Jalan yang Tuhan Tunjukkan
Ayat Firman
Mazmur 86:11-17
“Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya TUHAN, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu; bulatkanlah hatiku untuk takut akan nama-Mu.”
Konteks
Bagian kedua Mazmur 86 beralih dari seruan pertolongan kepada kerinduan yang lebih dalam: bukan hanya ingin diselamatkan dari musuh, tetapi ingin dikenal oleh Allah dan mengenal jalan-Nya. Daud meminta agar hatinya "dibulatkan"—satu kata Ibrani yang menggambarkan hati yang tidak terpecah-belah, yang tidak berlari ke berbagai arah, tetapi terpusat pada satu nama.
Renungan
Permohonan Daud dalam ayat 11 adalah salah satu doa terdalam dalam seluruh Mazmur: "Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu." Ini bukan doa agar musuh dikalahkan atau kesesakan segera berakhir—ini adalah doa untuk mengenal Allah lebih dalam. Kata "jalan-Mu" (darkekha) dalam Alkitab Ibrani bukan sekadar petunjuk arah, melainkan cara hidup, karakter, dan pola tindakan Allah. Daud meminta agar hidupnya selaras dengan realitas tertinggi: siapa Allah itu sebenarnya. Ini adalah kerinduan yang jauh melampaui keselamatan dari bahaya; ini adalah kerinduan untuk persekutuan yang intim dengan Allah yang hidup.
Dalam tradisi Reformed, ada penekanan kuat pada pengenalan Allah (cognitio Dei) sebagai inti dari kehidupan Kristen. Calvin memulai Institutio-nya dengan pernyataan bahwa seluruh hikmat kita terdiri dari dua bagian: pengenalan akan Allah dan pengenalan akan diri kita sendiri. Daud dalam mazmur ini menggabungkan keduanya: ia memohon agar hatinya "dibulatkan"—sebuah pengakuan bahwa tanpa karya Tuhan, hati manusia selalu terpecah-belah antara banyak kasih dan loyalitas yang bersaing. Manusia, sejak kejatuhan, tidak memiliki kapasitas untuk mengarahkan dirinya kepada Allah secara konsisten. Itulah mengapa ini harus menjadi doa, bukan tekad.
Ada peringatan penting di sini terhadap semangat agama yang moralistis: memiliki hati yang takut akan Tuhan bukan sesuatu yang bisa kita latih melalui disiplin rohani semata. Tentu disiplin rohani penting, tetapi ia adalah respons terhadap anugerah, bukan jalan untuk mendapatkan anugerah. Daud tidak berkata, "Aku akan membulatkan hatiku sendiri." Ia berdoa, "Bulatkanlah hatiku." Ini adalah pengakuan ketergantungan yang total. Penyatuan hati adalah pekerjaan Roh Kudus—Dialah yang membawa persatuan batin kepada jiwa yang terpecah-belah oleh dosa, ketakutan, dan berbagai keinginan yang bertentangan.
Bagi orang percaya yang sedang berjuang dengan hati yang terbagi—yang ingin mengikuti Tuhan tetapi juga ingin menyenangkan dunia, yang takut akan Allah tetapi juga takut akan penilaian manusia—Mazmur 86:11 adalah alamat yang tepat. Bawalah keterbelahan itu kepada Tuhan. Akui bahwa kamu tidak mampu menyatukan hatimu sendiri. Mintalah Ia yang memulai pekerjaan baik dalam dirimu untuk menyelesaikannya (Flp 1:6). Dalam komunitas iman, mari kita saling mendorong untuk berdoa doa yang sedalam ini—bukan hanya memohon keadaan yang lebih baik, tetapi memohon hati yang lebih terpusat pada Allah.
Pokok Doa
- 1Mohon agar Tuhan menyatukan hatimu yang mungkin terpecah antara keinginan akan dunia dan kerinduan kepada Allah.
- 2Bersyukur bahwa pengenalan akan Allah bukan bergantung pada kecerdasan kita, melainkan pada penyataan diri-Nya yang penuh anugerah.
- 3Berdoa bagi gereja dan komunitas iman agar tidak puas hanya dengan pengajaran tentang Allah, tetapi sungguh-sungguh mengenal-Nya secara pribadi.
- 4Akui kepada Tuhan cara-cara spesifik di mana hatimu masih berlari ke arah yang berlawanan dengan kehendak-Nya, dan mohon kuasa Roh Kudus untuk membarui orientasimu.
Bahan Renungan
Apa artinya memiliki hati yang "dibulatkan" untuk takut akan Tuhan dalam konteks kehidupan sehari-harimu? Loyalitas apa saja yang saat ini bersaing dengan loyalitasmu kepada Allah?