Imam untuk Selamanya
Ayat Firman
Mazmur 110:1-4
“Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: "Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu." Tongkat kekuatanmu akan diulurkan TUHAN dari Sion: memerintahlah di antara musuhmu! Pada hari tentaramu bangsamu merelakan diri untuk maju dengan berhias kekudusan; dari kandungan fajar tampil bagimu kemudaanmu seperti embun. TUHAN telah bersumpah, dan Ia tidak akan menyesal: "Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek."”
Konteks
Mazmur 110 adalah mazmur mesianik Daud yang paling banyak dikutip dalam Perjanjian Baru. Ia menubuatkan Mesias yang sekaligus Raja yang ditinggikan di sebelah kanan Allah dan Imam kekal menurut peraturan Melkisedek.
Renungan
Mazmur ini dibuka dengan ungkapan yang membingungkan banyak orang: "Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku." Daud, sang raja, menyebut seseorang sebagai "tuanku" — siapa yang lebih tinggi dari raja Israel? Yesus sendiri memakai ayat ini untuk menunjukkan bahwa Mesias bukan sekadar Anak Daud, melainkan Tuhan Daud (Matius 22). Tuanku ini dipersilakan "duduk di sebelah kanan" Allah — posisi kuasa dan kehormatan tertinggi, hingga musuh dijadikan tumpuan kaki. Lalu di ayat 4 muncul sumpah Allah yang tak tertarik kembali: "Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek." Maka Mesias ini menyatukan dua jabatan yang dalam Israel selalu terpisah: Raja dan Imam.
Inilah salah satu nubuat Kristologis terjelas dalam Mazmur. Kitab Ibrani membangun seluruh argumennya di atas ayat ini: Kristus adalah Imam Besar bukan dari garis Lewi, melainkan menurut peraturan Melkisedek — imam yang tanpa awal dan akhir silsilah, yang keimamatannya kekal. Berbeda dari imam Lewi yang mati silih berganti dan mempersembahkan korban berulang-ulang, Kristus mempersembahkan diri-Nya satu kali untuk selamanya dan hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara. Sumpah Allah yang "tidak akan menyesal" menjamin kepastian keimamatan ini. Keselamatan kita berpijak pada Imam yang tidak pernah gagal dan tak tergantikan.
Kesalahan adalah memandang Yesus hanya sebagai guru moral atau hanya sebagai raja yang akan memerintah kelak, tanpa melihat Ia adalah Imam yang kini bersyafaat bagi kita. Sebaliknya, jangan pula memandang keimamatan-Nya seolah perlu dilengkapi oleh perantara manusia lain. Mazmur 110 menutup celah itu: ada satu Imam kekal yang sudah duduk di sebelah kanan Allah, pekerjaan-Nya tuntas dan sempurna. Pemerintahan dan pengantaraan-Nya berjalan bersama — Ia memerintah di tengah musuh sambil tetap bersyafaat bagi umat-Nya.
Dalam keluarga, ajarkan anak-anak bahwa Yesus bukan hanya Juruselamat di masa lalu, melainkan Imam yang hidup dan berdoa bagi mereka saat ini. Ketika mereka merasa jauh dari Allah, ingatkan bahwa ada Pengantara kekal di sebelah kanan Bapa. Biasakan menutup doa keluarga dengan kesadaran bahwa doa kalian dibawa oleh Imam Besar yang tak pernah lelah. Tanamkan pengharapan bahwa Raja ini pasti akan menundukkan segala musuh, termasuk dosa dan maut, sehingga keluarga tidak hidup dalam ketakutan.
Pokok Doa
- 1Bersyukur bahwa Kristus adalah Raja dan Imam kekal yang bersyafaat bagi kami
- 2Memohon iman untuk percaya pada pengantaraan Yesus yang tak pernah gagal
- 3Berdoa agar keluarga menghampiri Allah melalui Imam Besar kita
- 4Mendoakan agar Raja kita segera menundukkan dosa dan maut dalam hidup kami
Bahan Renungan
Apa artinya bagi doa-doa kita bahwa Yesus sekarang menjadi Imam yang bersyafaat di sebelah kanan Bapa?