Kembali

Berbahagialah Orang yang Tuhan Didik

MazmurDidikan Allah dan Penghiburan-Nya

Ayat Firman

Mazmur 94:12-19

Berbahagialah orang yang Kaudidik, ya TUHAN, yang Kauajari hukum-Mu, untuk memberi ketenangan kepadanya pada hari-hari malapetaka.

Konteks

Setelah seruan keadilan di bagian pertama, Mazmur 94 bergerak menuju penghiburan yang mendalam bagi orang percaya yang menderita. Ayat 12-19 menyatakan sesuatu yang paradoksal: mereka yang mengalami "didikan" Tuhan—yang melalui penderitaan dan kesulitan diajar oleh firman-Nya—justru adalah orang yang berbahagia. Didikan bukan hukuman; didikan adalah tanda kasih Allah yang aktif.

Renungan

Kalimat pembuka bagian ini adalah paradoks yang paling indah dalam seluruh mazmur: "Berbahagialah orang yang Kaudidik, ya TUHAN." Kata "didik" (yasar) dalam Ibrani mencakup arti mendidik, melatih, mengoreksi—kadang melalui pengalaman yang menyakitkan. Ini adalah kata yang dipakai dalam Amsal 3:11-12 dan dikutip oleh penulis Ibrani 12:5-11 untuk menggambarkan disiplin kasih Allah. Paradoks ini sangat mengejutkan dunia yang selalu mengidentikkan kebahagiaan dengan kenyamanan: menurut Alkitab, justru orang yang mengalami koreksi dan pembentukan Allah-lah yang sedang berada di jalan menuju kebahagiaan sejati.

Doktrin Reformed tentang sanctification (pengudusan) sangat relevan di sini. Pengudusan adalah proses panjang di mana Allah membentuk umat-Nya menjadi semakin serupa dengan Kristus. Proses ini tidak selalu nyaman—Ia menggunakan kesulitan, kegagalan, konfrontasi dosa, dan pergumulan untuk membentuk karakter. John Owen dalam "The Mortification of Sin" menulis dengan sangat jelas bahwa tidak ada cara untuk berkembang dalam kekudusan tanpa bergulat dengan dosa secara serius dan tanpa mengalami ketidaknyamanan dari proses itu. Penderitaan yang disambut dengan iman bukan sesuatu yang sia-sia—ia adalah workshop Allah.

Ayat 14-15 memberikan jaminan yang sangat kuat: "Sebab TUHAN tidak akan membuang umat-Nya." Ini adalah dasar penghiburan yang tidak bergantung pada keadaan. Orang percaya bisa menjalani didikan Allah yang menyakitkan dengan kepala tegak bukan karena ia menikmati sakitnya, tetapi karena ia tahu bahwa Dia yang mendidik tidak pernah melepaskan tangan-Nya. Didikan Allah bukan tanda penolakan—itu justru tanda adopsi (Ibr 12:8). Hanya anak-anak-Nya yang Ia didik dengan serius. Orang yang tidak mengalami didikan Allah seharusnya lebih khawatir daripada orang yang sedang melalui musim pembentukan yang berat.

Ayat 19 memberikan aplikasi yang sangat praktis: "Apabila banyak pikiran datang memenuhi dadaku, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku." Di sini kita melihat bahwa jalan dari kecemasan menuju ketenangan bukan melalui hilangnya masalah, tetapi melalui "penghiburan Allah" yang datang ketika kita membawa pikiran-pikiran kita kepada-Nya dalam doa dan firman. Penghiburan ilahi bukan perasaan yang kita ciptakan sendiri; ia adalah karya Roh Kudus yang disebut Penghibur (Yoh 14:16). Komunitas iman yang saling mengingatkan akan kebenaran firman di tengah pergumulan satu sama lain sedang menjadi saluran penghiburan Allah.

Pokok Doa

  1. 1Bersyukur atas musim-musim "didikan" yang telah Allah bawa dalam hidupmu—sebutkan satu yang paling membentuk karaktermu, meski pada saat itu terasa berat.
  2. 2Mohon agar kamu dapat menerima koreksi dan didikan Allah—baik melalui firman, sesama, maupun keadaan—dengan iman dan bukan dengan kepahitan.
  3. 3Berdoa bagi sesama yang sedang dalam musim didikan yang berat, agar mereka merasakan penghiburan Allah yang melampaui logika.
  4. 4Akui kepada Tuhan kecenderunganmu untuk menghindari ketidaknyamanan spiritual, dan mohon keberanian untuk tetap dalam proses pembentukan-Nya.

Bahan Renungan

Pikirkan satu "musim sulit" dalam hidupmu yang ternyata menjadi musim pertumbuhan terbesar. Apa yang Allah ajarkan kepadamu melaluinya—dan bagaimana pengalaman itu mengubah cara kamu memandang kesulitan yang ada sekarang?

Navigasi

BerandaArsipPenandaTentangMutiara
Beranda