Tuhan adalah Raja
Ayat Firman
Mazmur 97:1-2
“TUHAN adalah Raja! Biarlah bumi bersorak-sorak, biarlah banyak pulau bersukacita! Awan dan kekelaman ada sekeliling-Nya, keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Nya.”
Konteks
Mazmur 97 termasuk kelompok mazmur penobatan yang memproklamasikan pemerintahan TUHAN atas seluruh ciptaan. Pemazmur tidak meminta agar Allah menjadi Raja, melainkan menyatakan bahwa Ia memang Raja. Seluruh bumi dipanggil tunduk pada realitas ini.
Renungan
Mazmur ini dibuka bukan dengan permohonan, melainkan dengan proklamasi: "TUHAN adalah Raja!" Inilah deklarasi pemerintahan ilahi yang sudah berlaku, bukan harapan yang menanti penggenapan. Konteks kelompok mazmur penobatan (Mazmur 93, 95-99) memperlihatkan iman Israel bahwa Allah memerintah atas segala bangsa, bukan sekadar atas satu umat. Frasa "biarlah bumi bersorak-sorak" memperlihatkan bahwa pemerintahan Allah adalah kabar baik bagi ciptaan. Awan dan kekelaman yang mengelilingi-Nya mengingatkan kita pada Sinai — kekudusan yang tidak dapat didekati manusia berdosa secara sembarangan. Allah memerintah dalam keagungan yang melampaui penglihatan kita.
Perhatikan apa yang menjadi tumpuan takhta-Nya: keadilan dan hukum. Kedaulatan Allah bukan kekuasaan sewenang-wenang yang lepas dari moralitas. Ia memerintah dengan kebenaran. Dalam teologi Reformed, kita menegaskan bahwa Allah berdaulat mutlak, namun kedaulatan itu tidak pernah bertentangan dengan keadilan dan kesucian-Nya. Justru karena Ia adil, kedaulatan-Nya menjadi penghiburan bagi orang benar dan kengerian bagi yang fasik. Takhta yang ditopang keadilan berarti tidak ada satu pun ketidakadilan di bumi ini yang luput dari penghakiman-Nya pada akhirnya.
Banyak orang membayangkan Allah sebagai kuasa yang netral atau sebagai nasib buta. Yang lain ingin Allah yang berkuasa namun tanpa tuntutan moral. Keduanya keliru. Allah Alkitab memerintah dengan hukum dan keadilan yang menuntut pertanggungjawaban. Namun jangan pula kita berhenti pada kengerian: takhta yang adil ini akhirnya dinyatakan dalam Kristus, Raja yang memerintah dan yang menanggung tuntutan keadilan itu di kayu salib bagi umat-Nya. Di dalam Dia, keadilan dan kasih bertemu sempurna.
Dalam keluarga, akui bersama bahwa Allah adalah Raja atas rumah tangga kita — bukan keinginan, bukan jadwal, bukan ambisi kita. Ketika ada ketakutan akan masa depan, kembalikan hati pada kenyataan bahwa Ia memerintah dengan keadilan. Latihlah anak-anak untuk bersukacita, bukan gentar, atas kenyataan bahwa Allah berkuasa. Saat ada ketidakadilan yang menyakiti hati, ajarkan mereka membawanya kepada Raja yang takhta-Nya ditopang keadilan, bukan membalas dengan tangan sendiri.
Pokok Doa
- 1Bersyukur bahwa TUHAN adalah Raja yang memerintah atas seluruh bumi dan rumah tangga kami
- 2Memohon hati yang tunduk dan bersukacita di bawah pemerintahan-Nya
- 3Berdoa agar keadilan dan kebenaran-Nya menjadi dasar setiap keputusan keluarga
- 4Mendoakan bangsa kami agar mengakui Kristus sebagai Raja yang adil
Bahan Renungan
Apa bedanya hidup di bawah Allah yang berkuasa sewenang-wenang dengan Allah yang takhta-Nya ditopang keadilan?