Kembali

Bapa bagi Yatim Piatu dan Janda

MazmurKasih Allah bagi yang Lemah

Ayat Firman

Mazmur 68:4-6

Bernyanyilah bagi Allah, mazmurkanlah nama-Nya, buatlah jalan bagi Dia yang berkendaraan melintasi awan-awan! Nama-Nya ialah TUHAN; beria-rialah di hadapan-Nya! Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda, itulah Allah di kediaman-Nya yang kudus; Allah memberi tempat tinggal kepada orang-orang sebatang kara, Ia mengeluarkan orang-orang tahanan, sehingga mereka bahagia.

Konteks

Mazmur 68 memuji Allah yang perkasa namun penuh belas kasihan. Allah yang berkendaraan melintasi awan adalah Bapa bagi anak yatim dan pelindung para janda. Ia memberi tempat bagi yang sebatang kara dan membebaskan tahanan.

Renungan

Mazmur 68 adalah nyanyian kemenangan yang menggambarkan Allah berarak maju dengan perkasa. Ayat 4 memanggil umat untuk bernyanyi dan menyiapkan jalan bagi Allah "yang berkendaraan melintasi awan-awan" — gambaran keagungan dan kuasa Allah yang mengatasi segala sesuatu. Namun, justru di tengah gambaran kebesaran ini, mazmur beralih kepada belas kasihan Allah: "Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda." Inilah kontras yang menakjubkan. Allah yang mahatinggi, yang melintasi awan-awan, ternyata menaruh perhatian khusus kepada yang paling lemah dan terabaikan dalam masyarakat — anak yatim, janda, orang sebatang kara, dan tahanan. Keagungan Allah tidak membuat-Nya jauh dari yang menderita; justru kebesaran-Nya dinyatakan dalam kepedulian-Nya kepada yang kecil.

Di sini kita melihat karakter Allah yang lengkap: transenden sekaligus penuh belas kasihan. Doktrin tentang sifat Allah mengajarkan bahwa keagungan dan kelembutan-Nya tidak bertentangan, melainkan menyatu sempurna. Allah disebut "Bapa bagi anak yatim" — Dia mengambil peran orangtua bagi yang kehilangan orangtua. "Pelindung bagi para janda" — Dia membela yang tidak punya pembela. "Memberi tempat tinggal kepada orang-orang sebatang kara" — Dia menempatkan yang kesepian dalam keluarga. Inilah hati Allah yang dinyatakan sepenuhnya dalam Kristus, yang datang kepada yang miskin, sakit, dan terbuang. Allah memihak yang lemah bukan karena mereka lebih berjasa, melainkan karena kasih karunia-Nya yang berdaulat.

Kita kadang membayangkan Allah hanya tertarik pada yang kuat, sukses, dan berpengaruh. Mazmur ini mengoreksi dengan tegas: Allah adalah Bapa bagi yang yatim dan Pelindung bagi yang lemah. Selain itu, ada pemahaman dangkal yang memisahkan ibadah dari kepedulian sosial, seolah memuji Allah cukup tanpa peduli pada sesama yang menderita. Tetapi karakter Allah yang peduli pada yang lemah seharusnya membentuk umat-Nya menjadi peduli juga. Menyembah Allah yang adalah Bapa anak yatim, sambil mengabaikan anak yatim di sekitar kita, adalah ketidakkonsistenan rohani yang serius. Kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama tidak terpisahkan.

Dalam keluarga, ajarkan anak-anak bahwa Allah sangat peduli pada yang lemah dan terabaikan. Tunjukkan bahwa kebesaran Allah justru terlihat dalam kelembutan-Nya kepada yang kecil. Ini menghibur anak-anak yang merasa kecil atau terabaikan: Allah memperhatikan mereka secara khusus. Pada saat yang sama, didiklah keluarga untuk meniru hati Allah — peduli pada teman yang kesepian, membantu yang membutuhkan, mengunjungi yang sakit atau sendirian. Pertimbangkan untuk bersama-sama melayani anak yatim, janda, atau orang yang membutuhkan di sekitar kalian. Dengan demikian keluarga tidak hanya menyembah Allah dengan kata-kata, tetapi juga mencerminkan karakter-Nya yang penuh belas kasihan kepada yang lemah.

Pokok Doa

  1. 1Bersyukur karena Allah yang mahatinggi peduli pada yang lemah
  2. 2Memohon hati yang mencerminkan belas kasihan Allah kepada sesama
  3. 3Berdoa bagi anak yatim, janda, dan orang yang sebatang kara
  4. 4Mendoakan agar keluarga kami menjadi alat kepedulian Allah

Bahan Renungan

Siapa di sekitar kita yang lemah atau kesepian, dan bagaimana keluarga kita bisa menjadi tangan Allah bagi mereka?

Navigasi

BerandaArsipPenandaTentangMutiara
Beranda