Kembali

Batu yang Dibuang Tukang Bangunan

MazmurKristus Batu Penjuru yang Ditolak

Ayat Firman

Mazmur 118:14-17

TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku; Ia telah menjadi keselamatanku. Suara sorak-sorai dan kemenangan di kemah orang-orang benar: "Tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan, tangan kanan TUHAN berkuasa meninggikan, tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan!" Aku tidak akan mati, tetapi hidup, dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan TUHAN.

Konteks

Bagian ini dari Mazmur 118 merayakan kemenangan dan keselamatan dari TUHAN. Mazmur ini, terutama ayat tentang batu yang dibuang, dikutip oleh Yesus dan para rasul sebagai nubuat tentang diri-Nya.

Renungan

Pemazmur bersaksi dengan penuh kemenangan: "TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku; Ia telah menjadi keselamatanku." Ini menggemakan nyanyian Musa setelah penyeberangan Laut Teberau (Keluaran 15:2) — pengakuan bahwa keselamatan sepenuhnya dari Allah. Tiga kali diulang "tangan kanan TUHAN", menegaskan bahwa kemenangan ini bukan hasil kekuatan manusia, melainkan kuasa Allah. Lalu muncul deklarasi iman yang berani: "Aku tidak akan mati, tetapi hidup, dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan TUHAN." Tujuan hidup yang diluputkan dari maut bukanlah kenyamanan diri, melainkan kesaksian — menceritakan perbuatan TUHAN. Beberapa ayat kemudian (ayat 22), mazmur ini menyatakan: "Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru."

Mazmur 118 adalah salah satu nubuat mesianik yang paling sering dikutip dalam Perjanjian Baru. Yesus sendiri menerapkan ayat tentang batu yang dibuang kepada diri-Nya (Matius 21:42), dan Petrus memberitakannya dengan tegas (Kisah Para Rasul 4:11). Tukang bangunan — para pemimpin agama — menolak Yesus, namun Allah menjadikan-Nya batu penjuru, dasar bangunan keselamatan. Deklarasi "Aku tidak akan mati, tetapi hidup" menemukan penggenapan tertinggi dalam kebangkitan Kristus, yang oleh tangan kanan Allah dibangkitkan dari kematian. Kemenangan yang dirayakan pemazmur menjadi bayangan kemenangan Kristus atas maut.

Kesalahan adalah membaca mazmur ini hanya sebagai pengalaman pribadi pemazmur tanpa melihat dimensi nubuatnya. Seluruh Perjanjian Baru mengarahkan kita memandang Kristus di sini. Kesalahan lain adalah menjadikan keselamatan sebagai akhir dari segalanya — padahal pemazmur berkata hidupnya yang diluputkan dipakai untuk "menceritakan perbuatan-perbuatan TUHAN." Tujuan kita diselamatkan adalah untuk bersaksi. Penolakan terhadap Kristus sebagai batu penjuru tetap berlangsung hingga kini; dunia membuang-Nya, tetapi Allah meninggikan-Nya sebagai dasar satu-satunya keselamatan.

Dalam keluarga, ajar anak-anak bahwa Yesus adalah batu penjuru — dasar yang ditolak dunia namun menjadi fondasi hidup orang percaya. Bangun keluarga di atas Dia, bukan di atas hal-hal yang dianggap berharga oleh dunia. Tanamkan bahwa hidup yang diluputkan Allah dimaksudkan untuk bersaksi, bukan sekadar dinikmati sendiri. Saat keluarga ditolak atau diejek karena iman, ingatkan bahwa Batu Penjuru kita pun lebih dahulu ditolak. Latih anak-anak menceritakan perbuatan TUHAN dalam hidup mereka kepada orang lain.

Pokok Doa

  1. 1Bersyukur bahwa Kristus adalah batu penjuru, dasar keselamatan kami
  2. 2Memohon agar keluarga dibangun di atas Kristus, bukan nilai-nilai dunia
  3. 3Berdoa agar hidup kami dipakai untuk menceritakan perbuatan TUHAN
  4. 4Mendoakan agar kami setia meski ditolak dunia karena nama Kristus

Bahan Renungan

Mengapa dunia menolak Yesus, dan apa artinya menjadikan Dia "batu penjuru" hidup keluarga kita?

Navigasi

BerandaArsipPenandaTentangMutiara
Beranda