Kembali

Mintalah, Maka Diberikan

LukasDoa dan Kemurahan Bapa

Ayat Firman

Lukas 11:9-13

"Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Bapamu yang di sorga, akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya."

Konteks

Setelah mengajar murid-murid berdoa dengan Doa Bapa Kami, Yesus melanjutkan dengan dorongan untuk berdoa dengan tekun. Ia menggunakan gambaran sahabat yang meminta roti tengah malam dan ayah yang memberi kepada anaknya. Lukas menutup ajaran ini dengan janji yang mengejutkan: Bapa memberikan Roh Kudus.

Renungan

Yesus memberi tiga perintah berurutan yang semakin intens: minta, cari, ketok. Ketiganya menggambarkan doa yang tekun dan tidak menyerah. Lalu Ia memberi jaminan: setiap yang meminta menerima, yang mencari mendapat, yang mengetok dibukakan. Namun puncak ajaran ini terletak pada ayat 13, di mana Lukas — secara khas berbeda dari Matius yang menulis "hal-hal yang baik" — mencatat bahwa Bapa "akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta." Inilah kunci penafsiran seluruh nas: pemberian terbesar dari doa bukanlah benda-benda yang kita inginkan, melainkan Allah sendiri melalui Roh-Nya. Yesus mengangkat tujuan doa dari sekadar memenuhi kebutuhan jasmani kepada menerima hadirat Allah yang menguduskan.

Dasar dari janji doa ini adalah karakter Bapa. Yesus berargumen dari yang lebih kecil kepada yang lebih besar: jika ayah duniawi yang berdosa pun tahu memberi yang baik kepada anaknya, betapa lebih lagi Bapa surgawi yang sempurna. Teologi Reformed menekankan bahwa doa berakar pada adopsi — kita berdoa sebagai anak kepada Bapa, bukan sebagai pengemis kepada orang asing. Hak untuk meminta ini adalah anugerah, diperoleh melalui Kristus yang menjadikan kita anak-anak Allah. Pemberian Roh Kudus menunjukkan bahwa Allah menjawab doa terutama dengan memberikan diri-Nya sendiri — sumber segala kebaikan. Allah yang berdaulat tidak terikat untuk memberi segala keinginan kita, tetapi Ia setia memberi apa yang terbaik: diri-Nya.

Moralisme mengubah doa menjadi mesin transaksi: jika aku cukup tekun, cukup beriman, cukup layak, maka Allah wajib memberi apa yang kuminta. Pemikiran ini menjadikan doa sebagai alat untuk memanipulasi Allah, dan ketika permintaan tidak dikabulkan, orang merasa Allah gagal atau imannya kurang. Tetapi nas ini bukan jaminan bahwa Allah memberi segala keinginan kita; ini jaminan bahwa Allah memberi Roh Kudus dan kebaikan sejati. Doa sejati bukan menundukkan kehendak Allah kepada kehendak kita, melainkan menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak Bapa yang sempurna. Ketekunan dalam doa bukan untuk memaksa Allah, melainkan untuk membentuk hati kita.

Dalam keluarga, ajarkan anak bahwa doa adalah percakapan dengan Bapa yang mengasihi, bukan daftar permintaan kepada mesin pengabul keinginan. Ketika doa anak belum dijawab seperti yang mereka harapkan, gunakan kesempatan itu untuk mengajarkan bahwa Bapa memberi yang terbaik, bukan selalu yang kita minta. Dorong keluarga berdoa dengan tekun dan jujur, sambil meminta hal yang terutama: Roh Kudus, hadirat Allah, dan hati yang menyerah pada kehendak-Nya. Tunjukkan melalui teladan bahwa orang tua pun bergantung pada Bapa surgawi. Ajak anak melihat bahwa pemberian terindah dalam doa adalah mengenal Allah lebih dekat, bukan sekadar mendapat apa yang mereka inginkan.

Pokok Doa

  1. 1Bersyukur bahwa kita boleh berdoa sebagai anak kepada Bapa yang mengasihi.
  2. 2Memohon Roh Kudus sebagai pemberian terbesar yang Bapa janjikan kepada yang meminta.
  3. 3Berdoa agar keluarga tekun berdoa tanpa menjadikan doa sebagai alat transaksi.
  4. 4Mendoakan agar hati kita diselaraskan dengan kehendak Bapa yang sempurna.

Bahan Renungan

Apakah doa kita lebih sering berisi permintaan akan benda atau permintaan akan Allah sendiri, dan bagaimana janji Roh Kudus mengubah cara kita berdoa?

Navigasi

BerandaArsipPenandaTentangMutiara
Beranda