Kembali

Allah Pembalas yang Adil

MazmurKeadilan Allah dan Kemarahan yang Kudus

Ayat Firman

Mazmur 94:1-7

Ya Allah pembalas, ya TUHAN, ya Allah pembalas, tampillah dengan bersinar! Bangkitlah, hai Hakim bumi, balaskanlah kepada orang-orang sombong setimpal dengan perbuatan mereka!

Konteks

Mazmur 94 adalah mazmur yang jarang disukai dalam konteks kekristenan modern karena berisi seruan pembalasan yang lantang. Penulisnya tidak disebutkan. Ia menyaksikan kejahatan yang nyata—orang sombong yang menindas yang lemah, janda, orang asing, dan anak yatim—dan ia berseru kepada Allah sebagai Hakim yang adil. Ini bukan seruan dendam pribadi, melainkan seruan untuk keadilan yang benar.

Renungan

Seruan pembuka Mazmur 94—"ya Allah pembalas, tampillah dengan bersinar!"—terdengar keras dan tidak nyaman bagi telinga yang terbiasa dengan doa-doa yang halus. Namun ini adalah salah satu tanda bahwa Alkitab tidak ditulis untuk membuat kita merasa nyaman, melainkan untuk membentuk kita menjadi manusia yang melihat realitas dengan jujur. Kata "pembalas" (naqam) bukan gambaran Allah yang pemarah dan membalas dendam secara emosional. Ini adalah gambaran Allah sebagai Hakim agung yang menegakkan keadilan yang telah dilanggar—yang tidak membiarkan kejahatan berjalan terus tanpa konsekuensi.

Dari sudut pandang teologi Reformed, kemarahan Allah (wrath of God) adalah salah satu atribut ilahi yang paling sering disalahpahami dan paling sering diabaikan. Karl Barth, dan sebelumnya Calvin dan Luther, menegaskan bahwa kemarahan Allah bukan kelemahan atau hilangnya kendali—itu adalah reaksi yang sempurna dari kekudusan Allah terhadap segala sesuatu yang bertentangan dengan kebaikan dan kebenaran-Nya. Allah yang tidak marah terhadap kejahatan bukanlah Allah yang penuh kasih; Ia adalah Allah yang acuh tak acuh. Justru karena Allah mengasihi keadilan dan kebenaran, Ia marah terhadap penindasan. Kemarahan-Nya adalah ekspresi kasih-Nya.

Ayat 7 mengungkapkan akar dari semua penindasan: "Mereka berkata: TUHAN tidak melihat, Allah Yakub tidak memperhatikan." Penindasan selalu dibangun di atas kebohongan teologis: keyakinan bahwa tidak ada yang mengawasi, tidak ada yang peduli, tidak ada yang akan meminta pertanggungjawaban. Inilah mengapa proklamasi bahwa "Allah melihat" adalah tindakan pembebasan yang radikal bagi yang tertindas, dan tindakan yang menggoyahkan bagi yang menindas. Kebenaran bahwa tidak ada yang luput dari pandangan Allah adalah dasar dari seluruh etika alkitabiah.

Bagi komunitas iman hari ini, mazmur ini memanggil kita kepada dua hal sekaligus. Pertama: kepercayaan bahwa ketidakadilan yang kita saksikan dan alami tidak diabaikan Allah. Ia adalah Hakim bumi yang akan bertindak. Ini bukan alasan untuk bersikap pasif, tetapi sumber penghiburan yang membuat kita tidak putus asa. Kedua: keterlibatan aktif dalam menegakkan keadilan—karena kita melayani Hakim yang adil, kita dipanggil untuk menjadi alat keadilan-Nya di dunia ini. Menyerukan keadilan bagi yang tertindas bukan aktivisme politik yang terpisah dari iman; itu adalah ekspresi pengenalan yang benar akan siapa Allah itu.

Pokok Doa

  1. 1Bersyukur bahwa Allah adalah Hakim yang adil—bahwa tidak ada kejahatan yang benar-benar lolos dari pengadilan-Nya, baik di masa kini maupun di hari kiamat.
  2. 2Berdoa bagi mereka yang saat ini ditindas—yang lemah, yang suaranya tidak didengar, yang hak-haknya dirampas—bahwa keadilan Allah menjangkau mereka.
  3. 3Mohon anugerah untuk tidak membalas sendiri ketika diperlakukan tidak adil, melainkan mempercayakan pembalasan kepada Hakim yang benar (Rm 12:19).
  4. 4Akui kepada Tuhan cara-cara di mana kita sendiri mungkin telah ikut dalam ketidakadilan—baik secara langsung maupun melalui diam dan tidak berbuat apa-apa.

Bahan Renungan

Bagaimana kepercayaan bahwa "Allah melihat" semua ketidakadilan yang terjadi mengubah cara kamu merespons ketidakadilan yang kamu saksikan—apakah itu membuatmu lebih pasif (karena Allah akan bertindak) atau lebih aktif (karena kamu melayani Allah yang peduli)?

Navigasi

BerandaArsipPenandaTentangMutiara
Beranda