Menghina Orang Miskin, Menghina Penciptanya
Ayat Firman
Amsal 14:31
“Siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia.”
Konteks
Amsal ini menempatkan perlakuan terhadap orang miskin dalam kerangka teologis: yang menindas mereka menghina Allah sang Pencipta, sedang yang berbelas kasihan memuliakan-Nya. Ini berakar pada doktrin penciptaan manusia menurut gambar Allah. Dalam tradisi hikmat, kekayaan dan kemiskinan sama-sama berada dalam tangan Sang Pencipta.
Renungan
Perhatikan logika teologis yang radikal dalam ayat ini. Menindas orang miskin tidak hanya disebut sebagai kejahatan sosial, melainkan sebagai penghinaan terhadap Allah: "Siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya." Mengapa? Karena orang miskin pun, sama seperti orang kaya, diciptakan menurut gambar Allah. Ketika kita merendahkan, memandang hina, atau mengeksploitasi orang yang lemah, kita sesungguhnya sedang menyatakan penghinaan kita terhadap Tangan yang menciptakan mereka. Sebaliknya, "siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia." Belas kasihan kepada yang lemah adalah bentuk penyembahan, sebuah tindakan yang memuliakan Allah. Salomo menghancurkan pandangan dunia yang menilai manusia berdasarkan kekayaan dan status. Di mata Allah, orang miskin bukanlah objek yang dapat diabaikan atau dimanfaatkan, melainkan ciptaan yang memikul gambar-Nya, yang martabatnya berasal dari Sang Pencipta, bukan dari rekening banknya.
Di sinilah kita melihat hubungan antara doktrin penciptaan dan kedaulatan Allah. Amsal 22:2 berkata, "Orang kaya dan orang miskin bertemu; yang membuat mereka semua ialah Tuhan." Kemiskinan dan kekayaan bukanlah ukuran nilai seseorang di hadapan Allah, melainkan keadaan yang berada dalam pemerintahan-Nya yang berdaulat. Allah yang sama menciptakan keduanya, dan Ia berdaulat atas keadaan hidup setiap orang. Maka ketika orang kaya menindas orang miskin, ia sedang melawan tatanan ciptaan Allah dan menempatkan dirinya di atas Sang Pencipta. Inilah keangkuhan yang paling dalam: menganggap diri lebih berharga daripada sesama yang sama-sama dibentuk dari debu. Total depravity terlihat jelas di sini, sebab hati manusia secara alami memandang rendah yang lemah dan menjilat yang kuat. Hanya anugerah yang dapat membalikkan pandangan ini, sehingga kita melihat gambar Allah dalam diri yang paling hina sekalipun.
Namun janganlah belas kasihan kepada orang miskin menjadi cara moralistik untuk merasa benar atau memperoleh perkenanan Allah. Renungkanlah Injil: Allah Sang Pencipta yang kaya dalam segala kemuliaan menjadi miskin demi kita. "Sekalipun Ia kaya, Ia menjadi miskin karena kamu, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya." Kristus tidak hanya menaruh belas kasihan kepada orang miskin; Ia menjadi miskin, lahir di kandang, tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya, dan mati telanjang di kayu salib. Allah memuliakan diri-Nya dengan mengangkat yang lemah dan miskin. Maka belas kasihan kita kepada orang miskin bukanlah jasa yang kita kumpulkan, melainkan respons terhadap kemiskinan Kristus yang menjadikan kita kaya secara rohani. Kita dahulu miskin dan tak berdaya, namun Allah berbelas kasihan kepada kita. Bagaimana mungkin kita yang telah dikasihani menghina sesama kita yang lemah?
Dalam keluarga, periksalah dengan jujur bagaimana Anda dan anak-anak memandang dan memperlakukan orang miskin. Bagaimana keluarga Anda berbicara tentang pembantu rumah tangga, sopir, pedagang kecil, atau pengemis? Apakah dengan rasa hormat sebagai sesama pemikul gambar Allah, atau dengan nada merendahkan? Anak-anak menyerap sikap orang tua dengan tajam; jika mereka melihat Anda kasar kepada pelayan restoran tetapi hormat kepada atasan, mereka belajar menilai manusia berdasarkan status. Ajarkan bahwa setiap orang, tanpa memandang kekayaan, memikul gambar Allah dan layak dihormati. Carilah cara konkret untuk memuliakan Allah melalui belas kasihan: melibatkan anak dalam memberi kepada yang berkekurangan, memperlakukan setiap pekerja dengan hormat, dan menolak budaya yang memandang rendah yang miskin. Dan kaitkan selalu dengan Injil: kita melayani yang miskin karena Sang Pencipta kita menjadi miskin demi kita. Berdoalah agar Allah membuka mata keluarga untuk melihat-Nya dalam wajah yang paling lemah.
Pokok Doa
- 1Bersyukur atas Kristus yang menjadi miskin supaya kita menjadi kaya secara rohani.
- 2Memohon mata yang melihat gambar Allah dalam setiap orang, termasuk yang paling lemah.
- 3Berdoa agar keluarga memperlakukan setiap orang dengan hormat, tanpa memandang status.
- 4Mendoakan agar belas kasihan kepada yang miskin menjadi cara keluarga memuliakan Allah.
Bahan Renungan
Bagaimana cara kita berbicara tentang dan memperlakukan orang yang melayani kita sehari-hari?