Kembali

Yang Banyak Diampuni, Banyak Mengasihi

LukasPengampunan dan Kasih

Ayat Firman

Lukas 7:47

"Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih."

Konteks

Seorang perempuan berdosa membasuh kaki Yesus dengan air mata dan meminyakinya dengan minyak wangi di rumah Simon orang Farisi. Simon menghakiminya dalam hati, tetapi Yesus membela perempuan itu dengan perumpamaan tentang dua orang yang berutang. Lukas memakai kisah ini untuk menyingkapkan hubungan antara pengampunan dan kasih.

Renungan

Ayat ini bisa membingungkan jika dibaca sepintas: apakah perempuan itu diampuni karena ia banyak mengasihi? Konteks perumpamaan sebelumnya memperjelas urutannya. Yesus menceritakan dua orang berutang — yang satu lima ratus dinar, yang lain lima puluh — dan keduanya dibebaskan dari utang. Yesus bertanya kepada Simon: siapa yang akan lebih mengasihi? Jawabannya jelas: yang lebih banyak diampuni. Maka kasih perempuan itu bukanlah penyebab pengampunannya, melainkan bukti dan buahnya. Tata bahasa Yunani mendukung ini: kasihnya yang besar menunjukkan bahwa ia telah diampuni banyak. Lukas, dengan kepekaannya terhadap yang terbuang, menonjolkan perempuan berdosa ini sebagai teladan iman, bertentangan dengan Simon yang merasa benar.

Di sinilah doktrin anugerah memancar terang. Pengampunan datang lebih dahulu, sebagai pemberian cuma-cuma; kasih mengalir sesudahnya, sebagai respons. Inilah pola seluruh kehidupan Kristen: kita mengasihi karena Allah lebih dahulu mengasihi kita (1 Yohanes 4:19). Perempuan ini mengasihi dengan ekstravagan — air mata, rambut, minyak wangi mahal — karena ia menyadari betapa besar utang yang telah dihapuskan baginya. Simon, sebaliknya, hampir tidak menunjukkan kasih karena ia tidak merasa berutang. Teologi Reformed menegaskan: kedalaman kasih kita kepada Kristus berbanding lurus dengan kedalaman kesadaran kita akan dosa yang telah diampuni. Orang yang merasa dosanya kecil akan mengasihi sedikit.

Kalimat "orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih" adalah teguran tajam bagi moralisme. Bahayanya bukan terletak pada orang yang sungguh sedikit berdosa — sebab tak seorang pun demikian — melainkan pada orang yang merasa dirinya sedikit berdosa. Simon adalah potret orang religius yang menganggap dirinya cukup baik, sehingga kasihnya kepada Kristus dingin dan dangkal. Moralisme menumpulkan kasih karena ia mengaburkan kesadaran akan dosa. Semakin kita merasa benar, semakin sedikit kita mengasihi. Sebaliknya, semakin dalam kita melihat kedalaman dosa kita dan keluasan anugerah, semakin meluap kasih kita.

Dalam keluarga, ajarkan anak bahwa kasih kepada Tuhan bukan kewajiban yang dipaksakan, melainkan luapan dari hati yang telah diampuni. Ceritakan kisah perempuan ini kepada anak-anak sebagai gambaran bahwa tidak ada dosa yang terlalu besar bagi pengampunan Kristus. Ketika anak melakukan kesalahan besar dan merasa tidak layak, tunjukkan bahwa justru di sanalah anugerah terbesar dinyatakan. Dalam rumah, praktikkan pengampunan yang nyata dan murah hati, sehingga anak belajar bahwa diampuni itu membebaskan dan melahirkan kasih. Waspadai sikap "Simon" dalam diri kita — merasa lebih saleh sehingga dingin terhadap Kristus dan keras terhadap sesama.

Pokok Doa

  1. 1Bersyukur atas besarnya utang dosa yang telah Kristus hapuskan bagi kita.
  2. 2Memohon kesadaran yang lebih dalam akan dosa agar kasih kita kepada Kristus meluap.
  3. 3Berdoa agar keluarga dijauhkan dari sikap Simon yang merasa benar dan dingin.
  4. 4Mendoakan agar anak-anak memahami bahwa tak ada dosa terlalu besar bagi anugerah.

Bahan Renungan

Apakah kita lebih menyerupai perempuan yang meluap kasihnya atau Simon yang dingin, dan apa yang menyebabkan perbedaan itu?

Navigasi

BerandaArsipPenandaTentangMutiara
Beranda