Kembali

Hikmat Berseru di Tempat Umum

AmsalSeruan Hikmat

Ayat Firman

Amsal 8:1-5

Bukankah hikmat berseru-seru, dan kepandaian memperdengarkan suaranya? Di atas tempat-tempat yang tinggi di tepi jalan, di persimpangan jalan-jalan, di sanalah ia berdiri, di samping pintu-pintu gerbang, di depan kota, pada jalan masuk, ia berseru dengan nyaring: "Hai para laki-laki, kepadamulah aku berseru, kepada anak-anak manusia kutujukan suaraku. Hai orang yang tak berpengalaman, tuntutlah kecerdasan, hai orang bebal, mengertilah dalam hatimu."

Konteks

Dalam pasal 8, Hikmat dipersonifikasikan sebagai perempuan yang berseru di tempat umum. Ia tidak bersembunyi melainkan memanggil semua orang dengan terbuka, terutama yang paling membutuhkan.

Renungan

Salomo mempersonifikasikan Hikmat sebagai seseorang yang berseru-seru di tempat paling umum: di atas tempat tinggi, di tepi jalan, di persimpangan, di pintu gerbang kota. Perhatikan lokasi-lokasi ini — semuanya adalah tempat ramai, tempat orang berlalu-lalang dan keputusan dibuat. Hikmat tidak menyembunyikan diri di menara gading bagi segelintir elit; ia berseru terbuka kepada semua orang. Dan perhatikan kepada siapa ia berseru: "orang yang tak berpengalaman" dan "orang bebal." Bukan kepada para bijak yang sudah merasa pandai, melainkan kepada mereka yang paling membutuhkan, yang paling jauh dari hikmat. Inilah keluasan undangan hikmat — ia memanggil justru mereka yang merasa tidak layak dipanggil.

Di balik gambaran ini ada kebenaran yang dalam tentang Allah yang berinisiatif. Hikmat tidak menunggu orang datang mencarinya; ia keluar dan berseru. Ini menggemakan natur Allah yang mencari manusia, bukan manusia yang mencari Allah. Dalam keberdosaan, manusia tidak mencari Allah; Roma 3:11 berkata, "tidak ada yang mencari Allah." Maka jika ada pengenalan akan Allah sama sekali, itu karena Allah lebih dahulu berseru, memanggil, mencari. Personifikasi Hikmat dalam pasal 8 ini secara mendalam menunjuk kepada Kristus, yang oleh Paulus disebut hikmat Allah. Seperti Hikmat yang berseru di persimpangan, demikian Kristus datang mencari yang terhilang, memanggil orang berdosa kepada pertobatan, berseru, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu" (Matius 11:28).

Kita harus menolak gagasan bahwa hikmat hanya tersedia bagi orang pintar atau yang sudah saleh. Justru sebaliknya: hikmat berseru kepada yang bebal dan tak berpengalaman. Ini menghancurkan kesombongan rohani. Tidak seorang pun terlalu berdosa, terlalu bodoh, atau terlalu jauh untuk dipanggil. Namun ini juga berarti bahwa langkah pertama menuju hikmat adalah mengakui bahwa kita adalah "orang yang tak berpengalaman" yang membutuhkan seruan itu. Orang yang merasa sudah bijak dengan kekuatannya sendiri justru menutup telinga terhadap seruan Hikmat. Inilah ironi: yang merasa pandai tidak mendengar, sementara yang mengakui kebodohannya menerima. Anugerah datang kepada mereka yang sadar akan kebutuhan mereka, bukan kepada mereka yang merasa cukup.

Dalam keluarga, gambaran Hikmat yang berseru memberi kita teladan dan pengharapan. Teladan: seperti Hikmat yang berseru dengan nyaring di tempat-tempat keputusan dibuat, demikian kita dipanggil untuk mengangkat suara kebenaran dalam keseharian keluarga — di meja makan, di perjalanan, di tengah keputusan hidup. Kebenaran Allah tidak boleh disembunyikan, melainkan diserukan dengan jelas. Pengharapan: undangan hikmat terbuka bagi setiap anggota keluarga, betapapun jauh mereka tampak. Tidak ada anak yang terlalu jauh, tidak ada hati yang terlalu keras untuk dipanggil oleh Allah. Secara praktis: jadikan kebenaran Allah hadir dan terdengar dalam rutinitas keluarga, bukan tersembunyi untuk momen khusus saja. Dan teruslah berseru — melalui doa dan kasih — bagi anggota keluarga yang sedang menjauh, percaya bahwa Allah yang berseru lebih dahulu mampu menjangkau hati mereka.

Pokok Doa

  1. 1Bersyukur bahwa Allah berinisiatif berseru kepada kami yang tidak mencari Dia lebih dahulu.
  2. 2Memohon kerendahan hati untuk mengakui bahwa kami membutuhkan hikmat yang berseru itu.
  3. 3Berdoa agar kebenaran Allah terdengar jelas dalam rutinitas sehari-hari keluarga kami.
  4. 4Mendoakan agar setiap anggota keluarga, betapapun jauh, mendengar seruan Hikmat.

Bahan Renungan

Di "persimpangan" atau keputusan apa dalam hidup kita sekarang, kita perlu mendengarkan seruan hikmat Allah dengan lebih sungguh?

Navigasi

BerandaArsipPenandaTentangMutiara
Beranda