Kembali

Hatiku Teguh, Aku Mau Bermazmur

MazmurHati yang Teguh dalam Pujian

Ayat Firman

Mazmur 57:7-11

Hatiku siap, ya Allah, hatiku siap; aku mau menyanyi, aku mau bermazmur. Bangunlah, hai jiwaku, bangunlah, hai gambus dan kecapi, aku mau membangunkan fajar! Aku mau bersyukur kepada-Mu di antara bangsa-bangsa, ya Tuhan, aku mau bermazmur bagi-Mu di antara suku-suku bangsa. Sebab kasih setia-Mu besar sampai ke langit, dan kebenaran-Mu sampai ke awan-awan. Tinggikanlah diri-Mu mengatasi langit, ya Allah! Biarlah kemuliaan-Mu mengatasi seluruh bumi!

Konteks

Mazmur 57 ditulis Daud saat melarikan diri dari Saul di dalam gua. Meski dalam bahaya, hatinya teguh untuk memuji Allah. Pujiannya meluap hingga ingin membangunkan fajar dan bersaksi di antara bangsa-bangsa.

Renungan

Mazmur 57 ditulis Daud ketika ia bersembunyi dari Saul di dalam gua — situasi gelap dan terancam. Namun bagian penutup ini, ayat 7-11, memancarkan ketenangan dan sukacita yang menakjubkan. "Hatiku siap, ya Allah, hatiku siap" — pengulangan ini menekankan keteguhan hati yang tak tergoyahkan. Hati yang siap adalah hati yang mantap, tidak terombang-ambing oleh keadaan. Dari hati yang teguh ini mengalir tekad untuk memuji: "aku mau menyanyi, aku mau bermazmur." Daud bahkan ingin "membangunkan fajar," seolah pujiannya tidak sabar menunggu pagi tiba. Semangat misionernya pun muncul: "aku mau bersyukur kepada-Mu di antara bangsa-bangsa." Pujian Daud tidak terbatas pada lingkup pribadi, melainkan ingin menyebar ke seluruh bangsa.

Dasar pujian ini adalah kasih setia dan kebenaran Allah yang "besar sampai ke langit." Ayat 5 dan 11 membingkai bagian ini dengan refrein yang sama: "Tinggikanlah diri-Mu mengatasi langit, ya Allah!" Inilah inti penyembahan sejati — kerinduan agar kemuliaan Allah ditinggikan di atas segalanya. Doktrin tentang kemuliaan Allah sebagai tujuan akhir (soli Deo gloria) terlihat jelas: kerinduan tertinggi orang percaya bukanlah kelepasan dari kesulitan, melainkan agar nama Allah dimuliakan. Daud yang sedang dalam gua justru lebih peduli pada peninggian Allah daripada keselamatan dirinya. Inilah hati yang berpusat pada Allah, bukan pada diri.

Kita sering menjadikan pujian sebagai sesuatu yang bergantung pada keadaan: kita memuji ketika senang, dan berhenti memuji ketika susah. Mazmur ini mengoreksi: Daud memuji justru di dalam gua, di tengah ancaman maut. Pujian sejati lahir dari hati yang teguh pada Allah, bukan dari keadaan yang menyenangkan. Selain itu, ada anggapan bahwa pujian adalah urusan pribadi semata. Daud menunjukkan dimensi misioner — ia ingin bersaksi di antara bangsa-bangsa. Pujian yang sejati tidak dapat disimpan untuk diri sendiri; ia meluap menjadi kesaksian. Keteguhan hati dan semangat bersaksi adalah dua sisi dari penyembahan yang sehat.

Dalam keluarga, ajarkan anak-anak bahwa kita bisa memuji Allah dalam segala keadaan, bahkan di "gua" kesulitan kita. Tanamkan keteguhan hati yang tidak bergantung pada suasana hati semata. Mulailah hari dengan pujian — seperti Daud yang ingin "membangunkan fajar" — agar keluarga menyongsong hari dengan hati yang berpusat pada Allah. Ajarkan pula bahwa pujian kita memiliki dimensi kesaksian; kebaikan Allah yang kita alami patut diceritakan kepada orang lain. Latih anak-anak menceritakan satu hal baik yang Allah lakukan kepada teman atau kerabat. Tutuplah dengan doa agar kemuliaan Allah ditinggikan, bukan hanya kenyamanan keluarga yang dikejar, sebab itulah hati Daud di dalam gua.

Pokok Doa

  1. 1Bersyukur atas kasih setia Allah yang besar sampai ke langit
  2. 2Memohon hati yang teguh untuk memuji dalam segala keadaan
  3. 3Berdoa agar kemuliaan Allah ditinggikan di atas segalanya
  4. 4Mendoakan keberanian untuk bersaksi tentang kebaikan Allah

Bahan Renungan

Bagaimana kita bisa memuji Allah bahkan ketika berada dalam "gua" kesulitan?

Navigasi

BerandaArsipPenandaTentangMutiara
Beranda