Kembali

Permainan Pembeli dan Permata Bibir yang Berilmu

AmsalPermainan Pembeli dan Permata

Ayat Firman

Amsal 20:14-15

Tidak baik, tidak baik, kata si pembeli, tetapi begitu ia pergi, ia memuji dirinya. Sekalipun ada emas dan permata banyak, yang paling berharga ialah bibir yang berpengetahuan.

Konteks

Tidak baik, tidak baik, kata si pembeli, tetapi begitu ia pergi, ia memuji dirinya, demikian Amsal 20:14. Dengan humor yang tajam, Salomo melukiskan adegan tawar-menawar yang sangat manusiawi.

Renungan

Tidak baik, tidak baik, kata si pembeli, tetapi begitu ia pergi, ia memuji dirinya, demikian Amsal 20:14. Dengan humor yang tajam, Salomo melukiskan adegan tawar-menawar yang sangat manusiawi. Si pembeli merendahkan barang dagangan di hadapan penjual, berkata bahwa kualitasnya buruk dan harganya terlalu tinggi, semata-mata untuk menekan harga. Namun setelah transaksi selesai dan ia berjalan pergi, ia bermegah atas barang yang baru saja ia dapatkan dengan murah. Ayat ini menyingkap kelicikan kecil yang sering kita anggap wajar dalam urusan jual-beli, namun sesungguhnya mengandung ketidakjujuran. Si pembeli berkata sesuatu yang tidak ia percayai demi keuntungannya sendiri. Firman mengamati realitas hati manusia berdosa tanpa menutup-nutupinya. Memang ini tampak seperti hal sepele, tetapi justru dalam hal-hal sepele inilah karakter sejati seseorang terungkap. Orang yang membenarkan ketidakjujuran kecil demi keuntungan kecil sedang melatih hatinya untuk ketidakjujuran yang lebih besar. Integritas diuji bukan hanya dalam keputusan besar, melainkan dalam transaksi sehari-hari yang tampaknya tidak penting.

Ayat 15 mengangkat pandangan kita kepada harta yang sejati: sekalipun ada emas dan permata banyak, yang paling berharga ialah bibir yang berpengetahuan. Salomo menempatkan perkataan yang berilmu di atas emas dan permata. Mengapa? Karena emas dan permata, betapa pun langkanya, hanyalah benda mati. Tetapi bibir yang berpengetahuan, yang mengucapkan hikmat dan kebenaran, adalah permata hidup yang membawa terang ke dalam jiwa manusia. Bandingkanlah ayat ini dengan ayat sebelumnya: si pembeli berbohong demi mendapatkan emas dan permata, padahal harta yang jauh lebih berharga, yakni perkataan yang penuh hikmat dan kejujuran, justru ia korbankan demi keuntungan kecil. Inilah ironi yang ditunjukkan Firman. Moralisme menilai manusia dari kekayaan yang ia kumpulkan; hikmat Allah menilai manusia dari perkataan yang ia ucapkan, sebab perkataan adalah cermin hati. Bibir yang berpengetahuan adalah perhiasan jiwa yang ditebus dan diperbarui oleh anugerah.

Keluarga, ayat-ayat ini menantang kita untuk memeriksa kejujuran kita dalam hal-hal kecil dan menilai kembali apa yang sungguh berharga. Ajarlah anak-anak bahwa kejujuran berlaku di mana saja, termasuk di pasar dan dalam transaksi sehari-hari; jangan biarkan mereka belajar bahwa berbohong sedikit demi keuntungan adalah hal yang lumrah. Tunjukkan bahwa karakter teruji justru dalam perkara yang tampak sepele. Pada saat yang sama, tinggikanlah nilai perkataan yang berhikmat di rumah ini. Hargailah lebih daripada harta benda anak yang berkata jujur dan bijak. Berdoalah agar Tuhan memberi setiap anggota keluarga bibir yang berpengetahuan, yang mengucapkan kebenaran dengan kasih, dan hati yang berintegritas dalam perkara besar maupun kecil, sehingga hidup kita menampilkan harta yang sejati di hadapan Allah dan manusia.

Pokok Doa

  1. 1Tuhan, ajar kami jujur dalam hal-hal kecil, sebab di situ karakter sejati teruji.
  2. 2Tinggikan nilai perkataan yang berhikmat di atas harta benda dalam rumah kami.
  3. 3Beri setiap anggota keluarga bibir yang berpengetahuan dan hati yang berintegritas.

Navigasi

BerandaArsipPenandaTentangMutiara
Beranda