Aku Mengasihi Tuhan
Ayat Firman
Mazmur 116:1-9
“Aku mengasihi TUHAN, sebab Ia mendengarkan suaraku dan permohonanku. Sebab Ia menyendengkan telinga-Nya kepadaku, maka seumur hidupku aku akan berseru kepada-Nya. Tali-tali maut telah meliliti aku, dan kegentaran terhadap dunia orang mati menimpa aku, aku mengalami kesesakan dan kedukaan. Tetapi aku menyerukan nama TUHAN: "Ya TUHAN, luputkanlah kiranya aku!" TUHAN adalah pengasih dan adil, Allah kita penyayang. TUHAN itu penjaga orang-orang yang tak berdaya; aku sudah lemah, tetapi diselamatkan-Nya aku. Kembalilah tenang, hai jiwaku, sebab TUHAN telah berbuat baik kepadamu. Sebab Engkau telah meluputkan aku dari maut, dan mataku dari air mata, kakiku dari tersandung. Aku boleh berjalan di hadapan TUHAN, di negeri orang-orang hidup.”
Konteks
Mazmur 116 adalah ungkapan kasih dan syukur seorang yang telah diluputkan dari ancaman maut. Kasihnya kepada TUHAN lahir sebagai respons atas belas kasihan Allah yang mendengar dan menyelamatkan.
Renungan
Mazmur ini dibuka dengan pernyataan yang sangat pribadi dan hangat: "Aku mengasihi TUHAN." Tetapi perhatikan dasarnya — "sebab Ia mendengarkan suaraku dan permohonanku." Kasih pemazmur kepada Allah bukan emosi tanpa sebab, melainkan respons atas pengalaman nyata bahwa Allah mendengar dan menyelamatkan. Ia menggambarkan situasinya dengan bahasa yang mengerikan: "Tali-tali maut telah meliliti aku, kegentaran terhadap dunia orang mati menimpa aku." Dalam kesesakan itu ia menyerukan nama TUHAN, dan Allah meluputkannya. Maka kasihnya lahir dari pengalaman akan belas kasihan — "TUHAN adalah pengasih dan adil, Allah kita penyayang." Ia juga berbicara kepada jiwanya sendiri: "Kembalilah tenang, hai jiwaku."
Di sini tampak pola fundamental teologi anugerah: kita mengasihi Allah karena Ia lebih dahulu mengasihi kita. Kasih bukanlah modal yang kita bawa kepada Allah, melainkan buah dari kasih-Nya yang lebih dahulu menyentuh kita. Rasul Yohanes menggemakannya: "Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita." Pemazmur menyebut dirinya "tak berdaya" dan "lemah" — pengakuan akan ketidakberdayaan total. Justru kepada orang yang demikianlah Allah menyatakan diri sebagai Penjaga. Keselamatan datang bukan kepada yang kuat, melainkan kepada yang berseru dalam kelemahan. Dan respons yang benar atas keselamatan itu adalah seumur hidup berseru kepada-Nya dan berjalan di hadapan-Nya.
Kesalahan adalah memandang kasih kepada Allah sebagai perasaan yang harus kita kobarkan dengan kekuatan sendiri, terlepas dari pengenalan akan perbuatan-Nya. Kasih sejati selalu berakar pada ingatan akan belas kasihan Allah. Kesalahan lain adalah berpikir kita harus cukup kuat dahulu sebelum layak diselamatkan; padahal Allah justru menjaga orang yang tak berdaya. Pembebasan dari maut yang dialami pemazmur menjadi bayangan pembebasan terbesar — Kristus yang meluputkan kita dari maut kekal, sehingga kita "boleh berjalan di hadapan TUHAN di negeri orang-orang hidup."
Dalam keluarga, biasakan menceritakan kembali bagaimana Allah pernah mendengar dan menjawab doa kalian, sebab dari ingatan itulah kasih bertumbuh. Ajar anak-anak bahwa kasih kepada Allah bukan tuntutan kosong, melainkan respons wajar atas kebaikan-Nya yang nyata. Saat ada anggota keluarga yang merasa lemah dan tak berdaya, ingatkan bahwa TUHAN adalah Penjaga orang yang tak berdaya. Latih kebiasaan berbicara kepada jiwa sendiri seperti pemazmur: "Kembalilah tenang, hai jiwaku, sebab TUHAN telah berbuat baik kepadamu."
Pokok Doa
- 1Bersyukur bahwa Allah mendengar suara dan permohonan kami
- 2Memohon agar kasih kami kepada Allah bertumbuh dari mengingat kebaikan-Nya
- 3Berdoa agar keluarga berseru kepada TUHAN dalam setiap kesesakan
- 4Mendoakan agar kami berjalan di hadapan TUHAN sepanjang hidup
Bahan Renungan
Bagaimana mengingat saat-saat Allah menjawab doa kita dapat menumbuhkan kasih kita kepada-Nya?