Kembali

Suara TUHAN yang Penuh Kemuliaan

MazmurKemuliaan dan Kekuatan Allah

Ayat Firman

Mazmur 29:1-4

Kepada TUHAN, hai penghuni sorgawi, kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan kekuatan! Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, sujudlah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan! Suara TUHAN di atas air, Allah yang mulia mengguntur, TUHAN di atas air yang besar. Suara TUHAN penuh kekuatan, suara TUHAN penuh semarak.

Konteks

Mazmur 29 memanggil para penghuni sorgawi untuk memberikan kemuliaan kepada TUHAN. Mazmur ini menggambarkan kuasa Allah melalui badai dahsyat, dengan suara-Nya yang mengguntur di atas air. Allah dinyatakan sebagai satu-satunya yang layak menerima kemuliaan dan kekuatan.

Renungan

Mazmur 29 dibuka dengan panggilan kepada "penghuni sorgawi" — kemungkinan para malaikat — untuk memberikan kemuliaan dan kekuatan kepada TUHAN. Frasa "berilah kepada TUHAN" bukan berarti kita menambah sesuatu pada Allah, melainkan mengakui dan menyatakan apa yang memang sudah menjadi milik-Nya. Pemazmur menyeru agar sujud "dengan berhiaskan kekudusan," menunjukkan bahwa penyembahan yang benar memerlukan kekudusan, bukan sekadar antusiasme. Lalu mazmur beralih kepada gambaran badai dahsyat: "Suara TUHAN di atas air, Allah yang mulia mengguntur." Suara TUHAN — bergema tujuh kali dalam mazmur ini — menggambarkan kuasa Allah yang menggetarkan alam, dari laut sampai pegunungan.

Gambaran badai ini menyatakan transendensi dan kemahakuasaan Allah. Suara Allah bukan sekadar metafora; firman-Nya adalah kuasa yang menciptakan dan menggoncangkan. Doktrin tentang kemuliaan Allah (kabod) terlihat di sini: kemuliaan adalah bobot keberadaan Allah yang menekan segala sesuatu untuk tunduk dan kagum. Allah tidak meminjam kekuatan dari mana pun; "kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan kekuatan." Konteks aslinya mungkin merupakan polemik melawan dewa Baal yang dianggap penguasa badai oleh bangsa Kanaan. Pemazmur menegaskan: bukan Baal, melainkan TUHAN yang menguasai guruh dan air bah. Inilah Allah yang berdaulat penuh atas seluruh kekuatan alam.

Kita kadang ingin Allah yang lembut dan nyaman, lalu tidak nyaman dengan gambaran Allah yang mengguntur dan menggoncangkan. Namun jika kita hanya menyukai sisi yang menenangkan dan menolak keagungan-Nya yang menggetarkan, kita sedang membentuk allah menurut selera kita sendiri. Allah yang benar adalah Allah yang kemuliaan-Nya membuat malaikat sekalipun sujud. Rasa takut yang kudus (the fear of the Lord) bukan ketakutan yang melumpuhkan, melainkan kekaguman yang menyembah. Justru karena Allah begitu besar dan berkuasa, maka perlindungan-Nya begitu kokoh, dan janji-janji-Nya begitu pasti.

Dalam keluarga, manfaatkan fenomena alam seperti hujan deras, guruh, atau angin kencang sebagai pengajaran. Ketika anak-anak takut pada badai, arahkan mereka kepada Allah yang menguasai badai itu — Dia yang lebih besar dari segala yang mereka takuti. Ajarkan bahwa menyembah Allah memerlukan rasa hormat dan kekudusan, bukan sikap sembarangan. Pada saat yang sama, hiburlah hati mereka bahwa Allah yang Mahakuasa ini adalah Bapa yang mengasihi. Tutuplah dengan ayat akhir Mazmur 29 yang sering terlupakan: "TUHAN memberkati umat-Nya dengan damai sejahtera." Allah yang mengguntur di atas air juga adalah Allah yang memberi damai bagi keluarga-Nya.

Pokok Doa

  1. 1Bersyukur atas kemuliaan dan kekuatan Allah yang tak tertandingi
  2. 2Memohon hati yang menyembah dengan rasa takut yang kudus
  3. 3Berdoa agar kami tidak membentuk Allah menurut selera sendiri
  4. 4Mendoakan agar keluarga kami merasa aman dalam kuasa Allah yang besar

Bahan Renungan

Bagaimana mengetahui bahwa Allah berkuasa atas badai menolong kita ketika takut?

Navigasi

BerandaArsipPenandaTentangMutiara
Beranda