Kekayaan yang Tak Dibawa Mati
Ayat Firman
Mazmur 49:16-20
“Tetapi Allah akan membebaskan nyawaku dari cengkeraman dunia orang mati, sebab Ia akan menarik aku. Janganlah takut, apabila seseorang menjadi kaya, apabila kemuliaan keluarganya bertambah, sebab pada waktu matinya semuanya itu tidak akan dibawanya serta, kemuliaannya tidak akan turun mengikuti dia. Sekalipun ia menganggap dirinya berbahagia selama hidupnya, dan orang menyanjungnya, karena ia berbuat baik terhadap dirinya sendiri, namun ia akan sampai kepada angkatan nenek moyangnya, yang tidak akan melihat terang untuk seterusnya. Manusia, yang ada dalam kemuliaan, tetapi tidak mempunyai pengertian, boleh disamakan dengan hewan yang dibinasakan.”
Konteks
Mazmur 49 adalah mazmur hikmat yang merenungkan kefanaan kekayaan manusia. Pemazmur menasihatkan agar kita tidak takut atau iri kepada orang kaya, sebab kematian menyamakan semua. Hanya Allah yang sanggup menebus nyawa dari kuasa maut.
Renungan
Mazmur 49 adalah mazmur hikmat yang membahas pertanyaan abadi: mengapa orang fasik bisa makmur, dan mengapa kita tidak perlu iri kepada mereka? Ayat 16 menjadi puncak harapan pemazmur: "Tetapi Allah akan membebaskan nyawaku dari cengkeraman dunia orang mati, sebab Ia akan menarik aku." Kata "menarik" mengandung pengharapan akan penebusan dari maut. Sebaliknya, orang kaya yang menyombongkan harta tidak dapat membawa apa pun saat mati; "kemuliaannya tidak akan turun mengikuti dia." Pemazmur menutup dengan peringatan tajam: manusia yang hidup dalam kemuliaan tetapi tanpa pengertian rohani, "boleh disamakan dengan hewan yang dibinasakan." Tanpa Allah, manusia tidak lebih dari binatang yang fana.
Di sini kita melihat doktrin penebusan dan harapan akan kehidupan kekal. Frasa "Allah akan menarik aku" menjadi sekilas pandang ke depan kepada kebangkitan dan persekutuan kekal dengan Allah. Yang menebus nyawa dari maut bukanlah harta — "tidak seorang pun dapat menebus dirinya" (ayat 8) — melainkan Allah sendiri secara cuma-cuma. Inilah anugerah: keselamatan tidak dapat dibeli dengan kekayaan sebanyak apa pun. Dalam Kristus, penebusan ini menjadi nyata; Dia membayar tebusan yang tak sanggup kita bayar. Kontras antara kefanaan harta dan kekekalan keselamatan menjadi pelajaran hikmat yang menentukan prioritas hidup kita.
Kita hidup di tengah budaya yang mengukur nilai seseorang dari harta dan pencapaian. Ada godaan untuk iri pada orang yang makmur, atau sebaliknya, menjadikan kekayaan sebagai tujuan hidup. Mazmur ini mengoreksi dua-duanya. Jangan iri, sebab harta tidak dibawa mati. Jangan pula menjadikan harta sebagai pengejaran utama, sebab "manusia yang ada dalam kemuliaan tetapi tidak mempunyai pengertian" tidak lebih dari hewan. Kekayaan bukan dosa, tetapi mengandalkan kekayaan sebagai sumber keamanan dan identitas adalah kebodohan rohani. Hanya hubungan dengan Allah yang memberi nilai kekal bagi hidup manusia.
Dalam keluarga, ini adalah pelajaran penting untuk membentuk nilai anak-anak di tengah dunia materialistis. Ajarkan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh apa yang dimilikinya. Tunjukkan dengan teladan bahwa keluarga kalian tidak mengejar harta sebagai tujuan utama, melainkan mengejar Allah. Ketika anak-anak iri pada teman yang punya lebih banyak, gunakan mazmur ini untuk mengajar bahwa harta itu fana. Latih kemurahan hati — memberi mengingatkan kita bahwa harta hanyalah titipan. Tanyakan bersama: untuk apa kita mengumpulkan harta yang tidak dapat kita bawa mati? Arahkan hati keluarga untuk mengumpulkan harta di sorga, yaitu hidup yang ditebus dan berkenan kepada Allah.
Pokok Doa
- 1Bersyukur karena Allah menebus nyawa kami dari kuasa maut melalui Kristus
- 2Memohon hikmat untuk tidak iri pada kemakmuran duniawi
- 3Berdoa agar keluarga kami tidak mengandalkan harta sebagai keamanan
- 4Mendoakan agar anak-anak menemukan nilai sejati dalam hubungan dengan Allah
Bahan Renungan
Mengapa kita tidak perlu iri kepada orang yang lebih kaya, dan apa harta yang sungguh kekal?