Kembali

Bersorak-sorai bagi Allah Seluruh Bumi

MazmurPenyembahan yang berpusat pada Allah

Ayat Firman

Mazmur 66:1-4

Bersorak-sorailah bagi Allah, hai seluruh bumi, mazmurkanlah kemuliaan nama-Nya, muliakanlah Dia dengan puji-pujian! Katakanlah kepada Allah: Betapa dahsyatnya segala pekerjaan-Mu; oleh sebab kekuatan-Mu yang besar musuh-Mu tunduk menjilat kepada-Mu. Seluruh bumi sujud menyembah kepada-Mu, dan bermazmur bagi-Mu.

Konteks

"Bersorak-sorailah bagi Allah, hai seluruh bumi, mazmurkanlah kemuliaan nama-Nya, muliakanlah Dia dengan puji-pujian!" Sekali lagi kita berhadapan dengan panggilan universal. Bukan hanya umat pilihan, melainkan seluruh bumi.

Renungan

"Bersorak-sorailah bagi Allah, hai seluruh bumi, mazmurkanlah kemuliaan nama-Nya, muliakanlah Dia dengan puji-pujian!" Sekali lagi kita berhadapan dengan panggilan universal. Bukan hanya umat pilihan, melainkan seluruh bumi dipanggil untuk memuji Allah. Mengapa? Karena seluruh ciptaan adalah milik-Nya dan ada untuk kemuliaan-Nya. Pemazmur memerintahkan agar kita memazmurkan kemuliaan nama-Nya, artinya menjadikan nama Allah mulia melalui pujian kita. Nama dalam pemikiran Ibrani mewakili keseluruhan pribadi dan karakter seseorang. Memuliakan nama Allah berarti mengakui dan memuji siapa Dia sebenarnya: kudus, berdaulat, penuh kasih setia, dan agung. Pujian sejati bukanlah ekspresi perasaan kita, melainkan respons yang benar terhadap realitas tentang Allah. Kita memuji bukan karena merasa baik, melainkan karena Allah memang layak dipuji, terlepas dari perasaan kita pada saat itu.

Ayat 3 berbunyi: "Katakanlah kepada Allah: Betapa dahsyatnya segala pekerjaan-Mu; oleh sebab kekuatan-Mu yang besar musuh-Mu tunduk menjilat kepada-Mu." Pujian di sini berakar pada pengamatan terhadap pekerjaan Allah yang dahsyat. Dalam teologi Reformed, kita mengenal Allah melalui dua kitab: kitab penyataan umum, yaitu alam ciptaan, dan kitab penyataan khusus, yaitu firman-Nya. Pekerjaan Allah dalam penciptaan dan dalam sejarah keselamatan keduanya memanggil kita untuk memuji. Frasa bahwa musuh tunduk menyatakan kedaulatan Allah yang menaklukkan segala perlawanan. Tidak ada kuasa yang dapat berdiri melawan Allah selama-lamanya. Bahkan musuh-musuh-Nya pada akhirnya akan mengakui kekuasaan-Nya, sebagaimana ayat 4 menyatakan bahwa seluruh bumi akan sujud menyembah dan bermazmur bagi-Nya. Sejarah bergerak menuju satu titik akhir: pengakuan universal atas keagungan Allah.

Ibadah modern sering tertukar antara memuji Allah dan menyenangkan diri sendiri. Banyak orang datang ke gereja untuk merasa nyaman, untuk hiburan rohani, bukan untuk meninggikan Allah. Mereka menjadikan diri sendiri sebagai pusat ibadah, dan Allah hanya sebagai sarana memuaskan kebutuhan emosional. Ini adalah penyembahan berhala yang halus. Pujian sejati berpusat pada Allah, bukan pada kita. Bagi keluarga kita, ajarlah anak-anak untuk memuji Allah karena siapa Dia, bukan hanya karena apa yang Ia berikan. Ajaklah mereka mengamati pekerjaan Allah yang dahsyat, baik di alam ciptaan maupun dalam kehidupan keluarga, dan meresponsnya dengan pujian. Jadikanlah penyembahan sebagai bagian rutin kehidupan rumah tangga, bukan ritual kosong, melainkan ungkapan hati yang mengakui keagungan Allah seluruh bumi. Sebab seluruh ciptaan diciptakan untuk memuji Dia.

Pokok Doa

  1. 1Bersyukur atas pekerjaan Allah yang dahsyat dalam ciptaan dan dalam sejarah keselamatan.
  2. 2Memohon agar kami memuji Allah karena siapa Dia, bukan hanya karena berkat-Nya.
  3. 3Mendoakan agar penyembahan yang berpusat pada Allah menjadi irama rumah tangga kami.

Bahan Renungan

Ketika kita beribadah, apakah pusatnya meninggikan Allah atau memuaskan perasaan kita sendiri?

Navigasi

BerandaArsipPenandaTentangMutiara
Beranda