Kembali

Tuhan di Pihakku, Aku Tidak Takut

MazmurKeberanian karena Tuhan

Ayat Firman

Mazmur 118:1-6

Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Biarlah Israel berkata: "Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!" Biarlah kaum Harun berkata: "Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!" Biarlah orang yang takut akan TUHAN berkata: "Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!" Dalam kesesakan aku telah berseru kepada TUHAN. TUHAN telah menjawab aku dengan memberi kelegaan. TUHAN di pihakku, aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?

Konteks

Mazmur 118 adalah mazmur syukur yang merayakan pertolongan TUHAN dalam kesesakan. Pemazmur menyatakan keberanian yang tak tergoyahkan karena TUHAN ada di pihaknya.

Renungan

Mazmur 118 dibuka dengan paduan suara syukur yang berlapis — Israel, kaum Harun (para imam), dan semua yang takut akan TUHAN dipanggil mengulang refrein yang sama: "Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya." Pengulangan ini bukan kebosanan, melainkan penegasan bahwa kasih setia Allah adalah fondasi yang tak berubah, layak diakui oleh setiap golongan umat. Lalu pemazmur bersaksi tentang pengalaman pribadinya: "Dalam kesesakan aku telah berseru kepada TUHAN. TUHAN telah menjawab aku dengan memberi kelegaan." Dari pengalaman akan kesetiaan Allah itu lahirlah deklarasi keberanian yang masyhur: "TUHAN di pihakku, aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?"

Keberanian sejati dalam mazmur ini tidak berakar pada kekuatan diri, melainkan pada kehadiran dan keberpihakan Allah. "TUHAN di pihakku" — inilah dasar keberanian orang percaya. Penulis Ibrani mengutip ayat ini untuk menguatkan jemaat yang menderita: karena Tuhan adalah Penolong, kita tidak perlu takut pada manusia. Doktrin penyertaan Allah ini bersifat menguatkan sekaligus menyeimbangkan: keberanian kita bukan keangkuhan ("aku hebat"), melainkan keyakinan ("Tuhan besertaku"). Pertanyaan retoris "apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?" bukan menyangkal bahwa manusia bisa menyakiti tubuh, melainkan menyatakan bahwa di hadapan Allah yang berdaulat, ancaman manusia kehilangan kuasa akhirnya.

Kesalahan adalah mencari keberanian dari dalam diri — afirmasi diri, kekuatan mental, atau rasa percaya diri yang dibangun sendiri. Semua itu rapuh karena bergantung pada kondisi kita. Mazmur ini menawarkan dasar yang lebih kokoh: Allah di pihak kita. Kesalahan lain adalah mengira "Tuhan di pihakku" berarti kita boleh sembarangan; padahal keberpihakan Allah selalu bagi mereka yang takut akan Dia dan berseru kepada-Nya. Mazmur 118 ini berlanjut menjadi nubuat mesianik (ayat 22, batu yang dibuang) — keberpihakan Allah yang sempurna dinyatakan dalam Kristus, yang oleh-Nya Allah menjadi "untuk kita", sehingga siapakah yang akan melawan kita?

Dalam keluarga, ajar anak-anak menghadapi ketakutan — gelap, sekolah baru, ejekan teman — bukan dengan afirmasi kosong, melainkan dengan kebenaran "TUHAN di pihakku." Saat keluarga menghadapi tekanan dari luar, ulangi bersama refrein "kasih setia-Nya untuk selama-lamanya." Tunjukkan bahwa keberanian Kristen bukan kesombongan, melainkan keyakinan akan penyertaan Allah. Latih kebiasaan berseru kepada TUHAN lebih dahulu dalam kesesakan, lalu bersaksi tentang kelegaan yang Ia berikan.

Pokok Doa

  1. 1Bersyukur bahwa kasih setia TUHAN kekal selama-lamanya
  2. 2Memohon keberanian yang berakar pada penyertaan Allah, bukan kekuatan diri
  3. 3Berdoa agar keluarga tidak takut pada ancaman manusia karena Tuhan di pihak kami
  4. 4Mendoakan anggota keluarga yang sedang menghadapi ketakutan dan tekanan

Bahan Renungan

Apa bedanya keberanian yang berkata "aku kuat" dengan keberanian yang berkata "Tuhan di pihakku"?

Navigasi

BerandaArsipPenandaTentangMutiara
Beranda