Sekiranya Umat-Ku Mendengarkan Aku
Ayat Firman
Mazmur 81:13-14
“Sebab itu Aku membiarkan dia dalam kedegilan hatinya; biarlah mereka berjalan mengikuti rencananya sendiri! Sekiranya umat-Ku mendengarkan Aku! Sekiranya Israel hidup menurut jalan yang Kutunjukkan!”
Konteks
Mazmur 81 mengandung seruan Allah yang penuh kerinduan agar umat-Nya mau mendengarkan. Allah meratapi ketidaktaatan Israel yang membawa mereka menjauh dari berkat. Ada kepedihan dalam hati Allah atas kedegilan umat-Nya.
Renungan
Mazmur 81 dimulai dengan seruan untuk bersorak-sorai dan memuji Allah dalam perayaan. Namun di pertengahan, nada berubah menjadi suara Allah sendiri yang berbicara kepada umat-Nya. Allah mengingatkan bagaimana Ia membebaskan mereka dari perbudakan Mesir dan menyediakan bagi mereka. Lalu muncul kepedihan: "Sebab itu Aku membiarkan dia dalam kedegilan hatinya." Karena umat menolak mendengar, Allah membiarkan mereka mengikuti kehendak mereka sendiri — sebuah penghakiman yang menyedihkan. Kemudian terdengar seruan yang penuh kerinduan: "Sekiranya umat-Ku mendengarkan Aku! Sekiranya Israel hidup menurut jalan yang Kutunjukkan!" Ada kepedihan ilahi dalam kata-kata ini, seperti seorang bapa yang merindukan anaknya kembali kepada jalan yang benar.
Seruan "sekiranya" ini menyatakan misteri yang dalam tentang hati Allah. Allah yang berdaulat juga adalah Allah yang sungguh merindukan ketaatan umat-Nya demi kebaikan mereka. Penghakiman "membiarkan mereka dalam kedegilan hati" adalah bentuk penghakiman yang serius — Allah menyerahkan manusia kepada keinginannya sendiri, seperti dalam Roma 1. Ketika manusia terus-menerus menolak Allah, salah satu penghakiman terberat adalah dibiarkan mengikuti kehendaknya sendiri. Namun, di balik penghakiman ini tetap ada kerinduan Allah akan pertobatan. Ayat-ayat berikutnya menjanjikan: jika umat mau mendengar, Allah akan menundukkan musuh mereka dan memberi makan dengan gandum yang terbaik. Ketaatan membawa berkat; ketidaktaatan membawa kehilangan berkat itu.
Kita kadang membayangkan Allah hanya sebagai hakim yang dingin, tanpa kepedulian emosional terhadap umat-Nya. Mazmur ini mengoreksi: ada kerinduan dan kepedihan dalam hati Allah atas ketidaktaatan kita. Mendengarkan Allah bukan sekadar kewajiban kaku, melainkan jalan menuju berkat yang Allah rindukan untuk kita nikmati. Selain itu, ada pemahaman dangkal yang menganggap ketidaktaatan tidak berkonsekuensi serius. Padahal mazmur ini menunjukkan bahwa kedegilan hati membawa kita "berjalan mengikuti rencana sendiri" — jauh dari berkat Allah. Dibiarkan mengikuti kehendak sendiri terdengar seperti kebebasan, tetapi sesungguhnya adalah bentuk penghakiman yang membawa kehancuran.
Dalam keluarga, seruan Allah ini mengajarkan pentingnya mendengarkan-Nya. Ajarkan anak-anak bahwa Allah memberi perintah bukan untuk membatasi kebahagiaan mereka, melainkan untuk memimpin mereka kepada berkat. Tunjukkan bahwa di balik aturan Allah ada hati Bapa yang merindukan kebaikan kita. Sebagai orangtua, refleksikan kerinduan Allah ini: kalian pun merindukan anak-anak kalian mendengar dan menaati demi kebaikan mereka, bukan demi kuasa kalian. Latih kebiasaan mendengarkan firman Allah sebagai keluarga dan menanggapinya dengan ketaatan. Ketika ada anggota keluarga yang menjauh dari Allah, jangan berhenti merindukan dan mendoakan pertobatan mereka, sebagaimana Allah merindukan umat-Nya. Biarlah seruan "sekiranya umat-Ku mendengarkan Aku" menggerakkan hati keluarga untuk hidup taat menurut jalan yang Allah tunjukkan.
Pokok Doa
- 1Bersyukur karena Allah merindukan kebaikan umat-Nya
- 2Memohon hati yang mau mendengarkan dan menaati Allah
- 3Berdoa agar kami tidak dibiarkan mengikuti kehendak sendiri yang menyesatkan
- 4Mendoakan anggota keluarga yang sedang menjauh dari Allah
Bahan Renungan
Mengapa mendengarkan dan menaati Allah sebenarnya membawa berkat, bukan membatasi kebahagiaan kita?