Kembali

Tuhan Mengenakan Keagungan

MazmurKeagungan Allah dalam Penciptaan

Ayat Firman

Mazmur 104:1-5

Pujilah TUHAN, hai jiwaku! TUHAN, Allahku, Engkau sangat besar! Engkau yang berpakaian keagungan dan semarak, yang berselimutkan terang seperti kain, yang membentangkan langit seperti tenda, yang mendirikan kamar-kamar loteng-Mu di air, yang menjadikan awan-awan sebagai kendaraan-Mu, yang bergerak di atas sayap angin, yang membuat angin sebagai suruhan-suruhan-Mu, dan api yang menyala sebagai pelayan-pelayan-Mu, yang telah mendasarkan bumi di atas tumpuannya, sehingga takkan goyang untuk seterusnya dan selamanya.

Konteks

Mazmur 104 adalah pujian agung atas Allah Pencipta yang memerintah seluruh alam semesta. Pemazmur memuji keagungan Allah yang berpakaian terang dan menguasai langit, air, angin, dan api.

Renungan

Mazmur 104 dibuka dengan seruan jiwa kepada diri sendiri: "Pujilah TUHAN, hai jiwaku!" Pemazmur memerintahkan jiwanya menyembah, lalu memandang ciptaan sebagai panggung keagungan Allah. Allah digambarkan "berpakaian keagungan dan semarak", "berselimutkan terang seperti kain" — bahasa kerajaan yang menempatkan Allah sebagai Raja kosmis. Langit dibentangkan seperti tenda, awan menjadi kendaraan-Nya, angin dan api menjadi suruhan dan pelayan-Nya. Seluruh kekuatan alam yang ditakuti bangsa-bangsa sekitar sebagai dewa, di sini direduksi menjadi sekadar pelayan TUHAN. Bumi didasarkan-Nya kokoh di atas tumpuannya. Tidak ada satu unsur ciptaan pun yang otonom.

Doktrin penciptaan dan providensia berpadu di sini. Allah bukan hanya menciptakan, tetapi terus memegang dan menggerakkan ciptaan-Nya. Angin dan api adalah pelayan-Nya — artinya tidak ada kekuatan alam yang bertindak liar di luar kehendak-Nya. Inilah dasar penghiburan Reformed: alam semesta tidak dikuasai kebetulan atau kekuatan jahat yang setara dengan Allah, melainkan diperintah oleh satu Tuhan yang berdaulat. Bumi "takkan goyang untuk seterusnya" karena yang menopangnya adalah Allah, bukan stabilitas yang melekat pada materi itu sendiri. Stabilitas dunia kita berakar pada kesetiaan Sang Pencipta.

Kesalahan modern adalah memandang alam sebagai sistem mandiri yang berjalan oleh hukum buta tanpa Pribadi di belakangnya. Kesalahan kuno adalah menyembah kekuatan alam itu sendiri. Mazmur ini mengoreksi keduanya: alam bukan ilah dan bukan mesin tanpa tuan, melainkan ciptaan yang melayani Penciptanya. Memandang langit, laut, dan badai seharusnya membawa kita kepada penyembahan, bukan kepada ketakutan buta atau pemujaan ciptaan. Kristus, yang olehnya segala sesuatu diciptakan dan yang menopang segala sesuatu dengan firman-Nya, adalah pusat dari keagungan ini.

Dalam keluarga, ajaklah anak-anak memandang alam sebagai galeri kemuliaan Allah. Saat melihat matahari terbit, hujan, atau bintang, latih mereka berkata "Pujilah TUHAN, hai jiwaku." Jangan biarkan kekaguman pada sains menggantikan kekaguman pada Pencipta; justru biarkan pengetahuan tentang alam memperdalam sembah. Ketika badai atau bencana membuat takut, ingatkan bahwa angin dan api adalah pelayan Allah, bukan tuan yang lepas kendali. Bangun kebiasaan keluarga untuk bersyukur atas ciptaan setiap hari.

Pokok Doa

  1. 1Bersyukur atas keagungan Allah yang dinyatakan dalam seluruh ciptaan
  2. 2Memohon agar jiwa kami senantiasa memuji TUHAN seperti pemazmur
  3. 3Berdoa agar keluarga memandang alam sebagai panggung kemuliaan Allah
  4. 4Mendoakan agar kami tidak takut pada kekuatan alam yang adalah pelayan Allah

Bahan Renungan

Bagaimana memandang keindahan dan kedahsyatan alam dapat membawa kita menyembah Allah, bukan sekadar mengagumi ciptaan?

Navigasi

BerandaArsipPenandaTentangMutiara
Beranda