Kembali

Ketika Aku Takut, Aku Percaya kepada-Mu

MazmurIman yang Mengalahkan Ketakutan

Ayat Firman

Mazmur 56:3-4

Apabila aku takut, aku ini percaya kepada-Mu; kepada Allah, yang firman-Nya kupuji, kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?

Konteks

Mazmur 56 ditulis Daud ketika ia ditangkap orang Filistin di Gat. Di tengah ketakutan yang nyata, Daud memilih untuk percaya kepada Allah. Imannya bukan menyangkal rasa takut, melainkan membawanya kepada Allah.

Renungan

Mazmur 56 lahir dari situasi genting: Daud ditangkap orang Filistin di Gat, dikelilingi musuh yang ingin menelannya. Pemazmur dengan jujur mengakui "Apabila aku takut" — ia tidak berpura-pura tidak takut. Ini penting: iman tidak meniadakan perasaan takut, melainkan menentukan apa yang kita lakukan dengan rasa takut itu. Respon Daud adalah "aku ini percaya kepada-Mu." Ada gerakan dari takut kepada percaya, dari fokus pada ancaman kepada fokus pada Allah. Ayat 4 mengulang penegasan iman: "kepada Allah aku percaya, aku tidak takut." Lalu muncul pertanyaan retoris yang penuh keyakinan: "Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?" Bukan karena musuh tidak berbahaya, melainkan karena Allah lebih besar dari segala ancaman manusia.

Perhatikan dasar iman Daud: "kepada Allah, yang firman-Nya kupuji." Imannya berakar pada firman Allah. Bukan iman yang kosong atau optimisme buta, melainkan kepercayaan yang berlandaskan pada apa yang Allah katakan. Doktrin tentang pemeliharaan Allah (providence) menjadi penopang di sini: Allah berdaulat atas segala yang terjadi, termasuk atas musuh-musuh kita. Manusia hanya dapat berbuat sebatas yang diizinkan Allah. Inilah penghiburan besar bagi orang percaya — tidak ada ancaman yang lepas dari kendali Allah. Penulis Ibrani mengutip semangat mazmur ini: "Tuhan adalah Penolongku, aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?"

Ada pemahaman dangkal yang menganggap orang beriman seharusnya tidak pernah merasa takut, sehingga ketika takut datang, mereka merasa imannya gagal. Mazmur ini mengoreksi: rasa takut itu manusiawi dan wajar. Yang membedakan orang beriman bukanlah ketiadaan rasa takut, melainkan ke mana mereka membawa ketakutan itu. Daud membawa takutnya kepada Allah dan mengubahnya menjadi kepercayaan. Iman bukan penyangkalan realitas, melainkan penyandaran pada realitas yang lebih besar, yaitu Allah yang berdaulat. Mengakui rasa takut di hadapan Allah justru adalah langkah pertama menuju iman yang menang.

Dalam keluarga, ini adalah pelajaran berharga, terutama bagi anak-anak yang sering merasa takut — takut gelap, takut sendirian, takut hal-hal baru. Ajarkan mereka kalimat sederhana ini: "Ketika aku takut, aku percaya kepada-Mu." Jangan meremehkan ketakutan anak atau menyuruh mereka sekadar "jangan takut," melainkan tuntun mereka membawa rasa takut itu kepada Allah. Hafalkan ayat ini bersama sebagai senjata melawan ketakutan. Sebagai orangtua, akui pula bahwa kalian pun kadang takut, lalu tunjukkan bagaimana kalian membawanya kepada Allah dalam doa. Dengan demikian anak-anak belajar bahwa iman bukan tentang menjadi tak kenal takut, melainkan tentang mengenal Allah yang lebih besar dari segala ketakutan kita.

Pokok Doa

  1. 1Bersyukur karena Allah lebih besar dari segala yang kami takuti
  2. 2Memohon iman untuk membawa setiap ketakutan kepada Allah
  3. 3Berdoa agar firman Allah menjadi dasar kepercayaan kami
  4. 4Mendoakan anak-anak agar belajar percaya saat mereka takut

Bahan Renungan

Apa yang biasanya membuatmu takut, dan bagaimana kamu bisa membawa rasa takut itu kepada Allah?

Navigasi

BerandaArsipPenandaTentangMutiara
Beranda