Kembali

Hanya kepada Allah Saja Berharap

MazmurPengharapan yang tidak terbagi

Ayat Firman

Mazmur 62:5-8

Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah. Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita.

Konteks

"Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah." Kata kunci dalam mazmur ini adalah "hanya".

Renungan

"Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah." Kata kunci dalam mazmur ini adalah "hanya". Dalam bahasa Ibrani, kata ini muncul berulang kali, menekankan eksklusivitas Allah sebagai sumber pengharapan. Bukan Allah dan kekayaan, bukan Allah dan kekuatan, bukan Allah dan strategi manusia, melainkan hanya Allah saja. Inilah jantung iman monoteistik yang murni. Daud tidak membagi kepercayaannya antara Allah dan sumber-sumber lain. Banyak orang Kristen menyatakan percaya kepada Allah, tetapi diam-diam menaruh harapan utama mereka pada hal-hal lain. Mereka menyembah Allah pada hari Minggu dan menyembah uang sepanjang minggu. Pemazmur memanggil kita kepada kesetiaan yang tidak terbagi. Ketenangan jiwa sejati hanya ditemukan ketika kita berhenti mencari keamanan di tempat lain dan beristirahat sepenuhnya pada Allah yang berdaulat.

Daud menggunakan tiga gambaran: gunung batu, keselamatan, dan kota benteng. Gunung batu berbicara tentang kestabilan, keselamatan tentang pembebasan, kota benteng tentang perlindungan dari musuh. Ketiganya menyatakan bahwa Allah cukup untuk segala kebutuhan kita. "Aku tidak akan goyah," kata Daud, bukan karena keadaannya stabil, melainkan karena fondasinya kokoh. Inilah perbedaan antara iman dan optimisme. Optimisme bersandar pada harapan keadaan akan membaik; iman bersandar pada Allah yang tidak berubah, terlepas dari keadaan. Ayat 8 mengundang kita: "Curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita." Allah tidak hanya menjadi benteng, tetapi juga sahabat yang kepada-Nya kita dapat menumpahkan seluruh isi hati, baik suka maupun duka, baik iman maupun keraguan kita. Ia mengundang kejujuran, bukan kepura-puraan.

Di sinilah agama dangkal terbongkar. Banyak orang berkata mereka percaya Allah, tetapi hati mereka sebenarnya bergantung pada hal lain. Mereka tenang ketika rekening bank penuh dan panik ketika kosong. Itu menunjukkan harapan mereka tidak "hanya pada Allah saja". Sebaliknya, mereka juga sering menyembunyikan perasaan dari Allah, berdoa dengan kata-kata sopan namun hati yang tertutup. Padahal Allah mengundang kita mencurahkan isi hati. Bagi keluarga kita, periksalah: di mana harapan kita yang sesungguhnya? Ajarlah anak-anak untuk menaruh harapan hanya pada Allah, bukan pada nilai sekolah, popularitas, atau harta. Jadikanlah rumah kita tempat di mana setiap anggota dapat mencurahkan isi hati dengan jujur, baik kepada Allah dalam doa maupun satu sama lain dalam kasih. Beristirahatlah hanya pada Allah, dan keluarga kita tidak akan goyah.

Pokok Doa

  1. 1Bersyukur bahwa Allah adalah gunung batu dan keselamatan yang membuat kami tidak goyah.
  2. 2Memohon agar segala berhala yang diam-diam kami andalkan disingkirkan dari hati kami.
  3. 3Mendoakan agar rumah kami menjadi tempat mencurahkan isi hati dengan jujur kepada Allah dan satu sama lain.

Bahan Renungan

Apa yang membuat kita tenang dan apa yang membuat kita panik, dan apa yang hal itu nyatakan tentang di mana harapan kita yang sesungguhnya?

Navigasi

BerandaArsipPenandaTentangMutiara
Beranda