Kembali

Tabib bagi yang Sakit

MatiusKasih Karunia

Ayat Firman

Matius 9:12-13

Yesus mendengarnya dan berkata: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa."

Konteks

Pernyataan ini keluar ketika Yesus ditanya mengapa Ia makan bersama pemungut cukai dan orang-orang berdosa—kelompok yang dianggap "najis" dan tak layak bergaul oleh orang-orang Farisi. Yesus menggunakan perumpamaan tabib yang sangat sederhana untuk membalikkan seluruh logika keagamaan: dokter pergi kepada yang sakit, bukan kepada yang sehat. Demikianlah misi-Nya.

Renungan

"Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit"—pernyataan ini tampak sangat jelas secara logis. Namun implikasinya sangat revolusioner dalam konteks agama Yahudi abad pertama. Sistem keagamaan yang ada pada waktu itu dibangun di atas prinsip kemurnian ritual: yang kudus tidak bergaul dengan yang najis, yang benar tidak bergaul dengan yang berdosa, karena kenajisan itu menular. Namun Yesus membalikkan logika ini: kekudusan-Nya bukan berkurang ketika bergaul dengan orang berdosa—justru kekudusan-Nya yang "menular" kepada mereka yang sakit.

"Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan"—Yesus mengutip Hosea 6:6, dan dengan demikian menegaskan bahwa agama yang benar bukan tentang mempertahankan kemurnian ritual diri sendiri, tetapi tentang merespons dengan belas kasihan kepada mereka yang membutuhkan. Ini adalah koreksi terhadap agama yang lebih peduli pada aturan dari pada orang, lebih peduli pada penampilan kesalehan dari pada kasih yang nyata. Persembahan tanpa belas kasihan adalah agama yang kosong.

"Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa"—ini adalah salah satu pernyataan Yesus yang paling tegas tentang misi inkarnasi-Nya. Ia tidak datang untuk orang-orang yang merasa sudah cukup baik. Ia datang untuk orang-orang yang sadar bahwa mereka sakit, yang tidak lagi bisa berpura-pura sehat. Pengakuan akan kebutuhan adalah langkah pertama untuk menerima tabib. Orang yang tidak merasa sakit tidak akan pergi ke dokter.

Bagi keluarga, Matius 9:12-13 mengandung undangan yang sangat praktikal. Pertama: datanglah kepada Yesus bukan dengan pura-pura sehat secara rohani, tetapi dengan mengakui dengan jujur "kesakitan" kita. Pernikahan yang sedang bermasalah, anak yang sedang bergumul, hati yang sedang dingin—bawa semuanya kepada Tabib. Kedua: jadilah keluarga yang mencerminkan belas kasihan Yesus kepada yang "sakit" di sekitar kita—bukan dengan jarak dan penilaian, tetapi dengan keterlibatan yang penuh kasih.

Pokok Doa

  1. 1Datanglah kepada Tuhan dengan jujur—akui area-area "kesakitan" dalam diri dan keluarga tanpa berpura-pura.
  2. 2Bersyukur bahwa Yesus datang untuk orang sakit—termasuk kita, dengan segala kelemahan dan kegagalan kita.
  3. 3Memohon hati yang penuh belas kasihan kepada orang-orang di sekitar kita yang sedang bergumul.
  4. 4Berdoa agar keluarga menjadi tempat yang aman di mana yang "sakit" bisa datang dan menemukan kasih karunia, bukan penghakiman.

Bahan Renungan

Apakah keluarga kita cenderung menjadi tempat yang aman untuk mengakui kelemahan dan pergumulan, ataukah tempat yang membuat anggotanya merasa harus berpura-pura "sehat"? Apa yang bisa kita ubah untuk menciptakan budaya belas kasihan yang lebih nyata?

Navigasi

BerandaArsipPenandaTentangMutiara
Beranda