Kembali

Seperti Bapa Sayang Anaknya

MazmurBelas Kasihan dan Pengampunan Allah

Ayat Firman

Mazmur 103:8-14

TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita. Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu.

Konteks

Mazmur 103, mazmur Daud, memuji TUHAN atas belas kasihan-Nya yang tidak memperlakukan kita setimpal dengan dosa kita. Allah digambarkan sebagai Bapa yang penuh kasih, yang mengingat keterbatasan manusia.

Renungan

Daud mendasarkan pujiannya pada pernyataan agung dari Keluaran 34:6 — "TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia." Inilah penyingkapan diri Allah sendiri kepada Musa, dan Daud merengkuhnya sebagai pengenalan pribadi. Yang menakjubkan bukan sekadar bahwa Allah baik, melainkan bagaimana kebaikan itu bekerja terhadap dosa: "Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita." Ada jarak tak terukur antara apa yang pantas kita terima dan apa yang Allah berikan. Setinggi langit di atas bumi, sejauh timur dari barat — gambaran ruang tak berujung untuk menyatakan kasih setia dan penghapusan pelanggaran yang tuntas.

Di sini doktrin pengampunan anugerah berdiri kokoh. Allah tidak memperlakukan kita berdasarkan keadilan retributif semata; jika demikian, tak seorang pun bertahan. Sebaliknya, Ia menjauhkan pelanggaran kita "sejauh timur dari barat" — arah yang tidak pernah bertemu, berbeda dari utara dan selatan yang ada titik temunya. Pengampunan-Nya bersifat tuntas dan tidak dapat ditarik kembali. Dasar kasih ini adalah relasi kebapaan: "Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya." Allah mengenal kerapuhan kita — "Dia ingat, bahwa kita ini debu." Belas kasihan-Nya memperhitungkan keterbatasan kita tanpa membenarkan dosa kita.

Waspadalah terhadap dua kesalahan. Pertama, menganggap belas kasihan ini berarti Allah lunak terhadap dosa — padahal pengampunan ini bukan pengabaian. Sejauh timur dari barat itu jarak yang harus ditanggung oleh Kristus; dosa tidak dihapus dengan diabaikan, melainkan dengan dipikul Anak Allah di kayu salib. Kedua, menganggap kasih Bapa ini otomatis untuk semua tanpa syarat relasi — perhatikan, kasih setia ini bagi "orang-orang yang takut akan Dia." Belas kasihan dan takut akan Allah berjalan bersama, bukan saling meniadakan.

Dalam keluarga, jadikan ayat ini cermin bagi pola pengasuhan. Bapa dan ibu yang sayang kepada anak meneladani Bapa surgawi yang mengingat keterbatasan anak-anak-Nya. Saat anak gagal, jangan menuntut setimpal dengan kesalahannya, melainkan tunjukkan belas kasihan sambil tetap mendidik. Ceritakan pada anak betapa jauh Allah telah membuang dosa orang yang percaya, agar mereka tidak hidup dalam rasa bersalah yang melumpuhkan. Latihlah keluarga untuk saling mengampuni "sejauh timur dari barat", bukan menyimpan dendam.

Pokok Doa

  1. 1Bersyukur bahwa Allah tidak memperlakukan kami setimpal dengan dosa kami
  2. 2Memohon agar kami menghidupi pengampunan yang tuntas dari Bapa
  3. 3Berdoa agar pola pengasuhan kami memantulkan belas kasihan Allah
  4. 4Mendoakan anggota keluarga yang masih terbeban rasa bersalah agar mengenal pengampunan Kristus

Bahan Renungan

Mengapa Allah dapat mengampuni dosa tanpa sekadar mengabaikannya, dan apa kaitannya dengan salib Kristus?

Navigasi

BerandaArsipPenandaTentangMutiara
Beranda