Mengasihi Tanpa Membalas
Ayat Firman
Matius 5:38-40
“Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu.”
Konteks
Hukum "mata ganti mata" sebenarnya membatasi pembalasan agar adil. Yesus melangkah lebih jauh, memanggil murid-Nya untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.
Renungan
Hukum "mata ganti mata" bukanlah pembenaran balas dendam, melainkan pembatasan agar hukuman tidak melebihi kesalahan. Tetapi orang menyalahgunakannya menjadi izin untuk membalas. Yesus membongkar penyalahgunaan ini dengan mengajarkan jalan yang sama sekali berlawanan dengan naluri manusia: jangan melawan orang jahat, berikan pipi yang lain, serahkan juga jubahmu, berjalanlah dua mil. Ini bukan pasifisme buta atau membiarkan ketidakadilan merajalela, melainkan penolakan untuk membiarkan kejahatan orang lain menguasai hati kita. Murid Kerajaan tidak hidup oleh hukum pembalasan, tetapi oleh kemerdekaan kasih.
Mengapa kita bisa hidup demikian? Karena begitulah Kristus memperlakukan kita. Ketika Ia ditampar, diludahi, dipaku di kayu salib, Ia tidak membalas. "Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki" (1 Petrus 2:23). Lebih dari itu, di kayu salib Ia menanggung pembalasan yang seharusnya jatuh atas kita. Inilah dasar Reformed: kita yang adalah musuh Allah, yang menampar wajah-Nya dengan dosa, justru ditebus oleh kasih-Nya yang tidak membalas. Pengampunan yang kita terima inilah yang memampukan dan menuntut kita mengampuni.
Moralisme menjadikan ayat ini sekadar etika tinggi: jadilah pribadi yang sabar dan lemah lembut. Tetapi tanpa salib, ajaran ini hanya menambah beban. Mustahil mengasihi musuh dengan kekuatan sendiri; ini bukan kapasitas alami manusia, melainkan buah anugerah. Agama yang dangkal sopan di luar sambil menyimpan dendam yang membara di dalam. Yesus memanggil kepada hati yang sungguh dibebaskan dari kebutuhan untuk membalas, karena keadilan ada di tangan Allah.
Dalam keluarga, pembalasan kecil terjadi setiap hari—kakak membalas adik, anak membalas orang tua, suami dan istri saling membalas perkataan. Inilah ladang latihan kasih yang tidak membalas. Ajarkan anak bahwa memutus rantai pembalasan adalah tanda kekuatan, bukan kelemahan. Ketika orang tua dirugikan dan memilih mengampuni alih-alih membalas, anak menyaksikan Injil yang hidup. Doakan agar keluarga menjadi tempat di mana kejahatan dipatahkan oleh kasih, bukan dilanjutkan oleh dendam.
Pokok Doa
- 1Bersyukur bahwa Kristus tidak membalas dosa kita melainkan menanggungnya
- 2Memohon hati yang merdeka dari keinginan membalas
- 3Berdoa untuk kasih yang melampaui keadilan manusia
- 4Mendoakan keluarga agar memutus rantai pembalasan dengan pengampunan
Bahan Renungan
Bagaimana kita dapat memutus rantai pembalasan dalam keluarga dan menggantinya dengan kasih?