Kembali

Kirimkanlah Terang dan Kebenaran-Mu

MazmurMencari penuntun Allah di tengah kegelapan

Ayat Firman

Mazmur 43:3-5

Suruhlah terang-Mu dan kesetiaan-Mu datang, supaya aku dituntun dan dibawa ke gunung-Mu yang kudus dan ke tempat kediaman-Mu! Maka aku dapat pergi ke mezbah Allah, menghadap Allah, sukacitaku dan kegembiraanku, dan bersyukur kepada-Mu dengan kecapi, ya Allah, ya Allahku! Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!

Konteks

Mazmur 43 adalah kelanjutan dari Mazmur 42, dengan pergumulan dan refrein yang sama. Pemazmur memohon agar terang dan kebenaran Allah menuntunnya kembali ke hadirat Allah. Ia mengakhiri dengan menantang jiwanya untuk berharap kepada Allah, sang sumber sukacita.

Renungan

Pemazmur memanjatkan doa yang indah: "Suruhlah terang-Mu dan kesetiaan-Mu datang, supaya aku dituntun dan dibawa ke gunung-Mu yang kudus." Di tengah kegelapan dan keterpisahan, ia tidak meminta agar keadaannya membaik secara umum, melainkan agar Allah mengirim terang dan kebenaran-Nya untuk menuntunnya kembali ke hadirat-Nya. Perhatikan personifikasi yang indah ini—terang dan kebenaran Allah digambarkan sebagai dua penuntun yang dikirim untuk membimbingnya pulang ke rumah Allah. Tujuan utama doanya bukanlah kelegaan dari penderitaan, melainkan kedekatan kembali dengan Allah, "menghadap Allah, sukacitaku dan kegembiraanku." Inilah hati seorang yang mengenal Allah: yang paling ia rindukan dalam kesulitan adalah Allah sendiri, bukan sekadar berakhirnya kesulitan.

Frasa "Allah, sukacitaku dan kegembiraanku" mengungkapkan kebenaran yang mendalam tentang sumber sukacita sejati. Dalam iman Reformed, kita memahami bahwa tujuan tertinggi manusia adalah memuliakan Allah dan menikmati Dia selama-lamanya. Allah bukan sekadar sarana untuk mencapai sukacita lain; Allah sendiri adalah sukacita kita yang tertinggi. Pemazmur tidak berkata "berkat Allah adalah sukacitaku" atau "pertolongan Allah adalah kegembiraanku," melainkan "Allah, sukacitaku dan kegembiraanku." Ini membedakan penyembah sejati dari penyembah palsu: penyembah palsu mencari hadiah dari Allah, sedangkan penyembah sejati mencari Allah sebagai hadiah terbesar. Dan terang serta kebenaran yang menuntun kita kepada Allah pada akhirnya digenapi dalam Kristus, yang adalah terang dunia dan kebenaran itu sendiri.

Kita harus memperhatikan pengulangan refrein yang sama seperti dalam Mazmur 42: "Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku... Berharaplah kepada Allah!" Pengulangan ini bukan kebetulan. Pergumulan rohani sering tidak selesai dalam sekali percakapan dengan jiwa kita. Kita mungkin perlu berulang kali berbicara kebenaran kepada diri sendiri, terus-menerus mengarahkan jiwa yang cenderung kembali pada keputusasaan. Ini mengoreksi harapan dangkal bahwa satu pengalaman rohani atau satu doa akan langsung menyelesaikan segala pergumulan. Iman bukan saklar yang sekali ditekan langsung menyala selamanya; iman adalah perjuangan yang terus-menerus untuk mengarahkan hati kepada Allah. Ketekunan dalam berkhotbah kepada jiwa sendiri adalah bagian dari kehidupan iman yang sehat.

Dalam keluarga, mazmur ini mengajarkan dua pelajaran. Pertama, jadikan Allah sendiri sebagai sukacita tertinggi keluarga, bukan sekadar berkat-Nya. Anak-anak perlu belajar bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada apa yang Allah berikan, melainkan pada Allah sendiri. Pupuklah relasi dengan Allah yang dialami sebagai sukacita, bukan kewajiban yang membosankan. Kedua, ajarkan keluarga untuk terus berdoa "kirimkanlah terang dan kebenaran-Mu" ketika menghadapi keputusan yang membingungkan atau masa yang gelap. Kita tidak perlu mengandalkan hikmat kita sendiri; kita boleh meminta Allah mengirim terang dan kebenaran-Nya melalui firman, doa, dan nasihat yang saleh. Dan ketika satu doa atau satu percakapan tidak langsung menyelesaikan pergumulan, ajarkan ketekunan—terus mengarahkan hati kepada Allah berulang kali, sampai sukacita di hadirat-Nya kembali memenuhi jiwa.

Pokok Doa

  1. 1Bersyukur bahwa Allah mengirimkan terang dan kebenaran-Nya, terutama di dalam Kristus, untuk menuntun kita kepada-Nya.
  2. 2Memohon agar Allah sendiri menjadi sukacita tertinggi kita, bukan sekadar berkat dan pemberian-Nya.
  3. 3Berdoa agar keluarga memohon penuntun Allah dalam setiap keputusan, bukan mengandalkan hikmat sendiri.
  4. 4Mendoakan ketekunan untuk terus mengarahkan hati kepada Allah, bahkan ketika pergumulan tidak segera selesai.

Bahan Renungan

Apakah Allah sendiri yang menjadi sukacita kita, atau kita lebih bersukacita atas pemberian-Nya? Bagaimana kita dapat saling membantu untuk menjadikan Allah sebagai "sukacita dan kegembiraan" keluarga?

Navigasi

BerandaArsipPenandaTentangMutiara
Beranda