Kembali

Hati yang Mau Diajar atau Hati yang Menolak

AmsalMenerima Teguran

Ayat Firman

Amsal 9:7-9

Siapa mendidik seorang pencemooh, mendatangkan cemooh kepada dirinya sendiri, dan siapa mengecam orang fasik, mendapat cela. Janganlah mengecam seorang pencemooh, supaya engkau jangan dibencinya, kecamlah orang bijak, maka engkau akan dikasihinya. Berilah orang bijak nasihat, maka ia akan menjadi lebih bijak, ajarilah orang benar, maka pengetahuannya akan bertambah.

Konteks

Bagian ini membandingkan dua jenis hati: pencemooh yang menolak teguran dan orang bijak yang menerimanya. Perbedaannya bukan terletak pada kepintaran, melainkan pada kesediaan untuk diajar.

Renungan

Salomo menyingkapkan sebuah kebenaran yang tajam tentang respons manusia terhadap teguran. Ada dua jenis hati: pencemooh dan orang bijak. Yang mengejutkan, perbedaan keduanya tidak terletak pada kecerdasan atau pengetahuan, melainkan pada bagaimana mereka menanggapi koreksi. Pencemooh, ketika dikecam, membenci orang yang mengecamnya; orang bijak, ketika dikecam, justru mengasihi orang itu. "Berilah orang bijak nasihat, maka ia akan menjadi lebih bijak." Perhatikan: orang bijak menjadi lebih bijak bukan karena ia sudah tahu segalanya, melainkan karena ia mau menerima nasihat dan terus bertumbuh. Inilah tanda hati yang bijak — bukan kesempurnaan, melainkan kerendahan hati untuk diajar. Sebaliknya, pencemooh tetap dalam kebodohannya bukan karena ia kurang pintar, melainkan karena ia menolak untuk dikoreksi.

Di balik perbedaan ini terletak kondisi hati di hadapan Allah. Kesediaan untuk menerima teguran adalah cerminan dari kerendahan hati, dan kerendahan hati adalah tanah tempat anugerah bekerja. Alkitab berulang kali menyatakan bahwa "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati" (Yakobus 4:6, 1 Petrus 5:5). Pencemooh adalah gambaran orang yang congkak — ia merasa tidak membutuhkan koreksi, merasa dirinya sudah cukup. Inilah inti dari keberdosaan manusia: keangkuhan yang menolak untuk diajar oleh Allah atau sesama. Sebaliknya, hati yang mau menerima teguran adalah hati yang telah disentuh oleh anugerah, yang menyadari keterbatasan dan kebutuhannya. Kemampuan menerima koreksi dengan kasih bukanlah bakat alami, melainkan buah dari hati yang telah direndahkan oleh Allah.

Kita harus jujur memeriksa diri di sini, dan menghindari kesalahpahaman. Ayat ini tidak mengajarkan bahwa kita harus menjadi orang bijak terlebih dahulu agar layak menerima nasihat — seakan menerima teguran adalah prestasi yang membuat kita istimewa. Sebaliknya, langkah pertama menuju hikmat justru adalah mengakui bahwa kita lebih sering bersikap seperti pencemooh daripada yang kita sadari. Betapa sering kita membela diri ketika ditegur, mencari-cari alasan, atau diam-diam membenci orang yang mengoreksi kita? Hati kita secara alami menolak koreksi karena kita ingin merasa benar. Hanya ketika kita mengakui kecenderungan ini dan membawanya kepada Allah, kita mulai berubah. Dan perubahan itu sendiri adalah karya anugerah — Roh Kudus yang melembutkan hati yang keras menjadi hati yang mau diajar.

Dalam keluarga, ayat ini berbicara pada dua arah. Pertama, ia mengajarkan kita membedakan kapan dan kepada siapa kita memberi teguran. Tidak setiap teguran diterima dengan baik; ada saat di mana mendesak koreksi pada hati yang menolak hanya menimbulkan kebencian. Hikmat mengajarkan kepekaan tentang waktu dan cara. Kedua, dan lebih penting, ayat ini menantang kita semua — orang tua dan anak — untuk memeriksa apakah kita memiliki hati yang mau diajar. Orang tua, apakah Anda mau menerima koreksi, bahkan dari anak Anda atau pasangan Anda? Anak-anak yang melihat orang tua menerima teguran dengan rendah hati belajar bahwa menerima koreksi adalah tanda kekuatan, bukan kelemahan. Secara praktis: ciptakan budaya keluarga di mana koreksi diberikan dengan kasih dan diterima dengan syukur, bukan dengan pembelaan diri. Rayakan ketika seseorang mau mengakui kesalahannya. Keluarga yang mau diajar adalah keluarga yang terus bertumbuh dalam hikmat.

Pokok Doa

  1. 1Bersyukur bahwa Allah dalam kasih-Nya menegur kami untuk membentuk kami.
  2. 2Memohon hati yang rendah dan mau diajar, bukan hati pencemooh yang menolak koreksi.
  3. 3Berdoa agar kami dapat memberi dan menerima teguran dengan kasih dan kebijaksanaan.
  4. 4Mendoakan agar keluarga kami menjadi tempat di mana koreksi diterima dengan syukur.

Bahan Renungan

Bagaimana biasanya kita bereaksi ketika ditegur, apakah seperti pencemooh yang membela diri atau orang bijak yang berterima kasih?

Navigasi

BerandaArsipPenandaTentangMutiara
Beranda