Kembali

Jangan Iri kepada Orang Berdosa

AmsalPengharapan kekal mengalahkan iri hati

Ayat Firman

Amsal 23:17-18

Janganlah hatimu iri kepada orang-orang yang berdosa, tetapi takutlah akan Tuhan senantiasa. Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.

Konteks

Salomo menangani godaan yang sangat nyata: iri melihat orang berdosa yang tampak sukses. Jawabannya bukan membandingkan keadaan saat ini, melainkan memandang masa depan. Bagi yang takut akan Tuhan, ada pengharapan yang tidak akan hilang.

Renungan

Ayat ini menyentuh luka batin yang sering kita rasakan: "Janganlah hatimu iri kepada orang-orang yang berdosa." Mengapa kita iri kepada orang berdosa? Karena seringkali mereka tampak makmur, bebas, dan bahagia, sementara kita yang berusaha hidup benar justru tampak menderita dan tertinggal. Pemazmur Asaf mengalami pergumulan yang sama dalam Mazmur 73 — ia hampir tergelincir melihat kemujuran orang fasik. Tetapi Salomo memberikan obat: "tetapi takutlah akan Tuhan senantiasa." Lalu ia mengangkat pandangan kita dari masa kini ke masa depan: "Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang." Kata kunci di sini adalah perspektif kekal. Iri hati selalu lahir dari pandangan yang sempit — kita hanya melihat potongan kecil dari realitas, yaitu kemakmuran sesaat orang berdosa, dan melupakan akhir dari segala sesuatu.

Teologi Reformed mengajarkan kita untuk memandang segala sesuatu sub specie aeternitatis — dalam terang kekekalan. Kemujuran orang fasik di dunia ini adalah fatamorgana yang singkat; tanpa Allah, mereka berjalan menuju kebinasaan. Sebaliknya, orang yang takut akan Tuhan memiliki "masa depan" dan "harapan" yang dijamin oleh Allah sendiri. Perhatikan bahwa dasar pengharapan ini bukanlah kekuatan kita untuk bertahan, melainkan kesetiaan Allah yang berdaulat. Allah yang memulai pekerjaan baik dalam diri umat-Nya akan menyelesaikannya sampai pada hari Kristus. Pengharapan orang percaya tidak bergantung pada keadaan yang berubah-ubah, melainkan pada janji Allah yang tidak dapat berubah. Inilah jangkar jiwa yang membuat kita tidak iri kepada kemakmuran sementara orang berdosa.

Koreksilah pemahaman yang keliru bahwa takut akan Tuhan adalah jalan untuk mendapatkan kemakmuran duniawi yang lebih besar daripada orang berdosa. Itu hanya iri hati yang diberi label rohani! Salomo tidak berjanji bahwa orang benar akan lebih kaya dari orang fasik di dunia ini. Justru sebaliknya, ia mengakui bahwa untuk sementara orang berdosa mungkin tampak lebih beruntung. Pengharapan yang dijanjikan bersifat kekal — yaitu hidup bersama Allah selama-lamanya. Jika iman kita hanya berharap pada keuntungan di dunia ini, kata Paulus, kita adalah orang yang paling malang. Tetapi karena pengharapan kita melampaui kubur, kita dapat menanggung penderitaan sesaat dengan sukacita. Kristus sendiri, demi sukacita yang disediakan bagi-Nya, menanggung salib dan tidak menghiraukan kehinaan.

Dalam keluarga, ajarkan anak-anak untuk tidak mengukur diri dengan tolok ukur dunia. Mereka akan melihat teman-teman yang lebih kaya, lebih populer, lebih bebas melakukan apa saja tanpa konsekuensi yang langsung terlihat. Hati kecil mereka akan bertanya, "Mengapa kita harus hidup berbeda?" Jawablah dengan menanamkan perspektif kekal: bahwa hidup ini bukan segalanya, bahwa ada masa depan yang Tuhan sediakan bagi mereka yang menjadi milik-Nya. Ketika orang tua sendiri iri kepada tetangga yang lebih sukses, anak-anak menyerapnya. Maka bangunlah keluarga yang puas di dalam Tuhan, yang merayakan berkat orang lain tanpa iri, dan yang menatap kekekalan sebagai pegangan. Keluarga dengan pengharapan kekal tidak akan goyah ketika dunia tampak tidak adil.

Pokok Doa

  1. 1Bersyukur atas pengharapan kekal yang dijamin oleh kesetiaan Allah, bukan oleh kekuatan kami.
  2. 2Memohon agar Tuhan membebaskan hati kami dari iri terhadap kemakmuran orang yang tidak mengenal-Nya.
  3. 3Berdoa agar kami memandang hidup dalam terang kekekalan, bukan hanya keadaan saat ini.
  4. 4Mendoakan agar anak-anak kami tidak mengukur nilai diri dengan tolok ukur dunia.

Bahan Renungan

Kapan kita merasa iri melihat orang lain yang tampak lebih beruntung, dan bagaimana memandang masa depan kekal mengubah perasaan itu?

Navigasi

BerandaArsipPenandaTentangMutiara
Beranda