Doa di Tepi Jurang
Ayat Firman
Mazmur 88:1-9
“Ya TUHAN, Allah yang menyelamatkan aku, siang dan malam aku berseru-seru ke hadapan-Mu. Biarlah doaku sampai ke hadapan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepada teriakku.”
Konteks
Mazmur 88 adalah mazmur paling gelap dalam seluruh Mazmur—satu-satunya yang tidak berakhir dengan catatan pengharapan yang jelas. Ditulis oleh Heman orang Ezrahi, mazmur ini menggambarkan seseorang yang berada di ambang kematian, merasa ditinggalkan oleh Allah, dijauhkan dari teman-temannya, dan terkubur dalam kegelapan. Namun satu hal yang terus ia lakukan: berseru kepada Allah.
Renungan
Mazmur 88 adalah teks yang membuat banyak pembaca tidak nyaman, justru karena terlalu jujur. Tidak ada resolusi yang menenangkan, tidak ada kalimat "tetapi aku akan memuji-Mu" di bagian akhir. Pemazmur hanya berakhir dengan kata "kegelapan" (ay. 19). Namun ini bukan tanda kegagalan iman—ini adalah kemenangan iman yang paling mentah. Mengapa? Karena di tengah kegelapan yang paling total itu, pemazmur tidak berhenti berbicara kepada Allah. Ia menyebut-Nya "Allah yang menyelamatkan aku" bahkan ketika ia belum melihat keselamatan itu. Ini adalah iman yang bukan berdasarkan pengalaman saat ini, melainkan berdasarkan identitas Allah yang ia ketahui.
Teologi Reformed tidak malu mengakui bahwa kehidupan orang percaya tidak selalu menapaki jalan yang menanjak menuju sukacita. John Calvin sendiri mengalami tahun-tahun pengasingan yang pahit. Martin Luther menjalani masa-masa anfechtung—serangan spiritual yang membuatnya merasa terputus dari Allah. John Owen menulis dengan mendalam tentang "pergumulan jiwa." Tradisi ini tidak menjanjikan bahwa iman yang benar selalu menghasilkan rasa damai yang menetap. Yang ia janjikan adalah bahwa Allah setia kepada orang-orang yang terus berseru kepada-Nya, bahkan dari dalam kegelapan.
Bahaya moralisme dalam konteks penderitaan adalah asumsi bahwa "jika aku cukup beriman, aku tidak akan menderita seperti ini" atau "penderitaan ini pasti akibat dosaku." Ayub dan Mazmur 88 sama-sama membongkar asumsi itu. Penderitaan bisa menjadi bagian dari jalan yang Allah tetapkan untuk membentuk, memurnikan, dan mendalamkan iman seseorang. Kristus sendiri—yang tanpa dosa—berseru dari salib, "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" Pemazmur 88 sedang berdiri di bayangan Getsemani—sendirian, gelap, tetapi tetap berbicara kepada Bapa.
Bagi orang percaya yang sedang dalam "musim kegelapan" rohani—ketika doa terasa mantul dari langit-langit, ketika kehadiran Allah terasa absen, ketika komunitas tampaknya tidak mengerti—Mazmur 88 adalah izin ilahi untuk jujur dalam doa. Kamu tidak harus berpura-pura baik-baik saja. Kamu tidak harus menyelipkan kalimat pengharapan jika pengharapan itu belum kamu rasakan. Yang penting adalah kamu terus berbicara kepada Allah. Selama ada seruan, ada hubungan. Selama ada hubungan, ada harapan—meski belum terasa.
Pokok Doa
- 1Berdoa bagi semua yang saat ini berada dalam "kegelapan" rohani—depresi, kesedihan yang mendalam, atau perasaan ditinggalkan Allah—agar mereka menemukan kekuatan untuk terus berseru.
- 2Bersyukur bahwa Alkitab tidak menyensor penderitaan, tetapi menyediakan tempat bagi kejujuran total di hadapan Allah.
- 3Mohon kepada Tuhan untuk melatihmu menjadi teman yang dapat menemani seseorang dalam kegelapannya tanpa terburu-buru memberikan jawaban.
- 4Akui kepada Tuhan momen-momen di mana kamu telah menghakimi orang lain yang menderita, dan mohon hati yang penuh belas kasihan.
Bahan Renungan
Pernahkah kamu mengalami musim di mana doa terasa tidak dijawab dan Allah terasa jauh? Bagaimana pengalaman itu membentuk atau menguji imanmu? Apa yang membantumu tetap berseru kepada-Nya?