Kembali

Kasih yang Menutupi

AmsalKasih dan Pengampunan

Ayat Firman

Amsal 10:11-12

Mulut orang benar adalah sumber kehidupan, tetapi mulut orang fasik menyembunyikan kelaliman. Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran.

Konteks

Salomo menyatukan dua ayat tentang lidah dan hati: mulut yang menjadi sumber kehidupan dan kasih yang menutupi pelanggaran. Keduanya menyingkapkan bahwa perkataan kita lahir dari kondisi batin yang paling dalam.

Renungan

Mulut orang benar disebut oleh Salomo sebagai sumber kehidupan, sebuah gambaran mata air yang jernih dan menyegarkan, yang menghidupkan setiap jiwa yang meminumnya. Dari mulut yang sama dapat keluar berkat atau kutuk, penghiburan atau racun, pujian atau hujatan, dan Salomo menegaskan bahwa apa yang keluar dari mulut sesungguhnya menyingkapkan dengan jujur apa yang tersimpan jauh di dalam hati. Mulut orang fasik, sebaliknya, menyembunyikan kelaliman, artinya kata-katanya yang manis menjadi topeng yang menutupi niat jahat dan rencana yang merusak. Lalu Salomo menukik ke akar persoalan: kebencian menimbulkan pertengkaran yang tiada henti, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran dengan pengampunan. Inilah dua kekuatan rohani yang terus-menerus berperang di dalam setiap relasi manusia, dan masing-masing mengalir dari hati yang berbeda secara fundamental. Lidah hanyalah corong; hatilah sumber sejati dari setiap kata yang kita ucapkan kepada sesama.

Dalam terang teologi Reformed, kita memahami bahwa lidah adalah cermin hati, dan hati manusia secara alami telah rusak total oleh dosa sejak kejatuhan. Tuhan Yesus sendiri berkata bahwa dari kelimpahan hati mulut berbicara, dan inilah yang mempertegas doktrin kerusakan total: tidak ada satu bagian pun dari diri manusia yang luput dari pengaruh dosa, termasuk lidah yang kecil namun berkuasa besar itu. Maka mulut yang sungguh menjadi sumber kehidupan hanya mungkin terjadi bila hati seseorang telah lebih dahulu diperbarui dan dilahirkan kembali oleh Roh Kudus. Frasa kasih menutupi segala pelanggaran kemudian dikutip oleh Rasul Petrus, dan ia menggemakan inti Injil itu sendiri: kasih Allah dalam Kristus menutupi dosa-dosa kita, bukan dengan menyembunyikannya seolah tidak ada, melainkan dengan menanggungnya secara nyata di atas kayu salib. Kasih yang menutupi bukanlah kepura-puraan yang dangkal, melainkan pengampunan yang sangat mahal harganya.

Kita harus dengan tegas menolak pembacaan moralistik yang berkata, berusahalah keras berkata-kata baik supaya engkau menjadi orang benar di hadapan Allah. Pembacaan seperti itu membalik urutan Injil dan menyesatkan banyak orang. Kita tidak menjadi benar karena lidah kita terlatih lembut dan sopan; sebaliknya, lidah kita dilembutkan justru karena kita terlebih dahulu telah dibenarkan oleh anugerah dan hati kita diubahkan oleh Roh. Banyak orang berusaha sekuat tenaga menahan kata-kata kasar hanya dengan kekuatan kemauan dan disiplin diri, namun kebencian tetap mendidih di dalam hati dan suatu saat pasti meletus tak terkendali. Penyembuhan yang sejati bukanlah sekadar pengekangan lidah secara lahiriah, melainkan pembaruan hati yang menyeluruh oleh anugerah Allah. Hanya orang yang telah sungguh-sungguh menerima pengampunan secara cuma-cuma dari Kristuslah yang akhirnya sanggup menutupi pelanggaran orang lain dengan kasih yang tulus dan tahan lama, bukan dengan kepahitan terselubung.

Keluarga adalah tempat di mana lidah paling sering melukai sekaligus paling sering membutuhkan kasih yang menutupi. Suami dan istri, orang tua dan anak, hidup begitu dekat dan akrab sehingga gesekan, salah paham, dan kekecewaan tak terhindarkan terjadi dari hari ke hari. Pertanyaan pentingnya adalah, apakah rumah kita digerakkan oleh kebencian yang terus mengingat-ingat dan mengungkit kesalahan lama, atau oleh kasih yang mengampuni sebagaimana Kristus telah mengampuni kita tanpa batas? Latihlah lidah yang menyegarkan dan menghidupkan di dalam rumah: berkatilah anak-anakmu dengan kata-kata yang membangun, ampunilah pasanganmu tanpa mengungkit luka lama, dan jadikanlah rumah sebuah mata air kehidupan yang menyejukkan setiap penghuninya. Sebab di mana kasih dengan tulus menutupi pelanggaran, di situlah Injil sedang sungguh-sungguh dihidupi dan dinyatakan, dan anak-anak belajar mengenal kasih Allah melalui kasih yang mereka alami di rumah setiap hari.

Pokok Doa

  1. 1Bersyukur atas kebenaran firman Tuhan dalam Amsal 10:11-12 yang menerangi jalan keluarga kami.
  2. 2Mohon Roh Kudus memperbarui hati kami agar memahami Kasih yang Menutupi bukan sebagai aturan tetapi sebagai anugerah.
  3. 3Mohon perlindungan dari kesombongan rohani dan ketergantungan pada kekuatan diri; ajarlah kami bergantung hanya pada anugerah Kristus.
  4. 4Mohon Tuhan membentuk keluarga kami menjadi saksi kebenaran dan kasih-Nya di tengah dunia yang membutuhkan terang-Nya.

Navigasi

BerandaArsipPenandaTentangMutiara
Beranda