Kasihilah Tuhan dan Sesamamu
Ayat Firman
Lukas 10:25-28
“Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?" Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup."”
Konteks
Seorang ahli Taurat mencoba menguji Yesus dengan pertanyaan tentang hidup kekal. Yesus mengarahkannya kembali kepada hukum Taurat, dan ahli Taurat itu merangkum seluruh hukum dalam dua perintah kasih. Percakapan ini menjadi pengantar bagi perumpamaan orang Samaria yang baik hati.
Renungan
Pertanyaan ahli Taurat itu — "apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" — mengandung asumsi yang keliru sejak awal: bahwa hidup kekal dapat "diperbuat" atau diperoleh melalui usaha. Yesus, dengan hikmat-Nya, tidak langsung membantah, melainkan mengarahkannya kembali kepada Taurat. Jawaban ahli Taurat sempurna: kasihilah Allah dengan segenap hati, jiwa, kekuatan, dan akal budi, serta kasihilah sesama seperti diri sendiri. Lalu Yesus berkata, "perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup." Sekilas ini tampak seperti keselamatan oleh perbuatan. Tetapi perhatikan: standar yang dituntut adalah kasih yang total dan sempurna — segenap, segenap, segenap, segenap. Tidak ada satu manusia berdosa pun yang sanggup memenuhinya. Yesus sebenarnya sedang menutup pintu pembenaran diri, menunjukkan bahwa Taurat menuntut kesempurnaan yang mustahil.
Di sinilah fungsi hukum dalam teologi Reformed menjadi jelas. Hukum bukan tangga menuju surga, melainkan cermin yang menyingkapkan ketidakmampuan kita. Ketika ahli Taurat itu kemudian bertanya "siapakah sesamaku?" — ia mencoba membatasi tuntutan hukum agar terjangkau. Inilah naluri setiap hati yang ingin membenarkan diri: mengecilkan standar Allah supaya dapat dipenuhi. Tetapi Allah tidak menurunkan standar-Nya. Justru karena tidak ada yang dapat mengasihi dengan sempurna, kita membutuhkan Kristus, yang mengasihi Allah dan sesama dengan sempurna menggantikan kita. Hidup kekal bukan upah perbuatan, melainkan karunia yang diberikan kepada mereka yang, karena gagal memenuhi hukum, berlari kepada anugerah Kristus.
Moralisme adalah jebakan yang persis dialami ahli Taurat ini: ia ingin "memperbuat" sesuatu untuk memperoleh hidup. Banyak orang Kristen pun terjebak berpikir bahwa kasih kepada Allah dan sesama adalah harga yang harus dibayar untuk keselamatan. Padahal urutannya terbalik: kita pertama-tama menerima hidup kekal melalui iman kepada Kristus, lalu kasih kepada Allah dan sesama mengalir sebagai buah, bukan akar. Jika kita berusaha mengasihi untuk diselamatkan, kita akan hancur di bawah beban hukum. Tetapi jika kita mengasihi karena telah diselamatkan, kasih itu menjadi sukacita, bukan beban.
Dalam keluarga, hati-hatilah agar tidak mengajarkan anak bahwa mereka harus "cukup baik" agar dikasihi Tuhan. Tunjukkan urutan Injil: Allah mengasihi kita lebih dahulu, dan kasih kita kepada-Nya dan sesama lahir sebagai respons. Diskusikan bahwa kasih sejati bukan sekadar perasaan, melainkan komitmen "segenap" — total kepada Allah dan nyata kepada sesama. Bantu anak melihat bahwa standar Allah begitu tinggi sehingga kita semua membutuhkan Juruselamat, dan bahwa justru kesadaran akan ketidakmampuan kita mengarahkan kita kepada Kristus. Latih keluarga mengasihi sesama secara konkret — tetangga, teman, bahkan yang berbeda — sebagai luapan kasih yang telah kita terima.
Pokok Doa
- 1Bersyukur bahwa hidup kekal adalah karunia, bukan upah dari perbuatan kita.
- 2Memohon kesadaran akan ketidakmampuan kita memenuhi hukum dengan sempurna.
- 3Berdoa agar kasih kepada Allah dan sesama mengalir sebagai buah keselamatan.
- 4Mendoakan agar keluarga mengasihi sesama secara konkret dan tanpa batas.
Bahan Renungan
Apakah kita cenderung berusaha "cukup baik" agar dikasihi Tuhan, dan bagaimana memahami bahwa kasih kita adalah buah, bukan syarat keselamatan?