Pohon Zaitun di Rumah Allah
Ayat Firman
Mazmur 52:8-9
“Tetapi aku ini seperti pohon zaitun yang menghijau di dalam rumah Allah. Aku percaya akan kasih setia Allah untuk seterusnya dan selama-lamanya. Aku hendak bersyukur kepada-Mu selama-lamanya, sebab Engkaulah yang bertindak; karena nama-Mu baik, aku hendak memasyhurkannya di depan orang-orang yang Kaukasihi!”
Konteks
Mazmur 52 mengontraskan orang fasik yang dibinasakan dengan orang benar yang berakar dalam Allah. Daud menggambarkan dirinya seperti pohon zaitun yang menghijau di rumah Allah. Hidupnya berakar pada kasih setia Allah yang kekal.
Renungan
Mazmur 52 ditulis Daud berhadapan dengan Doeg orang Edom yang menggunakan lidahnya untuk kejahatan dan mengandalkan kekayaannya. Sebagian besar mazmur ini mengecam orang fasik yang akan dicabut Allah dari negeri orang hidup. Namun ayat 8-9 menghadirkan kontras yang indah: "Tetapi aku ini seperti pohon zaitun yang menghijau di dalam rumah Allah." Pohon zaitun adalah simbol kelangsungan, kesuburan, dan berkat. Berbeda dengan orang fasik yang akan dicabut, Daud menggambarkan dirinya tertanam kokoh di rumah Allah. Dasar keyakinannya jelas: "Aku percaya akan kasih setia Allah untuk seterusnya dan selama-lamanya." Hidupnya berakar bukan pada kekuatan sendiri, melainkan pada kasih setia (hesed) Allah yang tidak berkesudahan.
Kata "kasih setia" (hesed) adalah salah satu kata terindah dalam Perjanjian Lama, menunjuk kepada kasih perjanjian Allah yang setia dan tak tergoyahkan. Daud mempercayai kasih setia ini "untuk seterusnya dan selama-lamanya" — sebuah kepercayaan akan kesetiaan Allah yang melampaui keadaan sesaat. Doktrin tentang ketekunan orang kudus (perseverance of the saints) berakar di sini: orang percaya bertahan bukan karena kekuatan iman mereka sendiri, melainkan karena kasih setia Allah yang memegang mereka. Pohon zaitun menghijau bukan karena usahanya sendiri, melainkan karena ditanam di tempat yang tepat — di rumah Allah, dekat dengan sumber kehidupan. Demikian pula orang benar berbuah karena tinggal dekat dengan Allah.
Kita sering mengukur ketahanan rohani dari kekuatan tekad atau perasaan kita. Mazmur ini mengoreksi: yang membuat kita bertahan bukanlah kehijauan kita, melainkan kasih setia Allah yang menjadi tempat kita berakar. Orang fasik mungkin tampak kuat dan makmur sesaat, tetapi mereka seperti tanaman tanpa akar yang akan dicabut. Sebaliknya, orang yang berakar dalam Allah akan tetap menghijau bahkan di musim sulit. Jangan tertipu oleh kemakmuran orang fasik atau merasa lemah karena pergumulan; yang menentukan adalah di mana kita berakar. Respon yang tepat dari orang yang berakar dalam Allah adalah pujian dan kesaksian: "aku hendak memasyhurkannya."
Dalam keluarga, gambaran pohon zaitun ini sangat menolong untuk mengajar tentang pertumbuhan rohani. Tanaman menghijau karena akarnya menyerap air dan makanan; demikian keluarga bertumbuh dengan tinggal dekat pada Allah melalui firman dan doa. Ajak anak-anak menanam tanaman dan mengamati bagaimana ia perlu air dan tanah yang baik — lalu jelaskan bahwa jiwa kita pun perlu berakar dalam Allah. Tanamkan kepercayaan pada kasih setia Allah yang tidak berubah, sehingga ketika keluarga menghadapi kesulitan, mereka tahu di mana berakar. Latih kebiasaan bersyukur dan bersaksi tentang kebaikan Allah, sebab itulah buah dari hidup yang berakar dalam kasih setia-Nya.
Pokok Doa
- 1Bersyukur atas kasih setia Allah yang kekal dan tak berkesudahan
- 2Memohon agar keluarga kami berakar kokoh di dalam Allah
- 3Berdoa agar kami tetap menghijau bahkan di musim yang sulit
- 4Mendoakan agar hidup kami menjadi kesaksian akan kebaikan Allah
Bahan Renungan
Apa yang menolong kita tetap "menghijau" secara rohani ketika menghadapi kesulitan?