Mengasihi Kristus Melebihi Segalanya
Ayat Firman
Matius 10:37-38
“Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.”
Konteks
Yesus berbicara tentang harga mengikut Dia. Kasih kepada-Nya harus melampaui bahkan kasih kepada keluarga terdekat. Mengikut Dia berarti memikul salib.
Renungan
Ucapan ini terdengar keras, hampir mengganggu, terutama bagi orang yang menghargai keluarga. Yesus menempatkan diri-Nya di atas relasi yang paling dikasihi manusia—ayah, ibu, anak. Barangsiapa mengasihi mereka lebih dari Dia, "tidak layak bagi-Ku." Ini bukan ajakan membenci keluarga; di tempat lain Yesus justru menegaskan perintah menghormati orang tua. Yang Ia tuntut adalah supremasi—Ia harus menjadi yang terutama, di atas segala kasih lain. Lalu Ia menambahkan: memikul salib. Bagi pendengar mula-mula, salib bukan perhiasan melainkan alat eksekusi yang mengerikan. Mengikut Yesus berarti kesediaan mati bagi diri sendiri.
Siapa yang berhak menuntut kasih melampaui ikatan darah yang paling kudus? Hanya Allah. Tuntutan Yesus akan supremasi ini adalah klaim keilahian yang tak terselubung. Tidak ada guru moral yang berhak menuntut demikian; hanya Sang Pencipta dan Penebus yang layak menerima kasih tertinggi kita. Dan Ia layak karena Ia sendiri telah memikul salib yang sesungguhnya bagi kita. Ia tidak menuntut sesuatu yang tidak Ia lakukan lebih dahulu—Ia mengasihi kita melampaui nyawa-Nya sendiri, menyerahkan diri di Golgota. Tuntutan-Nya berakar pada kasih-Nya yang lebih dahulu.
Moralisme mengubah ini menjadi heroisme religius: korbankan segalanya, buktikan kesetiaanmu. Tetapi maksud Yesus bukan agar kita meraih kelayakan dengan pengorbanan kita; tidak seorang pun "layak" oleh usaha sendiri. Maksud-Nya menyingkapkan siapa yang sungguh menjadi raja di hati kita. Agama yang dangkal menempatkan Yesus sebagai salah satu prioritas di antara banyak, tidak pernah yang tertinggi. Tetapi ketika anugerah membuka mata kita melihat keindahan Kristus, kasih kepada-Nya tidak terasa sebagai beban, melainkan sukacita yang menata ulang segala kasih lain.
Di sinilah keluarga Kristen menghadapi paradoks indah. Justru ketika Kristus dikasihi melebihi keluarga, keluarga dikasihi dengan benar. Kasih kepada pasangan dan anak yang menjadi berhala akan menghancurkan; kasih yang tunduk di bawah kasih kepada Kristus akan memurnikan. Ajarkan anak bahwa mengikut Yesus adalah hal yang paling berharga, lebih dari segala sesuatu. Tunjukkan dengan hidup bahwa orang tua pun menempatkan Kristus di atas keluarga—bukan dengan mengabaikan keluarga, melainkan dengan mengasihi mereka di dalam dan melalui kasih kepada Tuhan.
Pokok Doa
- 1Bersyukur bahwa Kristus memikul salib bagi kita lebih dahulu
- 2Memohon hati yang menempatkan Kristus di atas segalanya
- 3Berdoa agar kasih kepada keluarga tidak menjadi berhala
- 4Mendoakan keluarga agar mengikut Kristus sebagai harta tertinggi
Bahan Renungan
Bagaimana menempatkan Kristus di atas segalanya justru membuat kita mengasihi keluarga dengan lebih benar?