Kembali

Biarlah Segala yang Bernafas Memuji TUHAN

MazmurPuncak Pujian Mazmur

Ayat Firman

Mazmur 150:1-6

Haleluya! Pujilah Allah dalam tempat kudus-Nya! Pujilah Dia dalam cakrawala-Nya yang kuat! Pujilah Dia karena segala keperkasaan-Nya, pujilah Dia sesuai dengan kebesaran-Nya yang hebat! Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi! Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian, pujilah Dia dengan permainan kecapi dan seruling! Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting, pujilah Dia dengan ceracap yang berdentang! Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!

Konteks

Mazmur 150 adalah puncak dan penutup seluruh kitab Mazmur. Mazmur ini menjawab di mana, mengapa, bagaimana, dan oleh siapa Allah harus dipuji. Akhirnya seruan dialamatkan kepada segala yang bernafas.

Renungan

Mazmur 150 adalah doksologi agung yang menutup seluruh Kitab Mazmur. Kata "pujilah" muncul tiga belas kali dalam enam ayat, menjadikan mazmur ini ledakan pujian yang tak tertahankan. Struktur mazmur ini menjawab pertanyaan-pertanyaan penting: Di mana Allah dipuji? Dalam tempat kudus-Nya dan dalam cakrawala-Nya — yaitu di bait suci dan di seluruh alam semesta. Mengapa Allah dipuji? Karena keperkasaan-Nya dan kebesaran-Nya yang hebat. Bagaimana Allah dipuji? Dengan segala jenis alat musik, dari sangkakala sampai ceracap. Oleh siapa? Oleh segala yang bernafas. Inilah klimaks dari seluruh perjalanan Mazmur yang dimulai dengan ratapan, pergumulan, dan ujung-ujungnya bermuara pada pujian murni.

Mengapa Allah layak dipuji "sesuai dengan kebesaran-Nya yang hebat"? Karena tidak ada ukuran pujian yang berlebihan bagi Allah. Manusia bisa dipuji secara berlebihan, tetapi Allah tidak pernah dapat dipuji terlalu banyak, sebab kebesaran-Nya tak terbatas. Doktrin tentang ketidakterbatasan Allah (infinitude) berarti bahwa pujian kita, sebesar apa pun, tidak pernah memadai. Inilah sebabnya pujian akan berlangsung kekal di sorga — bukan karena membosankan, melainkan karena kemuliaan Allah selalu menyingkapkan dimensi baru yang memukau. Setiap napas yang Allah berikan adalah karunia, dan karena itu setiap makhluk bernafas berutang pujian kepada-Nya.

Ada pemahaman dangkal yang menganggap pujian hanya soal aktivitas ibadah pada hari Minggu, lalu hidup berjalan tanpa pujian sepanjang minggu. Mazmur ini menolak pembatasan itu: "Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN." Selama kita bernafas, kita dipanggil memuji. Pujian bukan acara, melainkan napas kehidupan rohani. Selain itu, jangan menganggap pujian sebagai performa untuk dilihat orang. Pujian sejati naik kepada Allah, berpusat pada-Nya, dan mengalir dari hati yang mengenal kebesaran-Nya. Alat musik dalam mazmur ini hanyalah sarana; hati yang menyembahlah yang utama.

Dalam keluarga, jadikan pujian sebagai napas sehari-hari, bukan acara mingguan saja. Latih anak-anak mengucap syukur dan memuji Allah dalam hal-hal kecil: makanan di meja, kesehatan, hari yang baru. Manfaatkan beragam cara — menyanyi, bermain musik, bahkan menari bersama anak-anak kecil — untuk mengekspresikan pujian. Ingatlah bahwa setiap napas anak-anak kita adalah karunia Allah, dan ajarlah mereka mengembalikan napas itu dalam pujian. Tutuplah hari dengan satu kalimat pujian dari setiap anggota keluarga, sehingga rumah kalian bergema dengan "Haleluya" yang menjadi penutup hidup dan penutup Kitab Mazmur.

Pokok Doa

  1. 1Bersyukur atas kebesaran Allah yang tak terbatas dan layak dipuji selamanya
  2. 2Memohon agar setiap napas kami menjadi pujian bagi Allah
  3. 3Berdoa agar pujian menjadi cara hidup keluarga, bukan acara sesaat
  4. 4Mendoakan agar anak-anak belajar memuji Allah dalam hal besar dan kecil

Bahan Renungan

Bagaimana kita bisa menjadikan pujian kepada Allah sebagai bagian dari setiap hari, bukan hanya hari ibadah?

Navigasi

BerandaArsipPenandaTentangMutiara
Beranda