Tuhanlah Allah Kita
Ayat Firman
Mazmur 100:1-5
“Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi! Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! Ketahuilah, bahwa TUHANlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya. Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya! Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.”
Konteks
Mazmur 100 adalah mazmur syukur untuk ibadah, memanggil seluruh bumi menyembah TUHAN. Dasar penyembahan ini adalah pengenalan akan siapa Allah: Dialah yang menjadikan kita dan kita adalah milik-Nya.
Renungan
Mazmur singkat ini sarat dengan ajakan penyembahan — bersorak, beribadah, masuk pelataran, bersyukur, memuji. Namun di tengah ajakan itu ada poros teologisnya: "Ketahuilah, bahwa TUHANlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita." Penyembahan sejati selalu mengalir dari pengenalan yang benar. Pemazmur tidak menyuruh kita merasa-rasakan emosi, melainkan mengetahui suatu kebenaran: Allah adalah Pencipta dan Pemilik. Kita adalah umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya. Status kita ganda — diciptakan dan dimiliki — dan keduanya menuntut respons sembah.
Doktrin penciptaan dan kepemilikan ilahi berakar di sini. Karena Allah menjadikan kita, hidup kita bukan milik kita sendiri; kita berutang seluruh eksistensi kepada-Nya. Karena Ia memiliki kita sebagai kawanan domba-Nya, kita ada di bawah pemeliharaan dan otoritas Sang Gembala. Bagian penutup memberi tiga alasan kekal: TUHAN itu baik, kasih setia-Nya selamanya, dan kesetiaan-Nya turun-temurun. Penyembahan bukan transaksi untuk mendapat berkat, melainkan respons atas kebaikan, kasih setia, dan kesetiaan Allah yang sudah ada lebih dahulu.
Banyak orang menyembah berdasarkan suasana hati — datang ketika merasa diberkati, menjauh ketika kecewa. Namun mazmur ini mendasarkan penyembahan pada fakta tetap tentang Allah, bukan perasaan kita yang berubah. Ada pula yang menganggap diri sebagai pemilik hidupnya sendiri; mazmur ini mengoreksinya — "punya Dialah kita". Gembala yang baik ini sepenuhnya dinyatakan dalam Yesus, Gembala Agung yang memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya. Kepemilikan-Nya atas kita ditebus dengan darah-Nya sendiri.
Dalam keluarga, jadikan ibadah bersama bukan sekadar tradisi melainkan pengakuan bahwa kalian adalah milik Allah. Ketika anak melawan otoritas, ingatkan dengan lembut bahwa seluruh keluarga adalah kawanan yang sama-sama digembalakan oleh Allah. Awali ibadah keluarga dengan menyebut tiga alasan dalam ayat 5: Allah baik, kasih setia-Nya kekal, kesetiaan-Nya turun-temurun. Ajar anak-anak bersyukur bukan karena suasana hati sedang baik, melainkan karena siapa Allah selamanya.
Pokok Doa
- 1Bersyukur bahwa kita diciptakan dan dimiliki oleh Allah sebagai kawanan-Nya
- 2Memohon hati yang menyembah berdasarkan kebenaran, bukan suasana hati
- 3Berdoa agar keluarga mengakui Allah sebagai Pemilik seluruh hidup kami
- 4Mendoakan agar kebaikan dan kesetiaan-Nya diteruskan turun-temurun dalam keluarga kami
Bahan Renungan
Apa artinya bagi hidup kita sehari-hari bahwa kita "punya Dialah" dan bukan milik diri sendiri?