Mengajar Kami Menghitung Hari
Ayat Firman
Mazmur 90:12-17
“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hari-hari kami. Dan kiranya kemurahan Tuhan, Allah kami, atas kami, dan teguhkanlah perbuatan tangan kami.”
Konteks
Mazmur 90 adalah doa Musa, abdi Allah, yang merenungkan kefanaan manusia di hadapan Allah yang kekal. "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana." Permohonan ini lahir dari.
Renungan
Mazmur 90 adalah doa Musa, abdi Allah, yang merenungkan kefanaan manusia di hadapan Allah yang kekal. "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana." Permohonan ini lahir dari kesadaran bahwa hidup manusia singkat dan rapuh. Sebelumnya Musa membandingkan hidup manusia dengan rumput yang bertumbuh di pagi hari dan layu di petang hari. Di hadapan Allah, ribuan tahun seperti satu hari. Kesadaran akan kefanaan ini bukan untuk membuat kita putus asa, melainkan untuk membuat kita bijaksana. Menghitung hari berarti hidup dengan kesadaran bahwa waktu kita terbatas, sehingga kita menggunakannya untuk hal-hal yang kekal. Hikmat sejati dimulai dengan mengakui keterbatasan kita dan keagungan Allah. Orang bijak tidak hidup seolah-olah ia akan hidup selamanya di bumi, melainkan menyiapkan diri untuk kekekalan, memandang setiap hari sebagai pemberian Allah yang harus dipertanggungjawabkan.
Musa memohon dalam ayat 14: "Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hari-hari kami." Walaupun hidup singkat, kasih setia Allah dapat memenuhinya dengan sukacita yang sejati. Kepuasan hidup tidak ditemukan dalam memperpanjang umur atau menumpuk pencapaian, melainkan dalam kasih setia Allah. Musa juga memohon agar Allah memberi makna pada pekerjaan mereka: "Teguhkanlah perbuatan tangan kami." Tanpa Allah, segala usaha manusia sia-sia dan fana. Tetapi ketika Allah meneguhkan pekerjaan kita, hal itu memperoleh nilai kekal. Dalam pandangan Reformed, kita memahami bahwa segala pekerjaan kita, sekecil apa pun, dapat menjadi sarana memuliakan Allah ketika dilakukan dalam iman dan untuk kemuliaan-Nya. Hidup yang singkat ini menjadi berarti bukan karena panjangnya, melainkan karena diisi dengan apa yang kekal: mengenal, mengasihi, dan melayani Allah.
Dunia modern mengingkari kematian dan kefanaan, sibuk mengejar kenikmatan sesaat seolah-olah hidup ini selamanya. Bahkan banyak orang Kristen hidup tanpa kesadaran akan kekekalan, menghabiskan hari-hari mereka untuk hal-hal yang fana. Mereka menumpuk harta yang tidak dapat dibawa mati dan mengabaikan harta surgawi. Inilah ketidakbijaksanaan yang dikecam mazmur ini. Bagi keluarga kita, renungan ini mengajak kita menghitung hari-hari kita. Ajarlah anak-anak bahwa hidup ini singkat dan berharga, bahwa setiap hari adalah pemberian Allah untuk dipakai dengan bijak. Bantulah mereka menetapkan prioritas yang kekal, bukan terjebak dalam pengejaran yang fana. Gunakanlah waktu keluarga untuk hal-hal yang bernilai abadi: firman, doa, kasih, dan pelayanan. Mohonlah agar Allah mengenyangkan keluarga kita dengan kasih setia-Nya dan meneguhkan setiap pekerjaan kita untuk kemuliaan-Nya. Sebab hidup yang dihitung dengan bijak adalah hidup yang dipersembahkan kepada Allah.
Pokok Doa
- 1Bersyukur atas setiap hari sebagai pemberian Allah yang harus dipakai dengan bijak.
- 2Memohon hati yang bijaksana untuk menghitung hari dan menetapkan prioritas yang kekal.
- 3Mendoakan agar Allah meneguhkan setiap pekerjaan tangan keluarga kami untuk kemuliaan-Nya.
Bahan Renungan
Jika kita sungguh sadar betapa singkatnya hidup ini, apa yang akan kita ubah dalam cara keluarga kita menggunakan waktu?