Kembali

Jiwa yang Haus akan Allah

MazmurKerinduan akan Allah sendiri

Ayat Firman

Mazmur 63:1-4

Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair. Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau.

Konteks

Mazmur 63 ditulis Daud ketika berada di padang gurun Yehuda, sebuah tempat yang gersang dan kering. "Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan.

Renungan

Mazmur 63 ditulis Daud ketika berada di padang gurun Yehuda, sebuah tempat yang gersang dan kering. "Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair." Daud menggunakan kekeringan padang gurun di sekelilingnya sebagai gambaran kehausan jiwanya akan Allah. Perhatikan intensitasnya: bukan hanya jiwa, tetapi seluruh tubuh merindukan Allah. Ini adalah kehausan total, yang melibatkan seluruh keberadaan manusia. Banyak orang memperlakukan Allah sebagai pelengkap yang baik untuk dimiliki, bukan kebutuhan yang menentukan hidup dan mati. Tetapi Daud memahami bahwa tanpa Allah, jiwanya akan layu seperti tanah tandus. Kerinduan akan Allah ini sendiri merupakan karya anugerah. Manusia berdosa secara alami melarikan diri dari Allah; hanya oleh karya Roh Kudus hati kita dibarui sehingga mulai haus akan Sang Pencipta. Kehausan ini adalah tanda kehidupan rohani yang sejati.

Pernyataan paling mengejutkan ada di ayat 3: "Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup." Renungkan betapa radikalnya ini. Bagi kebanyakan orang, hidup adalah harta yang paling berharga; kita akan melakukan apa saja untuk mempertahankannya. Tetapi Daud menyatakan bahwa kasih setia Allah lebih berharga daripada hidup itu sendiri. Ini berarti bahwa kehilangan segala sesuatu, bahkan nyawa, masih lebih baik daripada kehilangan kasih Allah. Inilah perspektif yang mengubah cara kita memandang segala hal. Dalam pandangan Reformed, kita memahami bahwa tujuan tertinggi manusia adalah memuliakan Allah dan menikmati Dia selama-lamanya. Allah sendiri, bukan pemberian-Nya, adalah hadiah terbesar. Orang yang memahami hal ini dapat berkata bersama Paulus bahwa hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Kasih setia Allah memberi makna yang melampaui kematian.

Kekristenan dangkal mencari Allah demi berkat-berkat-Nya: kesehatan, kekayaan, keberhasilan. Mereka haus akan tangan Allah, bukan akan wajah Allah. Ketika berkat tidak datang, iman mereka runtuh karena memang tidak pernah berakar pada Allah sendiri. Tetapi iman sejati haus akan Allah, bukan sekadar pemberian-Nya. Bagi keluarga kita, pertanyaan mendasar adalah: apakah kita merindukan Allah atau hanya berkat-Nya? Ajarlah anak-anak untuk mencari wajah Allah, bukan sekadar tangan-Nya. Tumbuhkanlah kerinduan akan Allah melalui doa, firman, dan penyembahan di rumah. Ketika keluarga melewati padang gurun kehidupan, kekeringan, kekecewaan, kehilangan, jadikanlah itu kesempatan untuk semakin haus akan Allah, bukan untuk meninggalkan-Nya. Sebab kasih setia-Nya lebih baik daripada hidup, dan dalam Dia jiwa kita akan dipuaskan.

Pokok Doa

  1. 1Bersyukur bahwa kasih setia Allah lebih baik daripada hidup itu sendiri.
  2. 2Memohon agar Roh Kudus menumbuhkan kehausan akan Allah sendiri, bukan sekadar berkat-Nya.
  3. 3Mendoakan agar padang gurun kehidupan menjadi kesempatan keluarga kami semakin haus akan Tuhan.

Bahan Renungan

Apakah kita merindukan wajah Allah sendiri, atau hanya tangan-Nya yang memberi berkat?

Navigasi

BerandaArsipPenandaTentangMutiara
Beranda