Perak Pilihan
Ayat Firman
Amsal 10:19-21
“Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi. Lidah orang benar seperti perak pilihan, tetapi pikiran orang fasik sedikit nilainya. Bibir orang benar menggembalakan banyak orang, tetapi orang bodoh mati karena kurang akal budi.”
Konteks
Salomo memberi tiga amsal tentang nilai dan bahaya perkataan. Kata-kata kita dapat menjadi perak pilihan yang menggembalakan jiwa, atau banjir tak terkendali yang menyeret kepada dosa.
Renungan
Salomo membuka rangkaian amsal ini dengan sebuah peringatan yang sangat tajam dan tak terbantahkan: di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran. Semakin banyak kata yang mengalir keluar tanpa kendali dan tanpa pikir panjang, semakin besar pula kemungkinan dosa menyusup di antaranya, sebab kata-kata yang tak terjaga membawa serta kesombongan, gosip yang merusak, dusta yang menipu, dan luka yang menyakiti hati sesama. Sebaliknya, orang yang menahan bibirnya disebut berakal budi oleh Salomo, bukan karena ia menjadi bisu dan tidak pernah berbicara, melainkan karena ia bijak menimbang dengan saksama sebelum mengucapkan sepatah kata. Lidah orang benar lalu dibandingkan dengan perak pilihan, yaitu logam mulia yang murni, berharga, dan teruji nilainya, sementara pikiran orang fasik dinilai murah dan tak berharga. Puncak dari ketiga amsal ini sungguh luar biasa: bibir orang benar menggembalakan banyak orang, sebuah gambaran indah bahwa kata-kata dapat menjadi makanan rohani yang menuntun dan memelihara jiwa-jiwa yang lapar.
Dalam kerangka berpikir Reformed, kita menyadari sepenuhnya bahwa kuasa kata bukanlah perkara sepele yang dapat diremehkan, sebab Allah sendiri menciptakan seluruh alam semesta melalui firman-Nya dan menyelamatkan kita yang berdosa juga melalui firman yang diberitakan. Lidah yang menggembalakan banyak orang menggemakan dengan jelas pelayanan firman, di mana melalui mulut manusia yang lemah dan terbatas, Roh Kudus berkenan menyampaikan kehidupan kekal kepada para pendengar. Inilah alasan mengapa tradisi Reformed begitu menekankan pentingnya pemberitaan firman sebagai sarana anugerah yang utama dan sentral dalam ibadah. Namun ayat ini juga dengan jujur menyatakan bahwa lidah hanya dapat menjadi perak pilihan yang berharga apabila hati telah lebih dahulu dimurnikan oleh anugerah, sebab dari hati yang fasik dan najis tidak mungkin keluar kata-kata yang sungguh menggembalakan dan menghidupkan. Penjagaan lidah dengan demikian adalah buah dari pengudusan oleh Roh, bukan sekadar teknik retorika yang dipelajari.
Kita harus menolak dengan tegas pembacaan moralistik yang mereduksi ayat-ayat ini menjadi sekadar nasihat etiket dan tata krama sosial, yaitu bicaralah lebih sedikit supaya engkau terdengar lebih bijak di mata orang. Bahaya yang nyata dari banyak bicara tidak akan pernah diselesaikan dengan disiplin lahiriah semata, sebab orang yang berhasil menutup mulutnya pun masih bisa menyimpan kebencian dan kepahitan yang penuh dosa di dalam hatinya. Akar persoalan yang sesungguhnya terletak jauh di dalam hati, dan hanya Injil yang berkuasa menjangkau dan mengubah hati manusia. Ketika kita sungguh menyadari betapa Allah dengan sabar menahan murka-Nya yang adil terhadap kita dan justru berbicara anugerah serta pengampunan kepada kita yang penuh dosa, maka hati kita pun ikut dilembutkan untuk berbicara dengan hikmat dan kasih kepada sesama. Kita tidak menahan lidah supaya terlihat bijak dan dihormati; kita berbicara dengan bijak karena telah diperbarui oleh Sang Firman yang hidup, Yesus Kristus.
Keluarga adalah ladang utama dan paling subur bagi penerapan pelajaran berharga ini. Sungguh, berapa banyak luka mendalam dalam rumah tangga yang sebenarnya lahir dari kata yang terlalu cepat terlontar dan terlalu banyak diucapkan tanpa pikir? Orang tua, jadikanlah lidahmu perak pilihan yang berharga bagi anak-anakmu: berbicaralah untuk menggembalakan dan menuntun jiwa mereka, bukan untuk merendahkan dan menghancurkan semangat mereka; pujilah mereka dengan tulus dan tegurlah dengan kasih yang nyata. Ajarlah anak-anakmu untuk menimbang setiap kata dengan hati-hati sebelum diucapkan, dan tunjukkanlah melalui teladan bahwa keheningan yang penuh hikmat jauh lebih berharga daripada banyak bicara yang kosong dan melukai. Biarlah rumah menjadi tempat yang aman di mana kata-kata membangun, menguatkan, dan menghidupkan setiap penghuninya, sehingga keluarga itu mencerminkan keindahan Firman yang telah menghidupkan kita dari kematian rohani.
Pokok Doa
- 1Bersyukur atas kebenaran firman Tuhan dalam Amsal 10:19-21 yang menerangi jalan keluarga kami.
- 2Mohon Roh Kudus memperbarui hati kami agar memahami Perak Pilihan bukan sebagai aturan tetapi sebagai anugerah.
- 3Mohon perlindungan dari kesombongan rohani dan ketergantungan pada kekuatan diri; ajarlah kami bergantung hanya pada anugerah Kristus.
- 4Mohon Tuhan membentuk keluarga kami menjadi saksi kebenaran dan kasih-Nya di tengah dunia yang membutuhkan terang-Nya.