawah: malaikat dan bala tentara sorgawi, lalu matahari, bulan, dan bintang, kemudian langit yang mengatasi segala langit. Yang menarik, semua ini bukan ilah-ilah seperti yang disembah bangsa-bangsa sekitar Israel, melainkan ciptaan yang tunduk pada perintah Sang Pencipta. Ayat 5 memberi alasan pujian: "sebab Dia memberi perintah, maka semuanya tercipta." Penciptaan terjadi melalui firman Allah yang berdaulat. Tidak ada materi kekal, tidak ada dewa pembantu; hanya kehendak Allah yang menjadikan segala sesuatu dari ketiadaan.

Di sinilah doktrin penciptaan dari ketiadaan (creatio ex nihilo) bersinar. Allah berdaulat penuh atas segala yang ada. Ayat 6 menambahkan bahwa Dia "mendirikan semuanya untuk seterusnya" dan "memberi ketetapan yang tidak dapat dilanggar." Kedaulatan Allah bukan hanya pada saat penciptaan, tetapi juga dalam pemeliharaan terus-menerus. Bintang-bintang bergerak menurut ketetapan-Nya; hukum alam adalah cerminan kesetiaan Allah yang mengatur. Inilah Allah yang kita sembah: bukan kekuatan buta, melainkan Pribadi yang berfirman dan menopang. Seluruh tatanan kosmos adalah teater kemuliaan Allah, di mana setiap benda menunjuk kepada keagungan-Nya.

Kita sering keliru menganggap pujian sebagai hal yang bergantung pada perasaan kita. Mazmur ini mengoreksi: pujian adalah keharusan ontologis seluruh ciptaan. Matahari tidak menunggu suasana hati untuk bersinar memuliakan Allah; ia memuji dengan menjalankan fungsinya. Jika benda-benda mati saja memuji TUHAN dengan tunduk pada ketetapan-Nya, betapa lebih lagi manusia yang dicipta menurut gambar Allah. Pujian bukan pilihan rohani tambahan, melainkan tujuan keberadaan. Mereka yang tidak memuji Allah sedang hidup bertentangan dengan rancangan penciptaan itu sendiri. Anugerah keselamatan dalam Kristus justru memulihkan kemampuan kita untuk memuji Allah dengan benar.

Dalam keluarga, kita dapat mengajar anak-anak bahwa segala sesuatu yang mereka lihat — langit malam, matahari pagi, hujan, burung — adalah bagian dari paduan suara yang memuji Allah. Ajaklah anak-anak keluar memandang bintang dan bertanya, "Siapa yang menciptakan dan menjaga semua ini?" Biarkan kekaguman akan ciptaan menuntun pada penyembahan kepada Pencipta, bukan berhenti pada ciptaan itu sendiri. Mulailah ibadah keluarga dengan menyebut hal-hal ciptaan yang kalian syukuri hari ini, lalu naikkan pujian bersama. Dengan demikian rumah kita ikut bergabung dalam paduan suara kosmis yang memuliakan TUHAN, Sang Pencipta dan Pemelihara segala sesuatu.

Pokok Doa

  1. 1Bersyukur atas keagungan Allah yang nyata dalam seluruh ciptaan
  2. 2Memohon hati yang peka mengenali kemuliaan Allah dalam alam
  3. 3Berdoa agar keluarga kami hidup sesuai tujuan penciptaan, yaitu memuji Allah
  4. 4Mendoakan agar anak-anak mengenal Sang Pencipta di balik segala yang mereka lihat

Bahan Renungan

Ciptaan apa yang paling membuatmu kagum, dan bagaimana itu menolongmu memuji Allah?

Navigasi

BerandaArsipPenandaTentangMutiara
Beranda