Kembali

Permulaan Hikmat

MazmurTakut akan Tuhan sebagai Dasar Hikmat

Ayat Firman

Mazmur 111:10

Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya.

Konteks

Mazmur 111 adalah mazmur akrostik yang memuji perbuatan-perbuatan besar TUHAN. Ayat penutupnya menyimpulkan bahwa hikmat sejati berakar pada takut akan TUHAN dan ketaatan kepada-Nya.

Renungan

Mazmur 111 sepanjang sepuluh ayat memuji perbuatan, keadilan, kasih setia, dan kesetiaan TUHAN. Setelah memandang segala karya Allah itu, pemazmur menyimpulkan dengan pernyataan yang menjadi salah satu poros teologi hikmat Alkitab: "Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN." Kata "permulaan" berarti baik titik awal maupun bagian terpenting — tanpa takut akan Allah, tidak ada pintu masuk menuju hikmat sejati. Perhatikan urutannya: pemazmur lebih dahulu memandang siapa Allah dan apa yang telah Ia perbuat, barulah lahir sikap takut. Takut akan TUHAN bukan ketakutan budak terhadap tiran, melainkan kekaguman, hormat, dan penyerahan kepada Allah yang besar dan setia.

Doktrin hikmat di sini bersifat radikal bagi dunia. Dunia mendefinisikan kepandaian sebagai akumulasi pengetahuan atau keterampilan; Alkitab menyatakan bahwa orang paling cerdas sekalipun adalah bodoh jika tidak takut akan Allah. Hikmat sejati bersifat relasional dan moral, bukan sekadar intelektual. Perhatikan pula bahwa pemazmur menambahkan, "semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik" — hikmat dibuktikan oleh ketaatan, bukan sekadar pengetahuan teori. Iman yang sejati selalu menghasilkan perbuatan. Dan mazmur ditutup dengan penyembahan: "Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya," menunjukkan bahwa tujuan akhir hikmat adalah kemuliaan Allah.

Kesalahan umum adalah memisahkan kecerdasan dari kesalehan, seolah orang bisa berhikmat sambil mengabaikan Allah. Mazmur ini menolaknya. Kesalahan lain adalah menjadikan "takut akan TUHAN" sebagai ketakutan yang melumpuhkan; padahal takut sejati justru membebaskan dari ketakutan akan hal-hal lain. Hikmat sejati menemukan kepenuhannya dalam Kristus, yang oleh Paulus disebut sebagai hikmat Allah. Mengenal Kristus adalah inti dari takut akan TUHAN — kita memandang kebesaran Allah dalam Anak-Nya dan tunduk menyembah.

Dalam keluarga, prioritaskan menanamkan takut akan Allah sebelum mengejar prestasi akademik anak. Bukan berarti pendidikan tidak penting, tetapi urutannya harus benar: hikmat dimulai dari hormat pada Allah. Saat anak berhasil di sekolah, ingatkan bahwa kecerdasan sejati adalah hidup taat kepada Tuhan. Jadikan ketaatan, bukan hanya nilai bagus, sebagai tolok ukur "akal budi yang baik" dalam rumah tangga kalian. Tutup hari dengan puji-pujian, agar anak melihat bahwa tujuan hidup berhikmat adalah memuliakan Allah.

Pokok Doa

  1. 1Bersyukur bahwa Allah memberi hikmat melalui takut akan Dia
  2. 2Memohon hati yang takut akan TUHAN sebagai dasar segala pengertian
  3. 3Berdoa agar ketaatan, bukan sekadar pengetahuan, menjadi tanda hikmat keluarga
  4. 4Mendoakan anak-anak agar mengejar takut akan Allah lebih dari prestasi

Bahan Renungan

Mengapa orang yang sangat pandai tetap bisa disebut bodoh jika tidak takut akan TUHAN?

Navigasi

BerandaArsipPenandaTentangMutiara
Beranda