Hikmat yang Ada Sebelum Dunia Dijadikan
Ayat Firman
Amsal 8:22-31
“Tuhan telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya, sebagai perbuatan-Nya yang pertama-tama pada masa purbakala. Sudah pada zaman dahulu kala aku dibentuk, pada mulanya, sebelum bumi ada... Ketika Ia menetapkan langit, aku ada di sana... maka aku ada serta-Nya sebagai anak kesayangan, setiap hari aku menjadi kesenangan-Nya, dan senantiasa bermain-main di hadapan-Nya, bermain-main di atas muka bumi-Nya, dan anak-anak manusia menjadi kesenanganku.”
Konteks
Bagian agung ini menggambarkan Hikmat sebagai yang hadir bersama Allah sebelum penciptaan. Sepanjang sejarah gereja, banyak yang melihat bagian ini sebagai bayangan tentang Kristus, Hikmat Allah yang kekal.
Renungan
Bagian ini mengangkat Hikmat ke ketinggian yang menakjubkan. Hikmat bukan sekadar nasihat praktis untuk hidup sehari-hari; ia hadir bersama Allah "sebagai permulaan pekerjaan-Nya... sebelum bumi ada." Ketika Allah menetapkan langit, menentukan batas laut, meletakkan dasar-dasar bumi, Hikmat sudah ada di sana. Lebih dari itu, ia digambarkan dengan bahasa yang penuh keintiman dan sukacita: "aku ada serta-Nya sebagai anak kesayangan, setiap hari aku menjadi kesenangan-Nya, dan senantiasa bermain-main di hadapan-Nya." Perhatikan nuansa ini — alam semesta tidak diciptakan dalam ketegangan, melainkan dalam sukacita dan kesenangan. Hikmat yang membentuk dunia adalah hikmat yang penuh kegembiraan, dan seluruh ciptaan memancarkan keindahan dan keteraturan dari Hikmat ini.
Sepanjang sejarah gereja, orang-orang percaya melihat dalam bagian ini bayangan yang dalam tentang Kristus. Yohanes 1 menyatakan bahwa Firman ada pada mulanya bersama Allah, dan segala sesuatu dijadikan oleh Dia. Kolose 1:16 menegaskan bahwa di dalam Kristus telah diciptakan segala sesuatu, dan Paulus secara langsung menyebut Kristus "hikmat Allah" (1 Korintus 1:24). Meskipun kita harus berhati-hati untuk tidak menyamakan secara sederhana Hikmat dalam Amsal 8 dengan Pribadi kedua Tritunggal, jelas bahwa bagian ini mengarahkan pandangan kita kepada Kristus, melalui siapa dan untuk siapa segala sesuatu dijadikan. Kebenaran ini megah: Dia yang mati di salib bagi kita adalah Dia yang melalui-Nya bintang-bintang digantungkan dan lautan diberi batas. Hikmat yang kekal ini berkenan menjadi manusia untuk menyelamatkan kita.
Apa implikasinya? Pertama, ini menghancurkan pandangan bahwa iman adalah urusan kecil di sudut hidup. Hikmat yang kita kejar adalah hikmat yang menjadi dasar seluruh alam semesta. Mengenal Allah bukanlah hobi rohani, melainkan menyentuh realitas paling dasar dari segala yang ada. Kedua, ini meneguhkan kedaulatan Allah atas seluruh ciptaan. Dunia bukan hasil kebetulan acak, melainkan karya Hikmat yang penuh tujuan dan sukacita. Setiap atom, setiap hukum alam, setiap keindahan mencerminkan Hikmat Sang Pencipta. Maka kita tidak hidup dalam alam semesta yang dingin dan tak bermakna, melainkan dalam ciptaan yang dirancang oleh Hikmat yang mengasihi. Dan karena Hikmat ini "bermain-main di atas muka bumi-Nya, dan anak-anak manusia menjadi kesenangannya," kita tahu bahwa Allah menciptakan dengan kasih, dan manusia adalah objek perhatian-Nya yang istimewa.
Dalam keluarga, kebenaran ini mengangkat pandangan kita. Ketika kita memandang langit malam, gunung, lautan, dan keajaiban tubuh manusia bersama anak-anak, kita dapat mengajarkan bahwa semua ini bukan kebetulan, melainkan karya Hikmat Allah yang penuh sukacita. Alam menjadi buku pelajaran tentang Sang Pencipta. Secara praktis: ajaklah anak-anak mengamati ciptaan dengan kekaguman, dan kaitkan keindahan dan keteraturan alam dengan Hikmat Allah yang merancangnya. Tunjukkan bahwa Allah menciptakan bukan dengan keterpaksaan melainkan dengan kesenangan, dan bahwa kita — anak-anak manusia — adalah kesenangan-Nya yang istimewa. Lebih dari itu, arahkan keluarga kepada Kristus, Hikmat yang kekal, yang melaluinya segala sesuatu dijadikan dan yang olehnya kita ditebus. Keluarga yang memandang dunia melalui kacamata ini hidup dengan kekaguman dan syukur, bukan dengan kekosongan.
Pokok Doa
- 1Bersyukur bahwa segala sesuatu dijadikan oleh dan untuk Kristus, Hikmat Allah yang kekal.
- 2Memohon mata yang melihat keindahan ciptaan sebagai cerminan Hikmat Sang Pencipta.
- 3Berdoa agar keluarga kami memandang dunia dengan kekaguman dan syukur, bukan kekosongan.
- 4Mendoakan agar anak-anak mengenal bahwa mereka adalah kesenangan Allah yang istimewa.
Bahan Renungan
Apa di alam ciptaan yang paling membuat keluarga kita kagum, dan bagaimana itu menunjukkan Hikmat dan kasih Sang Pencipta?